📑 Daftar Isi

Ilustrasi keamanan siber dengan latar belakang jaringan cloud dan kode digital

ShinyHunters Ancam CyrusOne, Pusat Data Microsoft dan Meta

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • ShinyHunters menambahkan CyrusOne ke daftar korban, klaim curi 12,9 juta catatan Salesforce dan 600GB data SharePoint
  • Data curian termasuk PII karyawan, kontrak, denah pusat data, diagram kelistrikan, dan kredensial
  • ShinyHunters menuntut tebusan $13 juta, CyrusOne tidak berkomentar dan menolak negosiasi
  • Data teknis fasilitas berpotensi digunakan untuk serangan fisik ke pusat data
  • CyrusOne mengoperasikan 50 fasilitas di AS, melayani klien seperti Microsoft, Meta, Verizon, AT&T, IBM
  • Informasi pelanggan yang dicuri berisiko memicu serangan phishing dan supply-chain attack
  • Kronologi: nama korban disamarkan 20 Agustus 2026, diumumkan publik 23 Agustus 2026
  • Insiden berpotensi menjadi salah satu pelanggaran data paling parah yang pernah ada

Telset.id – Kelompok ransomware ShinyHunters kembali menjadi sorotan setelah menambahkan CyrusOne, operator pusat data besar asal Amerika Serikat, ke dalam daftar korban mereka. Mereka mengklaim telah mencuri 12,9 juta catatan Salesforce dan lebih dari 600 GB data SharePoint, yang jika terbukti benar, berpotensi menjadi bencana besar bagi perusahaan dan para pelanggannya.

Klaim pencurian data ini mencakup lebih dari 182.000 baris dari objek Salesforce Contacts, lebih dari 8.300 catatan karyawan yang berisi informasi identitas pribadi (PII), kontrak yang telah ditandatangani, perjanjian induk layanan (MSA), NDA, dan perjanjian layanan. Yang lebih mengkhawatirkan, data yang dicuri juga meliputi denah lantai pusat data, diagram kelistrikan, catatan kontrol akses, audit lencana, inventaris kunci fisik, kebijakan keamanan, dan berbagai kredensial kata sandi.

Hingga saat ini, ShinyHunters belum memposting sampel data yang dicuri. Para peneliti menilai hal ini bukanlah sesuatu yang mencurigakan, melainkan sebuah taktik tekanan terhadap CyrusOne. Kelompok peretas ini menuntut tebusan sebesar $13 juta sebagai imbalan untuk menghapus semua data curian tersebut.

Sementara itu, CyrusOne dikabarkan tidak memberikan komentar terkait klaim ini dan tampaknya tidak tertarik untuk melakukan negosiasi. “Mereka menolak membayar tuntutan $13 juta. Mereka punya waktu 24 jam untuk menghubungi kami. Kami memegang 12,9 juta catatan Salesforce,” tulis para penyerang dalam pernyataan yang diduga mereka buat.

Ancaman Keamanan Fisik di Balik Serangan Siber

Insiden ini memiliki potensi menjadi salah satu pelanggaran data paling parah yang pernah ada. Berbeda dengan serangan ransomware pada umumnya, sebagian data yang dicuri tidak bisa begitu saja diganti. Denah lantai pusat data, diagram kelistrikan, catatan kontrol akses, audit lencana, hingga inventaris kunci fisik adalah jenis intelijen yang dapat digunakan untuk melakukan pelanggaran fisik.

Jika para penjahat mengetahui bagaimana kunci dialokasikan, bagaimana pusat data diorganisasi, di mana lokasi kamera pengawas, dan bagaimana petugas keamanan beroperasi, mereka akan lebih mudah untuk membobol secara fisik. “Anda tidak bisa menambal gedung,” demikian peringatan para peneliti, seraya menambahkan bahwa beberapa hal yang bisa diubah, seperti kunci fisik dan zona akses, tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan dan biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, ShinyHunters juga diduga mencuri informasi tentang proses kelistrikan, pendinginan, dan keandalan lingkungan kritis milik CyrusOne. Informasi ini dapat dimanfaatkan untuk menyerang server secara fisik, menyebabkan gangguan, pemadaman, dan bahkan kebakaran.

CyrusOne mengoperasikan sekitar 50 fasilitas di seluruh Amerika Serikat dan melayani ratusan perusahaan. Beberapa kliennya termasuk perusahaan Fortune 1000, serta nama-nama besar di bidang teknologi seperti Microsoft, Meta, Verizon, AT&T, IBM, dan CME Group.

Data center

Masalah menjadi semakin kompleks karena ShinyHunters juga mencuri informasi tentang pelanggan CyrusOne, seperti Meta dan Microsoft. Informasi tentang lokasi pelanggan tertentu, layanan yang mereka bayar, NDA, perjanjian tingkat layanan, dan informasi kontak, semuanya dapat digunakan untuk serangan phishing yang sangat terarah. Hal ini berpotensi mengubah insiden ini menjadi serangan rantai pasokan pihak ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kontrak, MSA, dan NDA mengidentifikasi penyewa sebagai daftar pelanggan yang dilapisi pada peta bangunan, dengan harga dan SLA yang terlampir,” tambah para peneliti.

Kronologi Serangan dan Ultimatum

Kelompok ShinyHunters pertama kali menambahkan CyrusOne ke situs mereka pada 20 Agustus 2026, meskipun pada saat itu nama korban masih disamarkan. Sebagai gantinya, ShinyHunters memasang peringatan yang berbunyi “Peringatan terakhir – bayar atau bocorkan”.

Perusahaan tersebut diberi waktu hingga 24 Agustus untuk menghubungi mereka, namun tampaknya hal itu tidak terjadi. Tiga hari kemudian, pada 23 Agustus, ShinyHunters secara publik menyebut CyrusOne sebagai korban mereka dan menyatakan bahwa mereka menuntut $13 juta untuk file-file tersebut.

Saat ini, tenggat waktu telah jauh terlewati dan tidak ada perubahan yang terjadi. Korban belum angkat bicara, dan ShinyHunters juga belum membocorkan file-file tersebut. Para peneliti menduga bahwa data yang dicuri, termasuk informasi pelanggan, dapat digunakan untuk serangan phishing yang sangat canggih dan terarah, yang pada akhirnya bisa berujung pada serangan rantai pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Insiden ini menunjukkan bahwa serangan siber tidak lagi hanya berdampak pada data digital, tetapi juga dapat mengancam keamanan fisik. Kelompok seperti ShinyHunters terus menjadi ancaman serius bagi perusahaan besar. Sebelumnya, kelompok yang sama juga telah mengincar berbagai perusahaan lain, menunjukkan pola serangan yang konsisten dan berbahaya di dunia maya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.