📑 Daftar Isi

GSMA: Ekonomi Seluler Asia Pasifik Capai US$1,4 Triliun pada 2030

GSMA: Ekonomi Seluler Asia Pasifik Capai US$1,4 Triliun pada 2030

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Industri seluler diproyeksikan berkontribusi sebesar US$1,4 triliun bagi perekonomian Asia Pasifik pada tahun 2030, meningkat 40% dari US$1 triliun yang dihasilkan saat ini. Proyeksi tersebut termuat dalam laporan terbaru GSMA, Mobile Economy Asia Pacific 2026, yang dirilis hari ini di Kuala Lumpur menjelang perhelatan M360 ASEAN 2026 bulan depan.

Laporan tersebut menemukan bahwa fase pertumbuhan digital berikutnya tidak hanya dibentuk oleh konektivitas semata, tetapi juga oleh cara pemerintah, operator, dan penyedia teknologi merespons empat prioritas yang saling berkaitan: pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), menurunnya tingkat kepercayaan digital, tingginya permintaan akan infrastruktur digital yang lebih tangguh, serta minat yang kian besar terhadap kedaulatan digital.

Temuan ini hadir di tengah upaya pemerintah di berbagai belahan Asia Pasifik dalam mengatasi peningkatan penipuan online, melonjaknya permintaan infrastruktur AI, ketidakpastian geopolitik yang semakin intensif, dan ekspektasi yang terus meningkat terhadap kedaulatan digital. Laporan ini mengidentifikasi berbagai tantangan tersebut – beserta peluang yang diciptakannya – sebagai tema utama diskusi dalam M360 ASEAN pada bulan September mendatang.

Empat Prioritas yang Membentuk Wajah Baru Industri Seluler

Laporan tersebut menemukan bahwa 5G, AI, dan IoT akan menghadirkan peningkatan produktivitas yang signifikan di kawasan Asia Pasifik, terutama di sektor manufaktur dan jasa yang secara bersama-sama diperkirakan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi dari teknologi seluler canggih. Operator seluler semakin memperluas peran mereka dari sekadar penyedia konektivitas menjadi penyedia infrastruktur AI, layanan cloud, dan solusi korporat yang mendukung inovasi di seluruh lini ekonomi.

Julian Gorman, Head of Asia Pacific, GSMA berkata: “Industri seluler memainkan peran yang semakin krusial dalam membentuk masa depan digital Asia Pasifik. Sebagaimana ditunjukkan dalam laporan ini, perekonomian dan masyarakat di seluruh kawasan mengalami digitalisasi yang pesat, di mana jaringan seluler bertindak sebagai fondasi bagi adopsi AI, kepercayaan digital, dan infrastruktur digital yang tangguh. Seiring dengan penekanan pemerintah pada kedaulatan digital dan harapan masyarakat akan perlindungan yang lebih kuat dari penipuan (scam, fraud) serta ancaman siber, tanggung jawab yang diemban oleh industri kita terus bertambah. M360 ASEAN mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan inovator untuk mengatasi berbagai tantangan ini, memperkuat kepercayaan, serta memastikan bahwa transformasi digital memberikan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang bagi semua pihak.”

Kepercayaan Digital Menjadi Keharusan Ekonomi

Seiring dengan semakin mendarah dagingnya layanan digital dalam kehidupan sehari-hari, upaya menjaga kepercayaan pada ekosistem digital menjadi kian penting. Laporan ini mencatat bahwa persentase konsumen di ASEAN yang melaporkan diri mereka pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31% pada tahun 2024 menjadi 45% pada tahun 2025, yang menggarisbawahi urgensi tinggi dalam mengatasi penipuan serta memperkuat keamanan online. Operator menanggapinya dengan berinvestasi pada bidang keamanan, pencegahan penipuan, serta kolaborasi lintas sektor untuk melindungi konsumen dan bisnis.

Kedaulatan Digital Semakin Penting

Laporan ini menyoroti minat yang terus tumbuh terhadap kedaulatan digital, seiring upaya pemerintah di Asia Pasifik untuk memperkuat kapabilitas digital nasional, mendukung pengembangan AI yang tepercaya, serta memastikan infrastruktur digital kritikal mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dan keamanan lokal. Pemerintah dan industri secara proaktif berinvestasi pada infrastruktur AI lokal, layanan cloud yang tepercaya, lingkungan data yang aman, serta kapabilitas digital guna mendukung prioritas nasional dengan tetap menjaga keterbukaan, inovasi, dan kolaborasi lintas batas. Operator semakin mengambil peran melalui investasi pada infrastruktur cloud, platform AI, lingkungan data yang aman, serta layanan digital yang tepercaya.

Ketahanan Bergeser dari Isu Teknis Menjadi Prioritas Strategis

Laporan ini menekankan bagaimana ketahanan kini menjadi ciri utama infrastruktur digital. Gangguan akibat iklim, ketegangan geopolitik, risiko rantai pasok, dan ketergantungan yang kian tinggi pada layanan digital mendorong fokus yang lebih besar untuk memastikan jaringan tetap andal, aman, dan beroperasi selama masa gangguan. Pemerintah dan industri kini kian bahu-membahu memperkuat ketahanan pada infrastruktur komunikasi kritikal.

Temuan Utama Mobile Economy Asia Pacific 2026

Laporan GSMA ini juga memuat sejumlah temuan utama lainnya, di antaranya:

  • Koneksi 5G diproyeksikan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2030, yang mewakili 50% dari seluruh koneksi seluler di Asia Pasifik.
  • Operator diperkirakan akan menggelontorkan belanja modal (capital expenditure) lebih dari US$200 miliar antara tahun 2025 dan 2030.
  • Ekosistem seluler menyokong 18 juta lapangan kerja di seluruh kawasan pada tahun 2025.
  • Lebih dari 700 juta orang dewasa masih belum tersambung ke internet (offline), meskipun wilayah tempat tinggal mereka telah tercakup oleh jaringan pita lebar seluler (mobile broadband).

Proyeksi pertumbuhan ekonomi seluler ini sejalan dengan tren yang telah diprediksi sebelumnya. Sebelumnya, GSMA juga memperkirakan ekonomi seluler Asia Pasifik akan mencapai angka yang sama pada 2030. Selain itu, konektivitas 5G telah diidentifikasi sebagai penggerak utama ekonomi seluler di kawasan ini sejak 2024.

M360 ASEAN: Mengatasi Tantangan Masa Depan Digital

Banyak isu yang disorot dalam laporan ini – termasuk adopsi AI, kepercayaan digital, kedaulatan digital, ketahanan jaringan, dan inklusi digital – akan dibahas secara mendalam dalam ajang M360 ASEAN, yang diselenggarakan di Kuala Lumpur pada 9-10 September 2026.

Menghadirkan para menteri, regulator, operator seluler, perusahaan teknologi, dan organisasi internasional, M360 ASEAN akan mengkaji bagaimana pemerintah dan industri dapat berkolaborasi membangun ekosistem digital yang tepercaya, memperkuat ketahanan, mendukung kedaulatan digital, serta memaksimalkan potensi ekonomi dari AI dan konektivitas tingkat lanjut.

YB Dato’ Seri Fahmi Fadzil, Menteri Komunikasi Malaysia, menyampaikan: “Malaysia bangga dapat mendukung perjalanan ASEAN menuju masa depan digital yang lebih terintegrasi, inovatif, dan inklusif. Melalui penguatan kolaborasi di antara pemerintah, industri, dan masyarakat, kita dapat membuka peluang pertumbuhan baru, memperluas partisipasi digital, dan memastikan manfaat dari transformasi digital dirasakan secara merata di seluruh kawasan. M360 ASEAN adalah platform yang penting untuk memajukan visi bersama ini.”

Dr. Kao Kim Hourn, Sekretaris Jenderal ASEAN, menyatakan: “Seiring langkah ASEAN memajukan visi ekonomi digital yang terintegrasi dan siap menghadapi masa depan, kolaborasi lintas pemerintah, industri, dan mitra regional menjadi hal yang esensial. M360 ASEAN menawarkan platform yang sangat berharga untuk merajut dialog, memperkuat kemitraan, dan mendukung upaya kolektif yang diperlukan guna mengubah ambisi digital bersama menjadi hasil nyata bagi kawasan.”

Acara ini akan menampilkan pidato utama (keynote addresses) dan sesi diskusi yang melibatkan para pemimpin senior, di antaranya:

  • YAB Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof, Deputi Perdana Menteri Malaysia sekaligus Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air;
  • YB Dato’ Seri Fahmi Fadzil, Menteri Komunikasi Malaysia;
  • Dr. Kao Kim Hourn, Sekretaris Jenderal ASEAN;
  • Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom Indonesia; dan
  • Bhupinder Singh, Presiden Vodafone Business International.

Para pemimpin ini akan bergabung dengan para pembuat kebijakan, eksekutif industri, dan inovator teknologi dari berbagai penjuru kawasan untuk berdiskusi mengenai langkah ASEAN dalam memperkuat kepercayaan digital, mempercepat pertumbuhan berbasis AI, mendukung kedaulatan digital, serta membangun infrastruktur digital yang tangguh di masa depan.

Perkembangan infrastruktur digital ini juga menjadi perhatian di Indonesia. Upaya memperkuat konektivitas digital nasional melalui berbagai inisiatif terus dilakukan, sejalan dengan tren kedaulatan digital yang disorot dalam laporan GSMA. Selain itu, investasi pusat data di Indonesia juga menunjukkan minat yang tumbuh terhadap infrastruktur digital di kawasan ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.