Pernahkah Anda sedang berbincang santai dengan keluarga atau teman mengenai suatu produk, lalu tiba-tiba ponsel Anda menampilkan iklan yang persis dengan topik pembicaraan tersebut? Fenomena ini seringkali memicu rasa curiga bahwa perangkat pintar yang kita genggam sehari-hari sebenarnya sedang memata-matai kita. Kecurigaan yang selama ini dianggap sebagai teori konspirasi belaka, kini mendapatkan validasi hukum yang cukup mengejutkan dari raksasa teknologi dunia.
Kabar terbaru yang mengguncang industri teknologi datang dari Google. Perusahaan yang berbasis di Mountain View ini akhirnya menyetujui penyelesaian sengketa hukum dengan nilai fantastis, yakni sebesar USD 68 juta atau setara dengan lebih dari Rp 1 triliun (mengacu pada kurs saat ini). Langkah ini diambil menyusul adanya gugatan class action yang menuduh asisten suara pintar mereka, Google Assistant, telah melakukan praktik yang tidak etis terhadap privasi penggunanya.
Berdasarkan laporan dari Reuters, inti permasalahan ini terletak pada klaim bahwa Google Assistant secara tidak pantas “menguping” percakapan pengguna smartphone. Para penggugat menyoroti bagaimana platform tersebut mulai mendengarkan dan merekam audio bahkan ketika pengguna tidak berniat mengaktifkannya. Situasi ini tentu menjadi mimpi buruk bagi privasi digital, mengingat betapa personalnya percakapan yang mungkin terekam oleh perangkat yang seharusnya membantu aktivitas kita sehari-hari, bukan memanfaatkannya.
Mekanisme ‘Salah Dengar’ dan Iklan Tertarget
Dalam dokumen gugatan tersebut, dijelaskan secara rinci bagaimana pelanggaran privasi ini diduga terjadi. Masalah utamanya berakar pada kegagalan sistem dalam mengenali perintah aktivasi atau yang dikenal dengan “wake words” (seperti “Hey Google” atau “Ok Google”). Menurut para penggugat, Google Assistant seringkali salah mengartikan percakapan biasa yang terdengar mirip dengan kata kunci aktivasi tersebut.
Akibat kesalahan sistem ini, asisten suara tersebut mulai merekam percakapan tanpa sepengetahuan maupun persetujuan pemilik perangkat. Yang lebih mengkhawatirkan, gugatan tersebut berargumen bahwa informasi pribadi yang seharusnya tidak didengar oleh Google Assistant ini kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Data audio yang terekam secara tidak sengaja itu diduga digunakan untuk mengirimkan iklan tertarget kepada individu-individu tersebut.
Praktik semacam ini tentu mencederai kepercayaan pengguna. Bayangkan jika diskusi sensitif atau detail kehidupan pribadi Anda direkam hanya karena algoritma salah mendengar, lalu data tersebut dikonversi menjadi peluang bisnis bagi pengiklan. Kasus ini mengingatkan kita pada insiden serupa yang menimpa kompetitor mereka, di mana Ganti Rugi Siri juga pernah menjadi topik hangat terkait pelanggaran privasi serupa.
Baca Juga:
Penyelesaian Tanpa Pengakuan Salah
Meskipun menyetujui pembayaran denda yang cukup besar, Google tetap mempertahankan posisi mereka. Dalam laporan Reuters disebutkan bahwa Google menyangkal telah melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan dalam gugatan. Langkah untuk menyepakati penyelesaian senilai USD 68 juta ini, menurut dokumen pengadilan, diambil perusahaan semata-mata untuk menghindari risiko ketidakpastian dan biaya litigasi yang jauh lebih besar jika kasus ini terus bergulir di meja hijau.
Penyelesaian awal untuk gugatan class action ini telah diajukan pada hari Jumat lalu. Saat ini, kesepakatan tersebut sedang menunggu persetujuan resmi dari Hakim Distrik AS, Beth Labson Freeman. Jika disetujui, ini akan menutup satu babak kelam mengenai bagaimana asisten virtual berinteraksi dengan privasi penggunanya di era digital yang semakin terbuka ini.
Menariknya, kasus ini mencuat di saat Google sedang melakukan transisi besar-besaran. Selama setahun terakhir, Google diketahui mulai beralih dari platform Google Assistant konvensional dan menggantikannya dengan alat berbasis kecerdasan buatan terbaru mereka, Gemini. Namun, pergantian teknologi ini tidak serta merta menjamin keamanan privasi yang lebih baik. Chatbot AI modern pun belum tentu bisa dianggap sebagai teladan dalam menjaga kerahasiaan data pengguna.
Tren Gugatan Privasi di Industri Teknologi
Google bukanlah satu-satunya raksasa teknologi yang tersandung masalah “telinga digital” ini. Apple, yang seringkali membanggakan diri dengan standar privasi tingginya, juga menghadapi tuduhan yang sangat mirip terkait asisten suara Siri pada tahun 2019 lalu. Gugatan class action terhadap Apple tersebut berakhir dengan penyelesaian sebesar USD 95 juta pada Januari 2025.
Ini menunjukkan adanya pola berulang di industri teknologi, di mana kenyamanan fitur asisten suara seringkali berbenturan dengan hak privasi pengguna. Bahkan, Apple sempat menghadapi sorotan tajam hingga memicu Investigasi Kriminal di wilayah yurisdiksi lain terkait bagaimana mereka menangani rekaman suara penggunanya.
Meskipun angka penyelesaian tampak besar secara total, realitas bagi konsumen seringkali tidak sebanding. Diperkirakan, kompensasi yang mungkin diterima per perangkat hanya berkisar USD 20. Jumlah ini tentu terasa sangat kecil dan mungkin tidak memadai jika dibandingkan dengan pelanggaran privasi di mana perusahaan secara tidak sengaja mendengar percakapan dan detail kehidupan yang sangat pribadi. Namun, begitulah sistem peradilan bekerja dalam menyelesaikan sengketa antara konsumen massal dan korporasi raksasa.

