SiFive Raih Valuasi Rp 57 Triliun, Didukung Nvidia untuk Chip AI Terbuka

SiFive Raih Valuasi Rp 57 Triliun, Didukung Nvidia untuk Chip AI Terbuka

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Bayangkan sebuah perusahaan chip yang didirikan oleh para akademisi, dengan desain prosesor terbuka, tiba-tiba mendapat suntikan dana segar dan dukungan dari raksasa yang sedang menguasai dunia. Itulah yang terjadi pada SiFive. Startup yang berbasis di San Francisco ini baru saja mengamankan putaran pendanaan senilai $400 juta atau setara dengan Rp 6,3 triliun (kurs: Rp 15.800 per dolar AS), yang mendorong valuasinya melambung ke angka $3,65 miliar atau sekitar Rp 57,7 triliun. Yang membuatnya semakin menarik? Nvidia, sang juara dunia AI saat ini, ada di antara para investor yang mendukung langkah besar ini.

Ini bukan sekadar soal angka yang fantastis. Cerita di balik pendanaan ini adalah tentang pergeseran kekuatan di lanskap komputasi yang paling fundamental. Selama ini, dunia CPU didominasi oleh dua arsitektur: x86 dari Intel dan ARM dari perusahaan asal Inggris yang kini dimiliki SoftBank. Keduanya adalah tulang punggung dari hampir semua perangkat komputasi, dari laptop hingga server raksasa yang menjalankan model AI. Namun, SiFive membawa sesuatu yang berbeda: RISC-V. Sebuah arsitektur chip yang sepenuhnya terbuka, seperti Linux di dunia perangkat lunak. Dan kini, dengan dana segar dan restu dari Nvidia, SiFive siap membawa RISC-V dari ranah sistem tertanam dan perangkat kecil, langsung ke jantung perang AI: pusat data.

Pendanaan yang oversubscribed ini dipimpin oleh Atreides Management, firma yang didirikan oleh mantan petinggi investasi Fidelity, Gavin Baker. Tapi daftar investornya membaca seperti siapa saja di dunia keuangan dan teknologi: Apollo Global Management, D1 Capital Partners, Point72, Turion, T. Rowe Price, dan Sutter Hill Ventures. Kehadiran Nvidia di tengah kerumunan ini bagai petir di siang bolong. Mengapa raksasa GPU yang sedang di puncak kejayaannya itu tertarik untuk mendukung sebuah startup dengan desain CPU terbuka? Jawabannya mungkin terletak pada strategi jangka panjang dan keinginan untuk tidak bergantung pada pemasok tradisional seperti Intel dan AMD, yang justru sedang berusaha menyaingi dominasi Nvidia di AI.

Model bisnis SiFive sebenarnya mirip dengan Arm di masa lalu: mereka tidak memproduksi chip fisik. Alih-alih, mereka melisensikan desain inti prosesor RISC-V mereka kepada perusahaan lain, yang kemudian dapat memodifikasinya sesuai kebutuhan spesifik produk mereka. Ini adalah model yang terbukti sukses dan efisien. Namun, konteksnya kini berubah drastis. Arm sendiri baru-baru ini mengubah haluan dengan meluncurkan chip AI buatannya sendiri yang diproduksi secara langsung, bekerja sama dengan Meta dan diklaim akan digunakan oleh pelanggan seperti OpenAI dan Cloudflare. Di tengah gejolak ini, SiFive muncul dengan proposisi nilai yang unik: netralitas dan keterbukaan.

Dengan uang segar sebesar Rp 6,3 triliun, misi SiFive jelas: menyerang pasar CPU untuk pusat data AI. Ini adalah lompatan besar. RISC-V selama ini lebih dikenal di aplikasi yang kurang glamor namun kritis, seperti pengendali dalam perangkat IoT, sensor, atau mikrokontroler. Kini, mereka mengincar server-server yang menjalankan pelatihan model bahasa besar seperti GPT. Yang lebih strategis lagi, desain SiFive dirancang untuk bekerja secara mulus dengan ekosistem Nvidia. Mereka akan kompatibel dengan CUDA, perangkat lunak yang menjadi tulang punggung pemrograman GPU Nvidia, dan NVLink Fusion, sistem server rack yang memungkinkan berbagai jenis CPU terhubung ke apa yang disebut Nvidia sebagai “pabrik AI”.

