Langkah terbaru Presiden AS Donald Trump dalam menerapkan tarif impor yang masif telah menciptakan gelombang kejut di industri teknologi global. Kebijakan ini, yang mencakup tarif minimum 10% untuk semua negara dan kenaikan signifikan untuk mitra dagang utama seperti China, Vietnam, India, dan Korea Selatan, langsung berdampak pada pasar saham. Saham perusahaan teknologi seperti Meta dan Nvidia turun sekitar 5%, sementara Apple dan Amazon anjlok hingga 6%. Mengapa hal ini terjadi, dan apa implikasinya bagi konsumen serta bisnis?
Dampak Langsung pada Raksasa Teknologi
Apple, yang memperoleh sekitar separuh pendapatannya dari penjualan iPhone yang diproduksi di China dan India, menjadi salah satu korban utama. Amazon juga terpukul karena ketergantungannya pada produk-produk dari pedagang pihak ketiga di China. Tibor Besedes, pakar perdagangan dari Georgia Institute of Technology, mengingatkan bahwa konsumen AS tidak terbukti bersedia membayar lebih untuk produk buatan lokal. “Ini bisa memicu inflasi lebih tinggi,” ujarnya.
Tarif Spesifik Negara dan Pengecualian Semikonduktor
Beberapa negara seperti Inggris, Chili, dan Brasil dikenakan tarif rendah, sementara China, Kamboja, Vietnam, dan India menghadapi tarif 26-49%. Namun, Trump memberikan pengecualian untuk impor semikonduktor, yang menjadi kabar baik bagi perusahaan seperti Nvidia yang bergantung pada chip dari Taiwan. Namun, belum jelas apakah Taiwan akan terbebas dari tarif blanket 10%.
E-Commerce dalam Pusaran Kebijakan Baru
Kebijakan Trump juga menghapus pengecualian bea masuk untuk paket bernilai di bawah $800 dari China dan Hong Kong, yang selama ini dimanfaatkan oleh Shein, Temu, dan platform seperti eBay. Ram Ben Tzion, CEO Publican, memprediksi perubahan drastis dalam belanja online jika kebijakan ini benar-benar berlaku. “Ini bisa mengubah wajah e-commerce,” katanya.
Peluang di Tengah Kekacauan
Meski banyak yang dirugikan, perusahaan logistik dan analisis data seperti Palantir dan Nuvocargo justru melihat peluang. Jay Gerard dari Nuvocargo mengakui bahwa tarif meningkatkan permintaan layanan mereka, meski sempat menciptakan kekacauan saat Trump memberlakukan tarif 25% untuk Meksiko dan Kanada—yang kemudian dicabut dalam hitungan hari.
Strategi Jangka Panjang untuk AS
Nick Vyas dari USC Marshall School of Business berpendapat bahwa tarif bisa mengembalikan AS ke “mindset produksi” setelah puluhan tahun bergantung pada China. Namun, ia menekankan perlunya kebijakan yang konsisten dan terencana. “Saat ini, yang kita lihat lebih banyak ledakan emosional daripada strategi,” ujarnya.
Dengan dampak yang begitu luas, kebijakan Trump ini tidak hanya menguji ketahanan industri teknologi, tetapi juga kesiapan konsumen AS menghadapi kenaikan harga. Apakah ini awal dari perubahan besar dalam perdagangan global? Hanya waktu yang bisa menjawab.