📑 Daftar Isi

T-Mobile claims it's not shifting roles to India but secrecy around operations is raising suspicion

T-Mobile Bantah PHK Massal, tapi Operasi India Bikin Curiga

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • T-Mobile membantah tuduhan memindahkan pekerjaan ke India setelah membuka pusat teknologi di Hyderabad
  • Perusahaan mengklaim TMUS Global Solutions sudah beroperasi sejak 2025 dan hanya merelokasi kantor
  • Rencana merekrut 1.000 karyawan di India pada 2027, naik dari 247 pekerja saat ini
  • 91% pelanggan dalam survei menginginkan T-Mobile tetap merekrut di AS
  • Pusat teknologi fokus pada software engineering, DevOps, data analytics, dan cybersecurity
  • T-Mobile menolak mengonfirmasi total headcount atau merinci rencana perekrutan
  • Kekhawatiran pelanggan terkait kualitas layanan dan keamanan data

Telset.id – T-Mobile membantah tuduhan memindahkan ribuan pekerjaan ke India setelah membuka pusat teknologi raksasa di Hyderabad, namun kerahasiaan seputar operasi tersebut justru memicu kecurigaan di kalangan pelanggan dan analis. Operator seluler AS ini melakukan PHK bergilir tak lama setelah CEO baru Srini Gopalan menjabat, yang bertepatan dengan target efisiensi, dorongan digital, dan penutupan toko.

Reuters melaporkan pada awal Juni 2026 bahwa T-Mobile meresmikan global capability center (GCC) di India dengan rencana merekrut 1.000 karyawan pada 2027. Fasilitas seluas 250.000 kaki persegi ini bukan kantor biasa. T-Mobile menegaskan pusat tersebut tidak akan menangani peran yang berhadapan langsung dengan pelanggan, melainkan fokus pada tugas teknis seperti rekayasa perangkat lunak, DevOps, pengembangan produk, analitik data, dan keamanan siber.

Dalam pernyataannya, T-Mobile mengklaim bahwa entitas TMUS Global Solutions sebenarnya sudah beroperasi sejak 2025. Perusahaan menyebut acara yang diliput media hanya sekadar relokasi kantor. Adapun yang disebut sebagai karyawan baru adalah kontraktor dan vendor jangka panjang yang statusnya diubah menjadi pegawai tetap.

“Perusahaan mempertahankan bahwa pekerjaan teknologinya tetap berbasis di AS dan membantah memindahkan peran ke India,” demikian pernyataan resmi T-Mobile. Operator tersebut mengklaim tetap merekrut di AS sambil memanfaatkan talenta yang ditawarkan India.

t-mobile india center

Menteri Teknologi Informasi Telangana, Sridhar Babu Duddilla, menyambut positif langkah ini. “Energi luar biasa pada peluncuran kantor TMUS Global Solutions Hyderabad. Jejak teknologi Telangana berkembang pesat, dan kami bangga mendorong pertumbuhan perangkat lunak dan TI berikutnya,” ujarnya pada Juni 2026.

T-Mobile bukan satu-satunya operator yang mendirikan pusat teknologi di India. AT&T dan Verizon juga melakukan hal serupa, begitu pula banyak perusahaan global lainnya. Per 31 Desember 2025, T-Mobile hanya memiliki 247 pekerja di India, sebagian kecil dari total tenaga kerja 75.000 orang.

Reaksi Pelanggan dan Survei

Meski angka tersebut kecil, berita ini membuat pelanggan T-Mobile resah. Dalam jajak pendapat yang dilakukan PhoneArena, sebanyak 722 responden (91%) menginginkan perusahaan tetap merekrut di AS. Sementara itu, 41 responden (5%) memuji langkah ini sebagai keputusan bisnis cerdas, dan 27 responden (3%) menganggap volume perekrutan terlalu rendah untuk dipermasalahkan.

Jumlah tenaga kerja T-Mobile di India memang masih minoritas, namun angkanya hampir dua kali lipat dari enam bulan sebelumnya. Bahkan jika target 1.000 karyawan pada 2027 tercapai, angka itu hanya sekitar 1% dari total tenaga kerja.

Namun, T-Mobile menolak mengonfirmasi jumlah total karyawan atau merinci rencana perekrutannya. Data yang terungkap menunjukkan TMUS Global Solutions aktif merekrut selama enam bulan terakhir dan saat ini memiliki 39 lowongan pekerjaan terbuka.

Gambaran Lebih Besar

Meskipun T-Mobile berusaha meredakan kekhawatiran dengan menyatakan tidak memindahkan pekerjaan AS ke luar negeri, keengganannya untuk bersikap transparan soal skala operasi luar negeri menimbulkan pertanyaan. Perusahaan diketahui memiliki target mengurangi interaksi yang dilakukan pelanggan dengan karyawannya.

Membuka pusat teknologi raksasa di tengah transisi tersebut membuat skeptisisme pelanggan cukup beralasan. Operator seluler ini sebelumnya juga telah melakukan berbagai langkah efisiensi yang berujung pada PHK bergilir.

Kekhawatiran pelanggan terutama terkait potensi penurunan kualitas layanan dan keamanan data. Meski T-Mobile menjamin pusat di India tidak menangani peran customer-facing, operasi teknis yang mencakup keamanan siber dan data analytics tetap menjadi perhatian tersendiri.

Ke depannya, T-Mobile perlu memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai rencana operasionalnya di India. Tanpa transparansi yang memadai, kecurigaan publik akan terus berlanjut dan berpotensi memengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap operator seluler terbesar kedua di AS tersebut.

Fenomena ini menunjukkan tantangan yang dihadapi perusahaan teknologi global dalam menyeimbangkan efisiensi operasional dengan ekspektasi pelanggan akan lapangan kerja domestik. Spacex diminta beli T-Mobile menjadi contoh lain bagaimana keputusan operator seluler selalu mendapat sorotan publik.

Sementara itu, T-Mobile terus melanjutkan strategi efisiensinya. Promo iPhone 17 T-Mobile yang gratis untuk semua model menunjukkan bahwa operator ini tetap agresif dalam strategi pemasaran untuk mempertahankan basis pelanggannya.

Keputusan T-Mobile membuka pusat teknologi di India mencerminkan tren global di mana perusahaan AS memanfaatkan talenta teknik berkualitas dengan biaya lebih kompetitif. Namun, tanpa komunikasi yang jelas, langkah ini berisiko menggerus kepercayaan publik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Yang pasti, perkembangan ini akan terus dipantau oleh pelanggan, analis, dan regulator. T-Mobile harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis terkait masa depan lapangan kerja teknologinya di AS serta implikasinya terhadap kualitas layanan yang diterima pelanggan.

Dengan 39 lowongan masih terbuka di India, jelas bahwa ekspansi T-Mobile di negara tersebut masih akan terus berlanjut. Pertanyaan besarnya adalah seberapa transparan operator ini akan bersikap mengenai skala dan dampak dari operasi luar negerinya.

Komentar

Belum ada komentar.