Apple Masih Sakit Hati Soal Pelanggaran Paten Samsung

Telset.id, Jakarta – Walaupun kasus pelanggaran paten Apple oleh Samsung sudah terjadi sejak delapan tahun lalu, tetapi sejumlah anggota tim dari perusahaan pembuat iPhone itu masih sakit hati.

Hal itu terungkap dalam sidang pengadilan kasus pelanggaran paten yang dituduhkan kepada Samsung, dengan nilai tuntutan mencapai US$ 1 miliar atau mencapai Rp 1 triliun

“Ini jelas-jelas penipuan. Mereka mencoba mencuri rasa esensial iPhone. Mereka mencoba merobek bagian dari sifat ikonik kami dan berkata kami juga keren,” ujar Direktur Senior Tim Desain Apple dan salah satu dari dua perancang iPhone terkemuka Richard Howarth ketika bersaksi di pengadilan, seperti dilansir Cnet, Rabu (16/5/2018).

Howarth telah bekerja di Apple selama 22 tahun. Dia terdaftar sebagai penemu dua paten desain yang menjadi pusat kasus paten Apple-Samsung, yakni Paten AS No. D618,677 (paten D’677), yang menggambarkan tampak muka hitam, persegi panjang dan sudut membulat.

Paten kedua yang dilanggar adalah US Patent No. D593,087 (D’087), yang menggambarkan muka depan berbentuk persegi panjang dengan sudut membulat yang sama dengan bingkai di sekitarnya, yang dikenal sebagai bezel.

Pengacara Samsung John Quinn, pada kesaksian sidang, memanaskan hati Howarth dengan menanyakan apakah paten melindungi seluruh telepon atau hanya sebagian?

Walau enggan menjawab, Howarth mengakui bahwa ponsel dapat dibongkar, diberikan alat yang tepat, tetapi ia berpendapat bahwa paten Apple lebih besar.

“Ponsel adalah sebuah ide. Semuanya adalah ponsel … Anda tidak bisa hanya mengambil bagian dan berkata ‘Mari lindungi itu,” ujar Howard.

Baca juga: Pengadilan Putuskan Samsung Langgar Paten Apple

Apple berpendapat paten adalah pusat untuk produk utuh ponsel, dan dengan demikian pembayaran denda Samsung harus didasarkan pada keuntungan dari semua ponsel yang melanggar.

Namun Samsung yang didorong oleh putusan Mahkamah Agung, berpendapat bahwa mereka hanya membayar denda terkait pelanggaran komponen ponsel, seperti bezel dan kaca layar.

Keputusan juri dalam pengadilan keempat sejak dilakukan tuntutan Samsung pada 2011, akan membantu membentuk bagaimana paten desain yang kuat benar-benar di dunia teknologi. Pengadilan juri sebelumnya menetapkan bahwa beberapa ponsel Samsung yang dirilis pada 2010 dan 2011 melanggar lima paten Apple.

Samsung telah membayar Apple US$ 548 juta atau mencapai Rp 7,7 triliun. Denda ini bisa bertambah US$ 399 juta (sekitar Rp 5, triliun) atau tidak tergantung pada bagaimana juri melihat sesuatu.

Kasus ini berpusat pada masalah apa yang sebenarnya merupakan “pasal pembuatan” yang diatur oleh sebuah paten. Apple berpendapat bahwa seharusnya paten ini mencakup produk telepon secara utuh, tetapi Samsung ingin supaya kasus tersebut hanya mencakup sebagian komponen telepon saja.

Dalam pengadilan tersebut, Wakil Presiden Pengadaan Apple Tony Blevins terlihat sedikit emosi ketika berbicara tentang reaksinya melihat ponsel Samsung.

“Sebagian anggota kelompok kami telah bekerja rak kenal lelah pada produk ini selama bertahun-tahun. Kami bekerja larut malam dan akhir pekan, kami mengorbankan waktu keluarga, kami merindukan hari ulang tahun. Kami mengajukan paten dan mencoba melakukan hal-hal dengan cara yang benar sehingga kami bisa menikmati hasil kerja kami,” kata Blevins.

Baca juga: Apple Digugat Langgar Paten Merek Pakaian China

Ketika telepon Samsung yang melanggar paten beredar, dia berkata, “Itu adalah setiap emosi negatif yang dapat Anda bayangkan.” imbuh dia.

Demi menunjukkan pentingnya karya desainnya, persidangan menunjukkan aspek dari proses desain Apple yang biasanya rahasia. Disini, kata Howarth, Apple menolak ratusan prototipe iPhone sebelum merilis model pertama pada 2007. Ada yang memiliki bezel oktagonal, ada yang hanya dibulatkan pada sisi kiri dan kanan dan ada yang memiliki bagian depan kelabu.

“Itu tidak mewakili apa yang kami coba lakukan, yang menciptakan sesuatu yang terasa ramah dan dapat dimengerti. Itu tampak sangat besar dan persegi dari depan. Rasanya buruk, banyak potongan,” tukas Howarth.

Desain Apple dimulai dengan sketsa dan model kemudian berkembang menjadi prototipe berbentuk 3D yang merupakan representasi ide yang baik. Sedangkan Blevins, yang harus membeli semua komponen dari vendor, mengatakan pendekatan Apple sangat berbeda dari industri elektronik lainnya.

“Sebagian besar perusahaan menggunakan filosofi blok bangunan. Apple benar-benar melakukan kebalikannya,” tegas dia.

Sumber: Cnet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here