Ilustrasi grafis bergaya yang menampilkan ISS di atas Bumi dengan latar belakang atmosfer dan luar angkasa.

NASA Rencanakan Buang ISS ke Laut, Ilmuwan Khawatir Dampak Ekologis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø2 menit membaca
Bagikan:
  • NASA berencana membuang ISS ke Samudra Pasifik dekat Point Nemo
  • ISS memiliki ukuran sebesar lapangan sepak bola dengan bobot 420 metrik ton
  • SpaceX akan membangun wahana khusus untuk mendorong ISS keluar orbit
  • Presiden The Ocean Foundation, Mark Spalding, khawatir akan dampak ekologis
  • Point Nemo adalah lokasi "kuburan pesawat luar angkasa" yang sudah dipakai
  • GAO menyarankan opsi lain: konversi ISS menjadi modul komersial yang bisa disewakan
  • Kekhawatiran utama: material ISS tidak terbakar habis saat re-entry atmosfer

Telset.id – Rencana NASA untuk membuang International Space Station (ISS) ke dasar Samudra Pasifik menuai kekhawatiran serius dari para peneliti kelautan. Stasiun luar angkasa sebesar lapangan sepak bola dengan bobot 420 metrik ton itu akan didorong turun dari orbitnya menggunakan wahana antariksa khusus buatan SpaceX dan sengaja ditenggelamkan di area yang dikenal sebagai ā€œkuburan pesawat luar angkasaā€.

Presiden The Ocean Foundation, Mark Spalding, menyatakan bahwa rencana tersebut menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kesehatan laut. Dalam wawancaranya dengan Space.com, Spalding menegaskan bahwa komunitas antariksa belum sepenuhnya mempertimbangkan dampak ekologis dari pembuangan struktur raksasa ini ke dalam laut.

ā€œHal itu menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan laut yang belum diatasi secara memadai oleh komunitas antariksa,ā€ ujar Spalding kepada Space.com.

NASA menargetkan lokasi pendaratan ISS di dekat Point Nemo, titik terjauh di lautan dari daratan mana pun. Point Nemo memang sudah terkenal sebagai ā€œkuburan pesawat luar angkasaā€ planet Bumi, tempat bersemayamnya ratusan wahana antariksa yang sudah tidak berfungsi. Meskipun lokasinya sangat terpencil, Spalding menyebut adanya ā€œcelah struktural yang mengkhawatirkan dalam hukum internasionalā€ yang dipertegas oleh rencana de-orbit ISS ini.

Proses dekomisioning ISS terdiri dari dua fase. Fase pertama melibatkan peluncuran wahana antariksa khusus buatan SpaceX yang dirancang untuk mendorong ISS keluar dari orbitnya. Setelah itu, stasiun luar angkasa tersebut akan jatuh kembali ke Bumi dan, jika semuanya berjalan sesuai rencana, akan mendarat di Samudra Pasifik bagian selatan.

Ilustrasi grafis bergaya yang menampilkan ISS di atas Bumi.

Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa penghancuran ISS adalah satu-satunya pilihan. Dalam laporan terbaru yang juga dikutip oleh Space.com, Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) menyarankan agar NASA mempertimbangkan opsi lain. GAO mengusulkan agar ISS dapat dikonversi menjadi semacam modul yang bisa disewakan, sebuah habitat yang terbuka bagi perusahaan antariksa komersial untuk memasang peralatan mereka sendiri.

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai dampak yang akan ditimbulkan ISS ketika akhirnya berada di dasar laut. Spalding menekankan bahwa ketidakpastian itulah yang menjadi masalah utama.

ā€œItu sangat mengkhawatirkan untuk sebuah struktur sebesar lapangan sepak bola. Kami tahu bahwa tidak semuanya terbakar saat masuk kembali ke atmosfer,ā€ kata Spalding kepada Space.com. ā€œKetidakpastian itu sendiri adalah masalahnya.ā€

Kekhawatiran para ilmuwan kelautan ini menyoroti perlunya kajian yang lebih mendalam tentang dampak lingkungan dari pembuangan infrastruktur antariksa raksasa ke laut. Meskipun Point Nemo merupakan lokasi yang sangat terpencil, potensi kontaminasi dari material ISS yang tidak terbakar habis saat memasuki atmosfer tetap menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut dalam.

Rencana NASA ini juga membuka diskusi yang lebih luas tentang tanggung jawab internasional dalam pengelolaan akhir masa pakai aset antariksa. Dengan semakin banyaknya negara dan perusahaan swasta yang meluncurkan misi ke orbit, isu pembuangan sampah antariksa ke laut kemungkinan akan menjadi topik yang semakin relevan di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.