Telset.id – Startup kesehatan asal Amerika Serikat, Amble, menarik perhatian publik setelah meluncurkan produk kontroversial berupa paket obat darurat radiasi nuklir yang diberi nama “Oh Sht Bag”. Produk yang dijual dengan harga fantastis ini diklaim mampu membantu kesehatan masyarakat dalam situasi darurat pasca ledakan nuklir.
Paket obat yang dijual seharga USD 345 atau sekitar Rp5,6 juta tersebut berisi tiga jenis obat penting untuk menghadapi paparan radiasi. Menariknya, Amble menawarkan sistem pembayaran cicilan melalui kemitraan dengan Klarna menggunakan skema Buy-Now-Pay-Later yang memungkinkan pembeli membayar dalam empat kali angsuran.
“Jika hal yang tak terduga terjadi, baik dari kecelakaan, bencana, atau peristiwa radiasi lainnya, memiliki obat yang tepat dapat membuat perbedaan kritis di jam-jam pertama,” demikian pernyataan resmi perusahaan di situsnya. “Karena ketika radiasi terlibat, panik adalah pilihan, tapi persiapan bukan.”
Produk yang diunggah oleh penulis Sean Morrow di platform X (sebelumnya Twitter) ini menyasar kalangan pekerja kantoran yang khawatir akan kemungkinan perang nuklir. Amble menyebut produknya sebagai solusi farmasi untuk masalah abad ke-21.
Isi paket “Oh Sht Bag” terdiri dari 14 pil potasium iodida, enam kapsul prussian blue, dan enam tablet ondansetron ODT yang merupakan versi generik dari obat merek Zofran. Ketiga jenis obat ini memang dikenal sebagai perlengkapan standar dalam situasi darurat radiasi.
Potasium iodida berfungsi untuk memblokir penyerapan iodin radioaktif oleh kelenjar tiroid. Sementara itu, Zofran merupakan obat umum untuk mengatasi mual yang disebabkan oleh kemoterapi dan paparan radiasi. Adapun prussian blue berfungsi menjebak cesium dan thallium radioaktif di dalam usus, sehingga secara teori dapat meminimalkan jumlah radiasi yang diserap tubuh.
Meski demikian, banyak pihak mempertanyakan kelayakan harga yang dipatok Amble untuk produk tersebut. Pasalnya, konsumen sebenarnya bisa merakit sendiri paket obat serupa dengan biaya yang jauh lebih murah.
Sebagai perbandingan, sebotol 120 tablet potasium iodida hanya dijual seharga USD 10 di Amazon. Sementara 30 pil Zofran bisa didapatkan dengan harga mulai USD 15 hingga USD 30 melalui layanan GoodRx. Artinya, dengan biaya yang sama, konsumen bisa mendapatkan obat untuk seluruh anggota keluarga besar.
Prussian blue memang menjadi tantangan tersendiri karena obat ini hanya tersedia dengan resep dokter dan biasanya dikhususkan untuk keadaan darurat radiologi. Namun, efektivitasnya juga terbatas karena hanya mengikat elemen radioaktif tertentu dan tidak bisa menjadi solusi menyeluruh.
Dari perspektif bisnis, target pasar produk ini juga sulit diprediksi. Para prepper atau orang yang serius mempersiapkan diri menghadapi bencana biasanya sudah memiliki persediaan obat radiasi di bunker mereka. Sementara warga yang tinggal di dekat situs nuklir aktif biasanya mendapatkan obat darurat gratis dari pemerintah setempat.
Produk ini bukanlah layanan paling aneh yang ditawarkan Amble. Startup tersebut pertama kali mencuri perhatian publik pada awal tahun ini ketika program resep GLP-1 mereka menjadi sorotan pemberitaan. Pada Februari, WCNC Charlotte melaporkan bahwa Amble memberikan resep peptide penurun berat badan melalui percakapan telepon antara dokter dan pasien, yang mengakibatkan overdosis hingga memerlukan perawatan rumah sakit.
Keputusan untuk membeli produk radiasi dari Amble pada akhirnya kembali kepada konsumen masing-masing. Namun, bagi mereka yang benar-benar meyakini bencana nuklir akan terjadi, opsi buy-now-pay-later mungkin menjadi pilihan logis meski mempertanyakan esensi kapitalisme modern.
Fenomena produk semacam ini menunjukkan bagaimana ketakutan akan bencana global dapat dimonetisasi oleh perusahaan rintisan. Meski demikian, konsumen perlu bijak dalam menilai apakah harga yang ditawarkan sebanding dengan manfaat yang didapat, terutama ketika alternatif yang jauh lebih murah tersedia di pasaran.

Kehadiran produk semacam ini juga memunculkan pertanyaan tentang regulasi penjualan obat-obatan darurat secara online. Meskipun semua obat dalam paket tersebut memang relevan untuk situasi radiasi, kemudahan akses tanpa konsultasi medis yang memadai bisa menjadi perhatian tersendiri bagi otoritas kesehatan.
Amble sendiri tampaknya tidak asing dengan kontroversi. Sebelumnya, perusahaan ini juga pernah menjadi sorotan karena praktik pemberian resep obat penurun berat badan yang dinilai terlalu longgar. Hal ini menunjukkan pola bisnis yang mengutamakan kecepatan layanan di atas protokol keamanan standar.
Bagi konsumen yang tertarik dengan produk ini, penting untuk memahami bahwa paket obat tersebut hanya ditujukan untuk pertolongan pertama dalam beberapa jam setelah paparan radiasi. Ini bukanlah solusi jangka panjang untuk bertahan hidup pasca bencana nuklir yang sesungguhnya.
Fenomena “Oh Sh*t Bag” ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri startup kesehatan, di mana perusahaan berlomba menawarkan solusi cepat untuk masalah-masalah yang bersifat hipotetis atau jarang terjadi. Hal ini sejalan dengan perkembangan startup AI yang juga kerap menawarkan solusi berlebihan untuk kebutuhan yang belum tentu nyata.
Kisah Amble juga mengingatkan kita pada bagaimana kisah startup bisa berubah drastis dalam waktu singkat. Dari yang awalnya dianggap inovatif hingga menuai kontroversi, perjalanan perusahaan rintisan seringkali penuh kejutan.
Pada akhirnya, keputusan membeli produk ini sepenuhnya berada di tangan konsumen. Namun, dengan informasi yang transparan tentang isi paket, harga pasar obat-obatan tersebut, dan keterbatasan efektivitasnya, diharapkan konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bijak sebelum mengeluarkan uang untuk produk semacam ini.





Komentar
Belum ada komentar.