Telset.id – SpaceX baru saja merilis laporan keuangan kuartalan pertamanya sebagai perusahaan publik. Hasilnya menunjukkan bahwa pendapatan perusahaan justru didominasi oleh bisnis telekomunikasi dan sewa komputasi, bukan roket. Sektor antariksa bahkan tidak menembus USD 1 miliar dan hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total pendapatan perusahaan.
Laporan ini mengungkap fakta menarik: SpaceX kini lebih mirip perusahaan telekomunikasi dan penyedia komputasi awan daripada perusahaan antariksa. Bagian “connectivity” atau konektivitas yang merupakan layanan internet satelit Starlink mencatat pendapatan USD 4,2 miliar dan menjadi satu-satunya sektor yang tidak mengalami kerugian operasional.
SpaceX tetap menjadi pelanggan terbesarnya sendiri untuk layanan roket. Jumlah pelanggan eksternal yang membutuhkan roket masih terbatas, sehingga fokus bisnis perusahaan bergeser ke sektor lain yang lebih menguntungkan.
Bisnis AI dan Sewa Komputasi Jadi Primadona
Bagian paling menonjol dari laporan keuangan ini adalah pertumbuhan bisnis neocloud, yaitu usaha penyewaan kapasitas pusat data untuk perusahaan AI. Bisnis ini bahkan menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan roket SpaceX dan mendorong pengeluaran hingga USD 15,8 miliar untuk AI pada kuartal kedua.
Analis Alexander Potter memperkirakan belanja bisnis neocloud ini akan mencapai USD 65 miliar tahun depan, meningkat USD 17 miliar dari perkiraan sebelumnya. Bisnis ini menempatkan SpaceX sebagai pesaing perusahaan neocloud seperti CoreWeave dan Nebius.
Menariknya, bisnis ini bukanlah rencana awal. Musk awalnya membangun pusat data Colossus 1 di Memphis untuk Grok, model AI miliknya. Namun xAI kesulitan mengoperasikan kompleks tersebut dan akhirnya memutuskan untuk menyewakannya. Masalah latensi dan kombinasi chip lama serta baru menciptakan hambatan untuk melatih model internal.
Pada panggilan pendapatan, Musk mengungkapkan hanya 10 persen dari komputasi yang dibangun SpaceX akan digunakan untuk Grok. SpaceX kini memiliki kerja sama dengan Google, Anthropic, Reflection AI, dan Cursor, perusahaan AI yang kemudian diakuisisi Musk.
Chief Financial Officer SpaceX Bret Johnsen mengatakan kerja sama tersebut menempatkan perusahaan “pada lintasan, termasuk kontribusi dari Cursor, untuk mencapai USD 100 miliar ARR atau tingkat pendapatan tahunan.” Musk bahkan lebih optimistis dengan menyatakan “USD 100 miliar ARR pada Desember bukanlah tanda tanya.”
Namun perlu dicatat bahwa pendapatan bukanlah keuntungan. Membangun pusat data membutuhkan biaya besar, dan bisnis penyewaan komputasi menghadapi risiko keusangan teknologi, ketidakpastian konstruksi, dan fakta bahwa komputasi pada dasarnya adalah komoditas yang membuat perusahaan bersaing pada biaya.
Baca Juga:
Rencana Ambisius dan Risiko Bisnis
Musk mengklaim membawa SpaceX go public karena ingin membangun pusat data di luar angkasa. SpaceX bahkan telah mengajukan proposal pusat data orbital dengan hingga 1 juta satelit ke Federal Communications Commission (FCC). Namun aplikasi tersebut minim detail teknis, tanpa informasi tentang ukuran satelit atau jadwal peluncuran, yang membuat banyak pihak meragukan keseriusan rencana ini.
Musk juga mengungkapkan beberapa gambaran tentang satelit tersebut. Dalam visinya, perusahaan chip miliknya bernama Terafab akan memproduksi satu terawatt chip setiap tahun. Satu miliar robot Optimus akan melakukan pekerjaan tersebut, setidaknya setelah Musk menyelesaikan masalah pada tangan robot. Tujuan akhirnya adalah membangun akselerator massa di Bulan.
Klaim-klaim ini dianggap sebagai bagian dari kebiasaan Musk membicarakan masa depan fiksi ilmiah. Beberapa ilmuwan bahkan menyarankan bahwa pusat data luar angkasa yang diusulkan Musk adalah ide yang buruk. Belum ada bukti nyata bahwa proyek semacam ini akan terwujud.
Tanpa memperhitungkan wacana besar tersebut, yang tersisa adalah perusahaan yang meluncurkan roket terutama untuk kebutuhan sendiri, memiliki bisnis internet satelit yang cukup sukses, dan menjalankan bisnis penyewaan komputasi yang berisiko dan padat modal sebagai akibat dari kegagalan AI internalnya.
Di sisi lain, bisnis ini memberikan keuntungan bagi Tesla. SpaceX menjadi pelanggan penting yang membeli baterai Tesla Megapack senilai USD 295 juta. SpaceX juga banyak membeli Cybertruck. Namun saham Tesla sendiri turun 25 persen sejak Januari tahun ini.
Musk mungkin dapat membebankan harga premium pada komputasinya karena koneksi politiknya, dan koneksi tersebut mungkin memudahkan pembangunan pusat data di darat. Namun perlu diingat bahwa lockup insider SpaceX mulai berakhir pada 6 Agustus, yang bisa membuat saham semakin tertekan jika para insider menjual saham mereka.
Terlepas dari berbagai wacana ambisius, laporan keuangan ini menunjukkan realitas bisnis SpaceX saat ini: perusahaan telekomunikasi dan penyedia komputasi yang kebetulan juga meluncurkan roket. Sektor jaringan seluler yang direncanakan Shotwell untuk bersaing dengan operator AS juga menjadi perhatian, namun pengeluaran terbesar tetap pada AI. Sementara itu, risiko tabrakan roket dengan Bulan menjadi pengingat bahwa bisnis antariksa tetap memiliki tantangan tersendiri.
Dengan segala risiko dan ketidakpastian, arah bisnis SpaceX ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola bisnis penyewaan komputasi yang kompetitif sambil mempertahankan pertumbuhan Starlink. Keputusan pembelian Megapack dari Tesla juga menunjukkan sinergi antar perusahaan Musk yang terus berlanjut.





Komentar
Belum ada komentar.