Baca Juga:

Bayangkan skenario ini: sementara Intel dan AMD berjuang mati-matian untuk menciptakan akselerator AI yang dapat menyaingi GPU Nvidia, Nvidia sendiri justru memilih untuk berinvestasi pada sebuah startup berusia 11 tahun yang menawarkan jalan alternatif. Ini adalah permainan catur tingkat tinggi. Dengan mendukung SiFive dan RISC-V, Nvidia tidak hanya mendiversifikasi rantai pasok CPU-nya, tetapi juga berpotensi menciptakan standar baru yang lebih terbuka dan mungkin lebih sulit untuk dikunci oleh pesaing. Dalam industri di mana kekuatan komputasi adalah mata uang baru, memiliki pengaruh atas arsitektur dasar adalah keuntungan strategis yang tak ternilai.

Putaran pendanaan ini juga menandai momentum yang kuat bagi SiFive. Menurut data Pitchbook, perusahaan ini terakhir mengumpulkan dana pada Maret 2022, yaitu $175 juta yang dipimpin Coatue Management dengan valuasi pra-pendanaan $2,33 miliar. Investor pada saat itu termasuk Intel Capital dan Qualcomm Ventures. Lonjakan valuasi dari Rp 36,8 triliun ke Rp 57,7 triliun dalam waktu sekitar empat tahun mencerminkan keyakinan pasar yang besar terhadap potensi RISC-V di era AI, terutama setelah mendapatkan legitimasi dari Nvidia. Ini adalah sinyal kuat bahwa arsitektur terbuka ini siap untuk panggung utama.

Lantas, apa artinya bagi kita, para pengamat dan pelaku industri? Pertama, ini adalah bukti bahwa monopoli arsitektur chip sedang digoyang. Keterbukaan RISC-V menawarkan fleksibilitas dan kemandirian yang didambakan banyak perusahaan teknologi besar yang lelah dengan ketergantungan dan biaya lisensi. Kedua, aliansi antara Nvidia dan SiFive bisa menjadi awal dari ekosistem AI yang lebih terfragmentasi, namun juga lebih inovatif. Jika Anda berpikir persaingan chip AI hanya tentang Nvidia versus yang lain, pikirkan lagi. Sekarang, ada pemain dengan filosofi desain yang sama sekali berbeda di meja permainan, dan didukung oleh sang juara itu sendiri.

Perjalanan SiFive tentu tidak akan mudah. Mereka harus membuktikan bahwa desain RISC-V mereka dapat menandingi kinerja dan efisiensi energi x86 dan ARM di beban kerja AI skala enterprise. Mereka juga harus meyakinkan lebih banyak mitra untuk mengadopsi platform yang masih dianggap baru ini. Namun, dengan kantong yang dalam dan dukungan dari nama-nama besar, peluang mereka terbuka lebar. Ini bukan lagi sekadar startup akademis; ini adalah penantang serius yang didukung oleh kekuatan modal dan visi strategis raksasa teknologi. Dunia chip AI, yang sudah panas, baru saja mendapat bahan bakar baru. Dan kita semua akan menyaksikan apakah api keterbukaan ini akan membakar habis dominasi lama, atau justru menempa aliansi baru yang akan membentuk masa depan komputasi. Sementara itu, upaya untuk menciptakan alternatif chip AI terus berjalan, seperti yang dilakukan oleh OpenAI dengan chip sendiri, atau spekulasi tentang pergantian kepemimpinan di internal arsitek chip Apple. Persaingan semakin sengit, dan SiFive telah melempar sarung tangannya.