telset

Sosok Raja Midas di Indosat

Frederik Johannes Meijer
Director & Chief Commercial Officer Indosat

Frederik Johannes Meijer atau yang biasa akrab disapa Erik Meijer telah resmi bergabung dengan Indosat. Pria kelahiran Hoogezand-Sappemeer Belanda, 6 September 1970 ini ditunjuk menjadi direktur komersial melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) anak perusahaan Qatar Telecom itu pada 14 Mei 2012 lalu.

Sosok Erik Meijer di industri telekomunikasi di Tanah Air memang sudah diakui banyak kalangan sebagai orang yang kerap sukses mengangkat performa perusahaan dimana ia memimpin. Bahkan Erik disebutkan bak seorang Midas — seorang raja dalam Mitologi Yunani yang bisa mengubah apapun yang dia sentuh menjadi emas. Sebelum bergabung ke Indosat, Erik terakhir menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom (BTel). Sejak bergabung BTel di tahun 2007 lalu, ia diberi tanggung jawab memegang kendali bidang Sales, Marketing & Customer Relationship Management di anak perusahaan Bakrie & Brothers Tbk tersebut.

Berkat tangan dinginnya, BTel dengan produk andalannya Esia berhasil menguasai pasar layanan CDMA di Indonesia. Jauh sebelum bergabung dengan BTel, Erik sudah membuktikan kepiawaiannya di ranah seluler GSM saat masih mengangkat bendera Telkomsel selama 11 tahun. Di operator yang identik dengan warna merah ini, Erik merupakan tokoh dibalik layar kesuksesan tim Marketing dan Customer Relationship Management (CRM) Telkomsel, saat memegang jabatan sebagai Vice President Marketing & CRM.

Kini dengan keahliannya yang seperti memiliki kekuatan “sentuhan midas”, Erik pun dianggap datang disaat yang tepat untuk bergabung ke Indosat. Pasalnya, kinerja operator ‘kuning’ tersebut dalam beberapa tahun terakhir terus jeblok. Pria ‘Londo ’ ini diharapkan bisa mengangkat kembali performa Indosat yang terus menurun. Nah, untuk mengetahui lebih jauh sosok ayah dari Eddy Maliq Meijer, Telset pun berkesempatan bertemu dan mewawancarai pria ramah ini di kantornya. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana awalnya Anda terjun ke industri telekomunikasi?

Pertama kali saya terjun ke industri telekomunikasi adalah pada saat kuliah dulu kebetulan saya praktek kerja di PTT Telecom Netherlands (semacam Telkom kalau di Indonesia, Red). Kebetulan selama praktek kerja tersebut, bos saya melihat hasil kerja saya bagus. Akhirnya setelah selesai kuliah, saya ditempatkan di Indonesia, bergabung di Telkom dan Telkomsel. Hingga akhirnya keterusan kerja di bidang telekomunikasi sampai sekarang.

Apa yang membuat Anda tertarik dengan industri telekomunikasi?

Saya tertarik dengan bidang telekomunikasi karena saya melihat industri ini yang paling seru dan dinamis. Jika kita sebagai konsumen, kita bisa lihat iklan di tv sekarang yang paling heboh adalah iklan produk telekomunikasi. Selain itu, inovasi-inovasi di industri telko paling cepat dibanding industri lainnya. Contohnya produk shampo 10 tahun lalu dengan yang sekarang tidak ada bedanya, paling cuma kemasannya saja yang berbeda. Sedangkan di industri telko, kita bisa lihat ponsel 10 tahun lalu dengan ponsel yang ada saat ini, teknologinya sudah sangat jauh berbeda.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri telko di Indonesia, dari pertama  datang di tahun 1993 hingga saat ini?

Perkembangannya sangat luar biasa selama 19 tahun saya di Indonesia. Saat pertama saya datang ke sini tahun 1993, ponsel hampir bisa dibilang belum ada. Saat itu baru ada sistem yang namanya AMPS dan MMT. Sedangkan teknologi GSM mulai diterapkan saat saya baru sekitar 1 atau 2 tahun tinggal di Indonesia. Saat itu yang pertama mengembangkan teknologi GSM di sini adalah Satelindo. “Tapi harga ponselnya juga masih sangat mahal, yakni sekitar 10 jutaan,” ucap Erik mengenang masa saat pertama memulai petualangannya di Indonesia.

Sementara dari sisi pertumbuhan pelanggan juga sangat luar biasa. Saat pertama saya masuk ke Telkomsel, pelanggannya masih sedikit sekali, paling hanya sekitar beberapa ribu pelanggan saja. Sekarang Telkomsel sudah punya 100 juta lebih pelanggan. Ini artinya volume-nya sudah jauh lebih besar. Dan yang menarik, jika dulu orang hanya menggunakan telepon di Fixed Line, sekarang telpon Fixed Line justru sudah hampir tidak ada, karena semua orang sudah menggunakan ponsel. Ini menunjukan adanya perubahan teknologi yang luar biasa. Perkembangan lainnya adalah, jika dulu hanya ada satu operator telekomunikasi di Indonesia, sekarang telah berkembang menjadi 11 operator.

