Signal Jadi Pilihan Pejabat AS Bahas Operasi Militer, Ini Respons Bosnya

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Dalam dunia yang semakin sadar privasi, Signal terus menegaskan posisinya sebagai aplikasi pesan paling aman. Baru-baru ini, popularitasnya melonjak setelah digunakan oleh pejabat tinggi Amerika Serikat untuk membahas operasi militer rahasia—sebuah skenario yang memicu perdebatan sengit.

Signal: “Gold Standard” Privasi yang Diuji

Presiden Signal, Meredith Whittaker, dengan tegas membela aplikasi ini setelah 18 pejabat AS—termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth—menggunakannya untuk merencanakan serangan terhadap Houthi di Yaman. Grup Signal bernama “Houthi PC Small Group” itu bahkan secara tidak sengaja memasukkan seorang jurnalis, memicu kekhawatiran akan kebocoran informasi sensitif.

Whittaker tidak secara langsung mengomentari kelalaian pejabat tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa Signal adalah “standar tertinggi” dalam komunikasi privat. “Kami open source, nonprofit, dan menggunakan enkripsi end-to-end yang melindungi pesan dan metadata,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus menjadi tamparan halus bagi WhatsApp, yang selama ini menjadi pesaing utamanya.

WhatsApp vs. Signal: Perang Metadata

Whittaker tak ragu menyoroti kelemahan WhatsApp, yang menurutnya mengumpulkan metadata pengguna. “Saat dipaksa, WhatsApp bisa menyerahkan data penting yang menyimpan banyak informasi,” tegasnya dalam postingan di X. Metadata ini mencakup siapa mengirim pesan kepada siapa dan seberapa sering komunikasi terjadi—informasi yang bisa disalahgunakan.

WhatsApp membantah dengan menyatakan bahwa metadata hanya digunakan untuk memerangi spam dan penyalahgunaan layanan. “Kami tidak memantau pesan pribadi atau menggunakannya untuk iklan,” kata juru bicaranya. Namun, bagi banyak pengguna, klaim Signal tentang zero-data collection tetap lebih menarik.

Lonjakan Popularitas Signal di AS dan Eropa

Menurut data Sensor Tower, unduhan Signal meningkat 16% pada kuartal pertama 2025 dibanding periode sebelumnya, dan naik 25% dari tahun 2024. Fenomena ini tak lepas dari kesadaran publik akan privasi digital, terutama di kalangan pejabat dan aktivis.

Signal juga menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menghindari pengawasan pemerintah. Beberapa negara seperti Venezuela dan Rusia bahkan sempat memblokir aplikasi ini, memperkuat reputasinya sebagai alat komunikasi yang sulit dibatasi.

Kesalahan Manusia vs. Keamanan Teknologi

Kasus grup “Houthi PC Small Group” mengingatkan kita bahwa teknologi sekuat apa pun tetap bergantung pada penggunanya. Signal mungkin bisa menjamin enkripsi, tetapi human error—seperti salah memasukkan anggota grup—tetap menjadi risiko besar.

Pertanyaannya sekarang: Akankah insiden ini justru memperkuat kepercayaan publik pada Signal, atau malah memicu kekhawatiran baru? Satu hal yang pasti, perdebatan tentang privasi versus keamanan nasional belum akan berakhir dalam waktu dekat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TEKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI