Terinspirasi Star Wars, Ilmuwan Ciptakan Kulit Elektronik

Ilmuwan ciptakan kulit elektronik

Telset.id, Jakarta  – Para peneliti Singapura telah mengembangkan “kulit elektronik” yang mampu menciptakan rasa sentuhan. Inovasi tersebut hadir lantaran para ilmuwan terinspirasi oleh film Star Wars.

Menurut laporan New York Post, dikutip Telset.id, Rabu (5/8/2020), inovasi kulit elektronik ini digadang bakal memungkinkan orang dengan kaki palsu untuk mendeteksi objek serta merasakan tekstur, bahkan suhu.

{Baca juga: Manusia Ternyata Bisa Hidup Normal dengan Separuh Otak?}

Peneliti National University of Singapore menyebut, perangkat berjuluk ACES atau Asynchronous Coded Electronic Skin tersebut terdiri atas 100 sensor kecil dan berukuran sekitar 1 sq cm (0,16 inci persegi).

Mereka mengklaim, ACES dapat memproses informasi lebih cepat daripada sistem saraf manusia, mampu mengenali hingga 30 tekstur berbeda, dan dapat membaca huruf Braille dengan akurasi 90 persen.

“Manusia perlu merasakan tekstur. Namun, kulit mampu mendeteksinya hanya dengan satu sentuhan. Kami menggunakan algoritma kecerdasan buatan,” kata pemimpin tim peneliti, Benjamin Tee.

Demonstrasi yang dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa alat itu dapat mendeteksi bola tegangan yang empuk dan lunak. Alat tersebut juga bisa menentukan bahwa bola plastik padat itu keras.

“Ketika kehilangan indra sentuhan, Anda pada dasarnya menjadi mati rasa. Dengan menciptakan versi buatan kulit, kami meyakinkan Anda dapat memegang tangan dan merasakan kehangatan,” imbuh Tee.

Tee mengatakan, konsep tersebut terinspirasi oleh adegan dari trilogi film “Star Wars”. Karakter Luke Skywalker kehilangan tangan kanan dan digantikan oleh tangan robot sehingga bisa merasakan sentuhan.

Sebelumnya, para ilmuwan telah menggunakan sel induk embrionik manusia untuk membuat model penelitian mirip embrio. Tujuannya untuk membantu mereka mempelajari beberapa tahap awal perkembangan manusia.

Menggunakan embrio untuk penelitian sendiri disebut-sebut akan memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari periode perkembangan manusia yang dikenal sebagai “kotak hitam”. Hal ini diklaim belum pernah diamati langsung sebelumnya.

“Model kami menghasilkan bagian dari cetak biru manusia,” kata Alfonso Martinez-Arias, profesor di Universitas Cambridge Inggris yang memimpin proyek tersebut, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Jumat (13/6/2020).

{Baca juga: Ilmuwan Bikin Model Penelitian Embrio dari Sel Induk Manusia}

Sangat menarik untuk menyaksikan proses perkembangan yang sampai sekarang tersembunyi. Harapannya, pemahaman proses itu dapat mengungkap penyebab cacat lahir manusia dan penyakit untuk pengembangan tes.

Cetak biru suatu organisme muncul melalui proses yang dikenal dengan “gastrulasi”, yang pada manusia dimulai sekira dua minggu menuju perkembangan. Gastrulasi disebut sebagai periode ‘kotak hitam’ perkembangan manusia. [SN/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here