📑 Daftar Isi

Senator Bernie Sanders saat mengumumkan pengajuan Ban Flock Act yang melarang lembaga federal menggunakan pembaca pelat nomor otomatis

Senator Sanders Ajukan RUU Larangan Kamera Flock untuk Federal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Senator Bernie Sanders ajukan Ban Flock Act larang lembaga federal pakai ALPR
  • RUU berlaku untuk semua sistem ALPR, bukan hanya Flock
  • Pengecualian hanya untuk tol dan penggunaan disetujui Kongres dengan retensi maksimal 48 jam
  • Sanksi finansial bagi negara bagian yang tidak patuh, kehilangan hibah lima departemen federal
  • Flock hadapi tekanan publik, pembatalan kontrak, dan perketat aturan retensi data jadi 7 hari
  • CEO Garrett Langley dijadwalkan hadir di Disrupt 13-15 Oktober San Francisco

Telset.id – Senator Bernie Sanders resmi mengajukan “Ban Flock Act”, sebuah RUU yang melarang lembaga federal menggunakan pembaca pelat nomor otomatis (ALPR) atau mengakses data yang dikumpulkan oleh kamera milik kepolisian lokal dan perusahaan swasta. Langkah ini menandai babak baru dalam pertarungan antara privasi publik dan pengawasan berbasis teknologi di Amerika Serikat.

RUU yang diperkenalkan pada Jumat tersebut menyasar seluruh sistem ALPR, bukan hanya Flock. Meski judulnya menyebut nama Flock, teks RUU tidak secara spesifik menargetkan vendor tersebut. Sanders (D-Vermont) menegaskan bahwa aturan ini berlaku untuk semua teknologi pembaca pelat nomor yang digunakan lembaga federal.

Flock sendiri merupakan vendor ALPR terbesar di Amerika Serikat menurut Sanders, dengan lebih dari 120.000 kamera yang tersebar di berbagai wilayah. Dalam sebuah unggahan blog pada Februari lalu, perusahaan mengklaim jaringannya memproses lebih dari 20 miliar pembacaan kendaraan setiap bulan. Skala operasi inilah yang menjadikan Flock sebagai target utama dalam perdebatan kebijakan privasi.

Isi dan Konsekuensi Ban Flock Act

RUU ini memberikan pengecualian hanya untuk dua hal: pengumpulan tol dan penggunaan yang disetujui Kongres melalui undang-undang di masa depan. Pengecualian tersebut mensyaratkan retensi data tidak boleh lebih dari 48 jam.

Jika RUU ini menjadi undang-undang, pemerintah negara bagian dan lokal yang tidak mematuhi aturan akan terkena sanksi finansial. Mulai tahun fiskal pertama setelah penetapan, mereka akan kehilangan hibah dari lima departemen federal, termasuk Departemen Kehakiman dan Departemen Keamanan Dalam Negeri, kecuali jika mereka melarang teknologi tersebut.

Selain itu, warga Amerika Serikat dapat menggugat pemerintah federal atas pelanggaran aturan ini, dan jaksa agung negara bagian diberi wewenang untuk menegakkan hukum. Namun, seperti kebanyakan RUU, proposal ini menghadapi peluang yang sulit untuk lolos.

Representatif Alexandria Ocasio-Cortez (D-N.Y.) dan Senator Jeff Merkley (D-Ore.) tercatat sebagai co-sponsor RUU ini.

Tekanan Publik dan Respons Flock

Flock menghadapi tekanan yang meningkat dari berbagai komunitas yang memprotes produk mereka. Sejumlah komunitas dilaporkan menangguhkan penggunaan kamera, dan dengan laju yang meningkat, membatalkan kontrak mereka.

Menanggapi situasi ini, Flock memperketat aturannya. Pada Agustus, CEO Garrett Langley mengumumkan periode retensi data default yang baru, yaitu tujuh hari, turun dari sebelumnya 30 hari. Langley sebelumnya menyatakan bahwa cara polisi menggunakan kamera sepenuhnya menjadi keputusan lembaga lokal.

Selain itu, pelanggan kini diwajibkan menggunakan alat audit yang mengunci petugas dari sistem selama menunggu peninjauan ketika aktivitas pencarian yang tidak biasa terdeteksi.

Dalam salah satu kasus penyalahgunaan platform Flock yang paling menonjol, seorang mantan petugas Milwaukee mengaku bersalah atas pelanggaran setelah melakukan pencarian terhadap mantan pasangannya dan mantan kekasih orang tersebut sebanyak 179 kali, dengan mencantumkan alasan “investigasi”.

Dalam sebuah wawancara podcast baru-baru ini, investor Jason Calacanis menyarankan sistem “double-key” di mana dua orang harus menyetujui sebuah pencarian. Langley merespons bahwa ide tersebut sedang “di papan tulis” atau dalam tahap pertimbangan.

Perkembangan kebijakan privasi dan pengawasan berbasis AI ini sejalan dengan sejumlah inisiatif legislatif lain yang digagas Sanders. Sebelumnya, ia juga mengusulkan AI Dikuasai Publik 50% dalam sebuah proposal yang mendapat respons dari kalangan industri.

Flock dan Langley dijadwalkan hadir dalam sesi diskusi pada acara Disrupt yang berlangsung 13-15 Oktober di downtown San Francisco. Forum tersebut diperkirakan menjadi ajang bagi perusahaan untuk menjelaskan posisinya di tengah gelombang kritik publik dan tekanan legislatif yang terus menguat.

Perdebatan seputar ALPR dan privasi ini juga menjadi bagian dari diskursus yang lebih luas tentang pengawasan teknologi. Sanders sendiri dikenal vokal dalam isu-isu terkait teknologi dan dampaknya terhadap masyarakat, termasuk ketika ia Ancam Penjara Pengembang dalam konteks pengembangan AI super yang dianggap berisiko.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.