Telset.id – Produksi smartphone murah berpotensi menyusut hingga 40 persen pada 2030. Riset terbaru Counterpoint Research menyebut lonjakan biaya RAM dan chipset akibat boom pusat data AI sebagai pemicu utama, dan dampaknya paling terasa bagi pengguna berpenghasilan rendah di berbagai negara.
Prediksi itu menempatkan segmen ponsel di bawah harga 200 dolar AS sebagai pihak yang paling terpukul. Counterpoint Research memperkirakan segmen tersebut menyusut 40 persen pada 2030, setara dengan hilangnya 230 juta unit perangkat dari pasar. Sementara perangkat kelas menengah, premium, dan ultra-premium disebut tidak terlalu terdampak oleh tekanan biaya komponen ini.
Kenaikan harga RAM dan chipset sendiri bukan fenomena baru di industri elektronik. Selama beberapa tahun terakhir, permintaan komponen untuk pusat data AI terus mendorong kenaikan harga di berbagai lini produksi. Kondisi itu membuat spesifikasi perangkat yang lebih tinggi jadi alasan untuk menetapkan harga jual yang lebih mahal.
Tekanan Biaya Komponen dan Pasar Ponsel Murah
Studi Counterpoint Research menyebut pasar smartphone akan berubah cukup besar dalam lanskap yang menuntut spesifikasi lebih tinggi. Perubahan ini disebut sebagai “structural shock” yang bisa ditelusuri dari kondisi pasar saat ini. Salah satu konsekuensinya, banyak orang diprediksi akan memakai ponsel mereka lebih lama, meski mereka yang mampu tetap akan melakukan upgrade.

Perpanjangan siklus penggantian perangkat itu tidak hanya dilakukan konsumen, tetapi juga vendor yang mungkin terdorong oleh permintaan pasar. Pasar ponsel bekas atau refurbished berpotensi ikut diuntungkan, begitu pula dengan paket asuransi handset yang bisa memiliki masa berlangganan lebih panjang. Hal ini pada gilirannya turut menopang pasar refurbished dan pasokan stok perangkat lama.
Selama beberapa tahun terakhir, smartphone premium memang menjadi penggerak utama pasar. Data yang dihimpun Counterpoint Research menunjukkan tren tersebut diperkirakan akan berlanjut. Prediksi ini tidak menyebut ponsel murah akan hilang sepenuhnya, tetapi ada peluang baru yang muncul dari pasar ponsel bekas, dumbphone, hingga solusi niche dan DIY.
Dinamika serupa juga terlihat di segmen komponen lain. Harga panel LCD yang naik turut menekan produk layar besar murah, sebagaimana dibahas dalam artikel Harga Panel LCD. Pola yang sama juga muncul di perangkat komputasi kecil, seperti kebijakan Raspberry Pi Kunci ukuran RAM yang membatasi upgrade dan reparasi.
Baca Juga:
Risiko Konektivitas bagi Pengguna Baru
Ponsel premium dan perangkat kelas menengah dengan spesifikasi lebih tinggi memang terdengar menguntungkan di permukaan. Namun, kondisi ini berarti wilayah yang sangat bergantung pada ponsel murah untuk komunikasi dan akses internet berpotensi lebih sulit mencapai konektivitas internet seluler.
Principal analyst di Counterpoint Research, Yang Wang, menyatakan bahwa pasar smartphone akan pulih dalam hal unit, tetapi segmen terjangkau tidak akan kembali ke posisi sebelumnya. Ia menyebut ukuran pasar secara keseluruhan akan serupa, namun berbeda dalam hal nilai.
“Peluang kini bergeser ke perangkat mainstream dengan spesifikasi lebih baik dan produk premium, meskipun tier yang lebih tinggi tidak dapat menyerap seluruh volume yang hilang,” kata Wang. Ia menambahkan, ada pula risiko konektivitas yang lebih luas, karena hilangnya smartphone baru yang terjangkau bisa membuat pengguna pertama di pasar berpenghasilan rendah lebih sulit mengakses internet.

Counterpoint Research menegaskan pihaknya memperkirakan pasar smartphone akan kembali mencapai volume 2025 pada 2030, tetapi dengan segmen murah yang jauh lebih kecil. Artinya, pemulihan pasar secara keseluruhan tidak otomatis memulihkan keterjangkauan perangkat bagi konsumen di lapisan bawah.
Tekanan biaya komponen juga berdampak ke sektor lain yang bergantung pada rantai pasok global. Di industri otomotif, misalnya, Volkswagen Kewalahan menghadapi lonjakan pesanan EV yang melampaui mobil bensin, menunjukkan pergeseran permintaan yang turut mengubah prioritas produksi.
Bagi pasar Indonesia, implikasi dari proyeksi ini bersifat tidak langsung namun tetap relevan. Selama segmen ponsel di bawah 200 dolar AS menjadi tulang punggung akses internet bagi banyak pengguna baru, penyusutan segmen tersebut berpotensi memperlambat perluasan konektivitas di wilayah dengan daya beli terbatas. Namun, Counterpoint Research tidak menyebut angka spesifik untuk pasar Indonesia, sehingga besaran dampaknya masih bergantung pada struktur pasar masing-masing negara.
Yang jelas, arah pasar sudah terbaca dari data: volume total bisa pulih, tetapi komposisinya berubah. Segmen murah yang selama ini menjadi pintu masuk pertama ke internet akan menyusut, sementara perangkat berspesifikasi lebih tinggi dan pasar bekas mengambil porsi yang lebih besar.
[CONCLUSION]
Pasar smartphone diprediksi pulih pada 2030, tetapi segmen murah tidak kembali ke posisi semula.





Komentar
Belum ada komentar.