Telset.id, Jakarta āĀ Meski bersifatĀ open source dan banyak pihak yang mengembangkannya, teknologi blockchain dinilai menjadi salah satu teknologi yang sulit untuk diadopsi. Itu karena teknologi ini memiliki beberapa syarat khusus untuk bisa diimplementasi oleh berbagai instansi atau perusahaan.
Blockchain sendiri merupakan teknologi inti di balik populernya mata uang digital Bitcoin. Teknologi ini dinilaiĀ mampu mengubah konsep teknologi transaksi dan pertukaran informasi karena memiliki sifat terdesentralisasi yang membuatnya aman, efisien, dan mudah digunakan.
DijelaskanĀ Direktur Computrade Technology International (CTI), Rachmat Gunawan, syarat khusus itu sendiri adalah adanya pengetahuan khusus mengenai teknologi blockchain. Menurutnya bagi perusahaan yang ābelum mengertiā seperti apa teknologi tersebut, akan sulit untuk adopsi teknologi blockchain.
āPertama mengerti dulu teknologinya. Setelah mengerti, bagaimana caranya untuk mengaplikasikan ke bisnis modelnya,ā jelasnya di acara konferensi pers Kickoff CTI IT Insfrastructure Summit 2018, di Jakarta, Selasa (20/02/2018).
Syarat selanjutnya menurut Rachmat adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan atau pengetahuan soal teknologi blockchain. Menurutnya, syarat kedua ini cukup sulit untuk dijalani karena sekarang masih sulit mencari SDM yang mengerti soal teknologi blockchain.
āMasih susah mencari SDM yang telahĀ expert soal blockchain di Indonesia. Susah sekali, bahkan di luar pun sama,ā katanya.
[Baca juga: Nilai Tukar Bitcoin Sempat Terjun Bebas]
Indonesia sendiri menurut Rachmat harus segera mengimplementasi teknologi baru tersebut agar tak ketinggalan dengan negara lainnya. Tapi jika Indonesia telah siap untuk menyambut teknologi blockchain, kemungkinan perkembangan teknologi ini di Indonesia akan cukup cepat.
āBlockchain adalah teknologi baru yang berevolusi dengan cepat. Teknologi ini dibuka untuk umum, makannya jutaan orang mulai mengembangkan atau memperbaiki sistem ini menjadi lebih baik,ā pungkas Rachmat. (FHP)




