Dunia teknologi kembali diguncang oleh pertarungan hukum kelas kakap yang melibatkan salah satu raksasa terbesar di Silicon Valley. Meta, perusahaan induk dari Facebook dan Instagram, kini tengah menghadapi tuntutan hukum serius yang dilayangkan oleh Solos, sebuah perusahaan pembuat kacamata pintar yang menjadi rival mereka. Angka yang dipertaruhkan tidak main-main; Solos menuntut ganti rugi hingga “miliaran dolar” atas dugaan pelanggaran paten yang dilakukan Meta.
Kasus ini menyoroti betapa sengitnya persaingan di ranah wearable device, di mana inovasi sering kali berujung pada sengketa kepemilikan intelektual. Solos menuduh bahwa produk andalan Meta, yakni kacamata pintar Ray-Ban Meta Wayfarer Gen 1, telah melanggar berbagai paten yang mencakup “teknologi inti di bidang kacamata pintar.” Gugatan ini bukan sekadar masalah uang, tetapi juga menyangkut eksistensi produk tersebut di pasaran. Jika Solos memenangkan gugatan ini, mereka meminta perintah pengadilan (injunction) yang dapat melarang Meta untuk menjual kacamata pintar Ray-Ban Meta tersebut.
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan teknologi, tentu menyadari bahwa Ray-Ban Meta telah menjadi salah satu kisah sukses perangkat keras yang langka bagi perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg tersebut. Namun, di balik kesuksesan penjualan dan popularitasnya, tersimpan klaim bahwa fondasi teknologi yang digunakan mungkin “dipinjam” tanpa izin dari pemain yang lebih kecil namun inovatif seperti Solos. Perseteruan ini membuka tabir tentang bagaimana raksasa teknologi beroperasi dan bagaimana ide-ide brilian sering kali berpindah tangan melalui jalur yang kontroversial.
Jejak Teknologi yang Diduga Dicuri
Meskipun nama Solos mungkin belum sepopuler Meta atau mitranya, EssilorLuxottica, perusahaan ini bukanlah pemain baru yang bisa dipandang sebelah mata. Solos telah memasarkan berbagai model kacamata dengan fitur-fitur canggih yang sangat mirip dengan apa yang kini ditawarkan oleh Meta. Sebagai contoh konkret, kacamata AirGo A5 milik Solos memungkinkan penggunanya untuk mengontrol pemutaran musik, menerjemahkan ucapan ke berbagai bahasa secara otomatis, dan bahkan mengintegrasikan ChatGPT untuk menjawab pertanyaan serta menjelajahi web.
Kemiripan fitur ini menjadi salah satu poin utama dalam Drama Hukum yang sedang bergulir. Solos berargumen bahwa Meta tidak sekadar kebetulan menciptakan produk serupa, melainkan secara sistematis menyalin teknologi mereka. Dalam dunia teknologi yang bergerak cepat, fitur-fitur seperti integrasi AI dan penerjemahan langsung adalah “medan perang” utama. Solos mengklaim bahwa mereka telah lebih dulu mengembangkan dan mematenkan teknologi tersebut sebelum Meta meluncurkan produknya ke pasar massal.
Tuduhan ini semakin berat mengingat Meta saat ini sedang gencar-gencarnya merestrukturisasi divisi Reality Labs mereka. Fokus utama mereka adalah pada perangkat keras berbasis kecerdasan buatan, seperti kacamata pintar, yang diharapkan dapat mengulangi kesuksesan Ray-Ban Meta. Namun, ambisi untuk menguasai pasar ini kini terancam oleh bayang-bayang litigasi yang bisa menghambat peta jalan produk mereka di masa depan.
Baca Juga:
Dugaan Mata-mata Korporat dan Akses Internal
Bagian paling menarik dan mungkin paling merusak dari gugatan ini adalah klaim Solos mengenai bagaimana Meta bisa mendapatkan akses ke teknologi mereka. Solos tidak hanya bicara soal kemiripan produk, tetapi menuding adanya aliran informasi yang tidak etis melalui karyawan Oakley (anak perusahaan EssilorLuxottica) dan Meta. Menurut Solos, kedua belah pihak memiliki wawasan mendalam terhadap produk dan roadmap perusahaan mereka jauh sebelum produk Meta diluncurkan.
Solos memaparkan kronologi yang cukup mencengangkan. Pada tahun 2015, karyawan Oakley diduga telah diperkenalkan dengan teknologi kacamata pintar milik Solos. Bahkan, pada tahun 2019, mereka disebut telah menerima sepasang kacamata Solos untuk tujuan pengujian. Akses fisik terhadap perangkat kompetitor ini tentu memberikan keuntungan strategis yang luar biasa dalam proses reverse engineering atau pengembangan produk serupa.
Lebih jauh lagi, Solos menyoroti peran seorang individu spesifik: seorang Fellow dari MIT Sloan yang pernah meneliti produk-produk Solos. Individu ini kemudian menjadi manajer produk di Meta. Solos menuduh bahwa sang manajer membawa pengetahuan mendalam mengenai perusahaan dan teknologinya langsung ke dalam dapur pengembangan Meta. Narasi ini membangun persepsi bahwa Meta dan EssilorLuxottica telah mengakumulasi pengetahuan tingkat senior yang mendalam dan terperinci mengenai teknologi Solos selama bertahun-tahun sebelum akhirnya merilis kacamata pintar mereka sendiri.
Masa Depan Ambisi Hardware Meta
Gugatan ini datang di saat yang krusial bagi Meta. Meskipun jumlah pemilik kacamata pintar Ray-Ban Meta masih jauh lebih sedikit dibandingkan pengguna Instagram, perangkat ini dianggap sebagai salah satu keberhasilan perangkat keras yang signifikan bagi perusahaan. Keyakinan Meta terhadap kategori produk ini begitu tinggi hingga mereka rela merombak divisi Reality Labs demi fokus pada Masa Depan Smartphone yang mungkin akan digantikan atau didampingi oleh kacamata pintar berbasis AI.
Jika pengadilan mengabulkan permintaan Solos untuk melarang penjualan Ray-Ban Meta, ini akan menjadi pukulan telak bagi strategi jangka panjang Zuckerberg. Bukan hanya soal kerugian finansial dari pembayaran royalti atau denda, tetapi terhentinya momentum di pasar yang sedang berkembang pesat. Sementara kompetitor lain mungkin sedang menyiapkan produk serupa, seperti Kacamata Mixed Reality yang lebih canggih, Meta harus berkutat dengan masalah hukum yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Hingga saat ini, Engadget melaporkan telah meminta tanggapan dari Meta dan EssilorLuxottica terkait klaim Solos, namun belum ada komentar resmi yang dirilis. Publik dan investor kini menunggu apakah Meta akan memilih jalur damai dengan membayar lisensi, atau bertarung habis-habisan di pengadilan untuk membuktikan bahwa inovasi mereka adalah murni hasil karya sendiri. Satu hal yang pasti, kasus ini menjadi peringatan keras bagi industri teknologi bahwa di balik setiap fitur canggih yang kita nikmati, mungkin ada pertarungan sengit tentang siapa penemu sebenarnya.