Dari sisi pemanfaatannya juga sudah sangat jauh beda. Jika 15 tahun lalu kita tidak memegang ponsel gak jadi masalah. Tapi sekarang setiap orang tidak bisa lepas dari ponsel sebagai alat komunikasi utama. Bahkan saat ini orang bisa memiliki ponsel lebih dari satu. Contoh lainnya, kalau dulu ponsel cuma digunakan untuk voice dan SMS, sekarang sudah beralih ke Internet messenger. “Kebayang gak dulu bisa browsing Internet lewat ponsel? Hal-hal tersebut yang membuat saya semangat di industri ini,” kata pria lulusan Hanzehogeschool Groningen, Belanda, jurusan International Business tahun 1991 ini.

Bagaimana Anda membandingkan perkembangan industri telko di Indonesia dengan negara-nagara lainnya?

Perkembangan industri di Indonesia sudah tidak ketinggalan dibanding negara lain. Bahkan kalau saya bisa bilang, Indonesia kadang melompati fase yang di negara lain belum lalui, atau yang biasa dikenal dengan istilah “leapfroging” (lompatan). Kalaupun ada yang bilang Indonesia ketinggalan, itu hanya dengan beberapa negara saja. Misalnya dengan Amerika Serikat, beberapa negara di Eropa, atau di Asia dengan Singapura, memang dari sisi kecepatan Internet mereka lebih baik. Cuma kalau perbandingannya dengan Singapura, jelas mereka bisa memiliki kualitas Internet lebih cepat, karena jangkauan wilayahnya lebih kecil. Sementara di Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas dengan ada sekitar 17 ribu pulau, sudah pasti akan lebih sulit karena terbentur kendala geografis.

Namun jika dilihat dari perkembangan inovasinya, Indonesia kadang justru lebih maju dibanding negara lain. Contohnya, Indonesia adalah negara yang pertama memperkenalkan layanan pra bayar di dunia. Indonesia diakui sebagai salah satu negara pertama yang sukses menerapkan layanan pra bayar sehingga bisa besar dan mendunia seperti saat ini. “Bahkan banyak negara yang datang ke sini untuk belajar tentang pra bayar,” sebut suami dari artis sinetron Maudy Kusnaedi ini dengan mimik serius.

Bagaimana Anda melihat kendala infrastruktur di Indonesia?

Kendala utama sebenarnya cuma ada di challenge negara. Karena dengan kondisi geografis Indonesia yang banyak gunung, laut, dan terdiri dari sekitar 17 ribu pulau, membuat kondisi geografisnya sangat sulit. Kondisi tersebut memang menjadi suatu kendala dalam mengembangkan infrastruktur jaringan telekomunikasi. Di Jakarta saja, kita menghadapi masalah dengan kondisi bangunan yang sudah sangat padat. Ini membuat para operator kesulitan saat ingin menarik kabel optik. “Masalah-masalah inilah yang menjadi challenge bagi pemerintah,” kata pria yang pernah dinobatkan sebagai Voted as a Creative Marketer oleh MIX Marketing Magazine pada tahun 2007.

Anda sudah pernah berkarir di 3 operator besar, Telkomsel, Bakrie Telecom, dan sekarang Indosat. Sebenarnya apa yang Anda cari?

Yang saya cari adalah tempat dimana saya bisa mendapatkan nilai tambah buat perkembangan saya. Karena jika saya bekerja tidak berkembang juga buat apa. Kalau dulu saya masuk Telkomsel saya ingin membuat sesuatu yang belum ada atau bisa dikatakan hampir nol, akhirnya bisa menjadi lebih besar. Dan setelah 11 tahun saya ikut membesarkan Telkomsel, akhirnya saya ingin orang Indonesia sendiri yang bisa melanjutkannya, agar mereka juga bisa lebih maju dan ikut menjadi besar.

Makanya saya lalu berpikir ingin mencari semangat baru, pengalaman baru, ilmu baru dan mendapatkan tantangan yang baru. Oleh sebab itu saya kemudian memutuskan pindah ke operator yang lebih kecil dengan teknologi dan lisensi yang berbeda, yakni di  Bakrie Telecom. Lalu setelah 5 tahun berhasil membangun Esia menjadi besar, saya kembali ingin mencari tantangan baru yang lebih besar di Indosat

Apakah Anda puas dengan hasil kerja Anda di dua operator sebelumnya?

