📑 Daftar Isi

Robot kurir Serve Robotics melintas di trotoar kota dengan kamera dan sensor navigasi.

Robot Kurir Coco dan Serve Digugat soal Data Biometrik Warga Chicago

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Coco Robotics dan Serve Robotics digugat warga Chicago atas dugaan pengumpulan data biometrik tanpa izin
  • Robot kurir dituding merekam wajah, tubuh, dan tangan lewat kamera serta sensor LIDAR
  • Penggugat mengklaim tak pernah meminta atau menyetujui pengantaran oleh robot
  • Coco menyebut gugatan "frivolous" dan membantah mengumpulkan data biometrik di Chicago
  • Serve menegaskan sistemnya tak dirancang membuat profil biometrik individu
  • Illinois punya aturan ketat soal data biometrik, Chicago alami lonjakan robot kurir

Telset.id – Dua perusahaan robot kurir, Coco Robotics dan Serve Robotics, menghadapi gugatan hukum dari warga Chicago yang menuding robot mereka mengumpulkan data biometrik sensitif tanpa izin. Gugatan ini menyoroti risiko privasi yang muncul seiring makin masifnya otomasi layanan pengantaran di kota-kota Amerika Serikat.

Menurut laporan Associated Press, kedua gugatan diajukan oleh warga Chicago dengan klaim serupa: robot pengantar milik Coco dan Serve menggunakan kamera serta sensor LIDAR untuk merekam informasi tentang tangan, tubuh, dan wajah warga saat mereka menerima pesanan. Penggugat berargumen mereka tidak pernah meminta atau menyetujui pengantaran dilakukan oleh robot, sehingga tidak mungkin memberikan izin atas perekaman dan pengumpulan data oleh mesin tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan karena Illinois memiliki undang-undang yang secara khusus ketat melarang pengumpulan data biometrik tanpa persetujuan. Karena itu, tidak mengherankan jika gugatan semacam ini muncul di Chicago, kota yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan kehadiran robot kurir.

Klaim Penggugat dan Bantahan Perusahaan

Dalam gugatan terhadap Coco, penggugat juga menuding ada operator manusia yang memantau proses pengantarannya secara jarak jauh. Sementara itu, penggugat dalam kasus Serve mengklaim robot yang ia temui mengumpulkan dan menyimpan datanya saat ia mengambil pesanan Uber Eats. Gugatan tersebut turut mengangkat kekhawatiran bahwa data itu bisa digunakan untuk melatih AI atau diserahkan kepada pihak ketiga.

Kedua perusahaan membantah tuduhan tersebut. Coco menyatakan privasi adalah prioritas utama dan menyebut gugatan terhadap mereka sebagai “frivolous” atau tidak berdasar. “Gugatan ini secara fundamental salah memahami teknologi kami, kami tidak mengumpulkan data biometrik di Chicago,” kata Coco kepada AP.

Coco menegaskan data yang mereka bagikan adalah data navigasi untuk membuat trotoar lebih aman bagi semua pengguna. Sebagai contoh, mereka menyediakan informasi hambatan trotoar secara real-time kepada BlindSquare, aplikasi navigasi yang dirancang untuk penyandang tunanetra atau penglihatan rendah. Coco memastikan tidak membagikan data dari awal atau akhir perjalanan pengantaran dalam kemitraan berbagi data mereka.

Serve Robotics juga menyatakan akan “membela diri” atas gugatan tersebut. “Serve tidak menggunakan data itu untuk mengidentifikasi individu dan sistem kami tidak dirancang untuk mengidentifikasi individu atau membuat profil biometrik,” ujar Serve dalam pernyataannya kepada AP.

Kasus ini muncul di tengah gelombang konsolidasi besar di industri layanan pengantaran. Sebelumnya, Uber resmi mengakuisisi Delivery Hero dalam langkah ekspansi yang menyentuh 100 pasar global, sebagaimana diberitakan dalam fokus ke akuisisi Delivery Hero. Akuisisi senilai Rp 244 triliun itu bahkan membuat saham perusahaan direkomendasikan oleh sejumlah analis.

Robot kurir Serve Robotics bergerak di trotoar kota.

Implikasi bagi Privasi Warga

Terlepas dari bagaimana kedua kasus ini berakhir, laporan AP menyoroti satu hal yang tak terbantahkan: semakin otomatis kehidupan manusia, semakin besar kemungkinan informasi sensitif tentang kehidupan, perilaku, bahkan tubuh seseorang ikut terserap, tersimpan di suatu tempat, dan digunakan dengan cara yang tidak bisa dikendalikan.

Robot kurir yang kini berlalu-lalang di kota-kota Amerika Serikat memang dibekali kamera dan sensor untuk membantu navigasi di lingkungan yang ramai. Namun, perangkat yang sama juga merekam sekitar saat robot tiba di depan pintu pelanggan. Inilah yang menjadi dasar gugatan warga Chicago.

Chicago sendiri telah mengalami lonjakan kehadiran robot pengantar dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran mereka memicu frustrasi dan keluhan sebagian warga, seperti dicatat Gizmodo. Kombinasi antara ketatnya aturan biometrik Illinois dan meningkatnya populasi robot kurir menjadikan kota ini medan uji penting bagi batas antara inovasi layanan dan perlindungan privasi.

Bagi konsumen, kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap layanan pengantaran berbasis otomasi membawa konsekuensi data yang perlu dipahami. Perdebatan soal sejauh mana robot kurir boleh merekam lingkungan sekitarnya akan terus berlanjut, seiring makin banyaknya perusahaan yang mengandalkan mesin untuk mengantar pesanan hingga ke depan pintu.

[ META_DESCRIPTION]
Coco Robotics dan Serve Robotics digugat warga Chicago karena robot kurir mereka dituding kumpulkan data biometrik tanpa izin. Keduanya membantah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.