Ilustrasi Elon Musk melihat ponsel dengan ekspresi serius terkait saham SpaceX

Saham SpaceX Anjlok Usai IPO, Skor ESG Terendah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Saham SpaceX turun ke US$167, hapus seluruh kenaikan pasca-IPO
  • MSCI beri skor ESG terendah setara Kremlin akibat dampak lingkungan
  • Elon Musk kecam peringkat, klaim roket listrik tidak mungkin
  • Skor kontroversi 1/10, tata kelola 3,2/10
  • Musk kuasai 80% voting power, risiko tata kelola tinggi
  • SpaceX langgar aturan lingkungan, buang limbah beracun
  • Tesla sebelumnya juga dikeluarkan dari indeks ESG S&P 500

Telset.id – Saham SpaceX mengalami penurunan drastis hingga ke level sekitar US$167 pada perdagangan Senin pagi, menghapus seluruh kenaikan yang terjadi pekan lalu setelah debut IPO perusahaan antariksa milik Elon Musk.

Penurunan ini terjadi setelah laporan dari Financial Times mengungkapkan bahwa SpaceX menerima laporan kinerja yang buruk dari penyedia indeks global MSCI. Laporan tersebut dirilis satu hari menjelang IPO perusahaan. MSCI memberikan peringkat Environmental, Social, and Governance (ESG) terendah kepada SpaceX, menempatkannya setara dengan Kremlin milik Presiden Rusia Vladimir Putin pasca invasi Ukraina tahun 2022.

Skor ESG yang buruk ini langsung menuai respons dari Elon Musk. Alih-alih menerima evaluasi tersebut, Musk justru mengecam peringkat itu melalui cuitannya. “Sayangnya, roket listrik tidak mungkin,” tulis sang CEO, menepis kekhawatiran lingkungan yang disorot dalam laporan. Sikap ini dinilai kontradiktif mengingat Musk selama ini dikenal sebagai pendukung elektrifikasi mobil dan tenaga surya.

## Skor ESG yang Brutal

Dalam peringkat ESG MSCI, SpaceX tidak hanya mendapatkan nilai rendah untuk kategori lingkungan. Perusahaan roket ini juga mendapat nilai satu dari sepuluh untuk kategori “kontroversi”. Hal ini tidak mengejutkan mengingat rekam jejak Musk yang kerap terlibat dalam berbagai drama, mulai dari tuduhan korupsi, pernyataan rasis, hingga hubungannya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual dan miliarder keuangan Jeffrey Epstein.

Untuk kategori tata kelola perusahaan, SpaceX hanya mendapat skor 3,2 dari sepuluh. Analis memperingatkan bahwa Musk telah memberikan dirinya sendiri 80 persen kekuasaan voting, yang memberinya kendali penuh atas arah dan strategi perusahaan.

“Penilaian kontroversi yang buruk, penilaian tata kelola yang sangat buruk, dan peringkat ESG yang rendah secara keseluruhan seharusnya tidak mengejutkan siapa pun,” ujar Frédéric Ducoulombier, direktur program Edhec business school, kepada FT. “Ini sangat dekat dengan kisah horor tata kelola bagi investor pasar publik.”

## Dampak Lingkungan SpaceX

Di balik ambisinya membawa manusia ke luar angkasa, SpaceX meninggalkan jejak lingkungan yang signifikan. Roket-roket perusahaan membakar bahan bakar dalam jumlah besar dan mengeluarkan polutan gas rumah kaca langsung ke stratosfer. Selain itu, SpaceX juga pernah terbukti melanggar aturan lingkungan dengan membuang air limbah beracun dan merusak ekosistem serta satwa liar di sekitarnya.

Sikap Musk yang mengabaikan kekhawatiran lingkungan ini kontras dengan citranya sebagai pengusaha ramah lingkungan. Sebelumnya, Elon Musk telah membangun reputasi melalui Tesla, produsen mobil listrik yang ia pimpin. Ironisnya, Tesla sendiri pernah dikeluarkan dari Indeks ESG S&P 500 pada tahun 2022 karena kekhawatiran diskriminasi rasial, kondisi kerja yang buruk, dan kurangnya strategi rendah karbon.

Saat itu, Musk meluapkan kemarahannya dan menuduh S&P 500 “kehilangan integritas”. “Saya semakin yakin bahwa ESG perusahaan adalah Iblis yang Menjelma,” tambahnya kala itu.

## Implikasi bagi Investor

Penurunan saham SpaceX pasca-IPO dan peringkat ESG yang buruk menjadi peringatan keras bagi investor publik yang tertarik berinvestasi di perusahaan antariksa tersebut. Kekuasaan voting Musk yang dominan dan riwayat kontroversinya menimbulkan risiko tata kelola yang signifikan.

Meskipun IPO SpaceX sempat menjadi sorotan dan mendorong kenaikan harga saham yang cepat, faktor fundamental seperti risiko ESG dan tata kelola perusahaan kini mulai diperhitungkan oleh pasar. Situasi ini menunjukkan bahwa valuasi perusahaan tidak hanya ditentukan oleh prospek bisnis, tetapi juga oleh faktor non-finansial yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor dalam jangka panjang.

Ilustrasi foto Elon Musk sedang melihat ponselnya.

Komentar

Belum ada komentar.