Iya, dari sisi hasil kinerja, saya merasa puas. Karena saya memang selalu melihat hasil kinerja dari sisi tingkat pertumbuhan. Saya dulu pertama masuk Telkomsel, pelanggannya mungkin baru sekitar 50 ribu pelanggan. Dan saat meninggalkan Telkomsel, pelanggannya telah tumbuh hingga puluhan juta. Begitu juga saat masuk BTel, pelanggannya baru 1,5 juta. Dan disaat keluar, pelanggannya sudah bertambah menjadi 14 juta. Selain itu, dari sisi transformasi produk juga sudah banyak sekali yang dibuat selama saya bergabung di dua operator tersebut.

Ada tidak keinginan yang belum sempat terwujud di tempat sebelumnya?

Ada, yaitu waktu di Esia dulu saya sangat ingin mewujudkan Esia menjadi mobile operator. “Saat itu saya sudah menyiapkan semuanya, tapi karena lisensinya ketunda-tunda terus, akhirnya belum sempat launching hingga saya keluar,” ucap mantan President Director PT Bakrie Connectivity ini dengan nada sedikit kecewa.

Kondisi Indosat performanya sedang turun. Dari pandangan Anda, apa yang terjadi dengan Indosat saat ini?

Hmm….(berpikir sejenak), sebenarnya masih agak susah saya menjawabnya, karena memang sampai saat ini saya masih mencari tahu juga kenapa performa Indosat sekarang turun. Tapi yang sudah saya lihat, mungkin karena faktor Indosat sedang  kehilangan kedekatan dengan pasar. Hal ini bisa terjadi karena mungkin beberapa orang di jajaran petinggi Indosat yang berasal dari luar belum mengenal pasar Indonesia.

Lalu apa yang membuat Anda tertarik bergabung dengan Indosat?

Saya melihat Indosat sebenarnya sebagai perusahaan yang sangat luar biasa. Jujur saat dulu saya masih melihat Indosat sebagai pesaing, saya selalu melihat Indosat dengan perasaan takut. Karena Indosat bisa dibilang sebagai perusahaan yang punya segalanya. Mulai dari lisensinya lengkap, jaringannya luar biasa, dan punya SDM yang hebat. Cuma memang beberapa tahun terakhir, Indosat sempat kehilangan arah. Nah, jika semua aset ini bisa “dikembalikan ke jalan yang benar”, maka Indosat bisa menjadi kekuatan yang sangat luar biasa.

“Jadi bagi saya, ini menjadi suatu challenge yang menarik. Bagaimana bisa memanfaatkan semua aset yang ada, untuk mengembalikan Indosat menjadi perusahaan yang tumbuh fantastis,” ujar jebolan Sarjana International Marketing di Middlesex Polytechnic University, London, Inggris ini.

Apa rencana ke depan Anda setelah di Indosat?

Ok, mungkin di minggu-minggu pertama di Indosat saya tidak mau melakukan banyak perubahan, tapi saya lebih banyak ingin belajar dulu. Jadi saat ini saya banyak menghabiskan waktu untuk keliling ke area. “Sekarang setiap Kamis-Jumat, saya pasti ada di luar kota. Cuma Jumat ini saja saya tidak keluar kota karena ada janji wawancara dengan Telset, ha..haa…,” kata Erik sambil tertawa lepas.

Saya mengunjungi semua area Indosat, tujuannya selain mengenal orang dan melihat organisasinya lebih dalam, juga yang paling utama saya ingin mendengar langsung masukan dari teman-teman di area. Karena memang tujuan utama saya adalah ingin mendapatkan masukan tersebut dan mencari ide untuk pengembangan ke depan

Dan setelah keliling ke area, terbukti semua anggapan saya sebelum masuk ke Indosat adalah benar, yakni perusahaan ini memiliki orang-orang yang hebat dan pintar-pintar. Mereka sangat tahu aspirasi apa yang harus dilakukan kepada pasar atau mengerti apa keinginan pelanggan. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat menarik buat saya. Dan dari situ, sekarang saya mulai menyusun beberapa strategi untuk mewujudkan suatu perbaikan ke arah yang lebih baik.

Di Bakrie Telecom Anda berhasil mengangkat Esia. Di Indosat sendiri juga ada StarOne. Apakah Anda juga akan coba mengangkat StarOne?

Untuk saat ini saya belum punya rencana ke sana. Karena saya mungkin akan fokus dulu untuk mengembalikan performa Indosat dengan produk yang menjadi kekuatan perusahaan ini. “Saya masih mengevaluasi branding dari seluruh produk Indosat. Sampai saat ini saya belum bisa ungkapkan, tapi yang utama sekarang adalah saya akan berusaha untuk memajukan Indosat,” ucap peraih Lifetime Achievement Award dari Indonesia Cellular Awards 2007.

Apakah Anda punya target untuk membawa Indosat menjadi operator nomor satu di Indonesia?

Ya, keinginan ke arah sana sudah pasti ada. Tapi mungkin itu menjadi target jangka panjang saya. Karena yang lebih penting saat ini adalah target jangka pendek dulu, yakni ingin membawa Indosat ‘kembali ke jalan yang benar’ menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa di industri telekomunikasi Indonesia. [hbs]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0