Telset.id – Luar angkasa adalah lingkungan yang tidak kenal ampun, dan NASA baru saja membuat keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah panjang eksplorasi antariksa mereka. Jika Anda berpikir penghentian misi biasanya disebabkan oleh kerusakan teknis pada roket atau kebocoran oksigen, kali ini pemicunya jauh lebih manusiawi dan misterius. Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut secara resmi memutuskan untuk memulangkan para astronaut Crew-11 satu bulan lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.
Keputusan drastis ini diambil menyusul adanya “kekhawatiran medis” yang menimpa salah satu anggota kru. Ini adalah kali pertama NASA memotong durasi misi secara signifikan semata-mata karena alasan kesehatan awak, sebuah langkah yang menegaskan betapa seriusnya mereka memandang keselamatan manusia di orbit rendah Bumi. Meskipun identitas anggota kru yang terdampak dirahasiakan demi privasi medis, situasi ini cukup mendesak hingga mengubah seluruh kalender operasional Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Awalnya, Crew-11 dijadwalkan kembali ke Bumi pada atau sekitar 20 Februari 2026. Namun, dinamika di orbit berubah cepat. Kini, NASA menargetkan tanggal kepulangan paling cepat pada 14 Januari, dengan jadwal pendaratan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Jika rencana revisi ini berjalan mulus, kapsul Dragon milik SpaceX yang membawa mereka akan melakukan splashdown di lepas pantai California sekitar pukul 03:40 pagi pada tanggal 15 Januari. Perubahan jadwal ini tentu memicu pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi di atas sana.
Misteri Diagnosa di Orbit Rendah
Tanda-tanda adanya masalah mulai tercium publik ketika NASA menunda kegiatan spacewalk atau aktivitas luar kendaraan (EVA) di ISS yang seharusnya dilakukan pada 8 Januari. Penundaan tersebut didasarkan pada masalah medis yang muncul sehari sebelumnya. James “JD” Polk, kepala petugas kesehatan dan medis NASA, memberikan sedikit pencerahan di tengah spekulasi yang berkembang. Menurutnya, astronaut yang terdampak berada dalam kondisi “benar-benar stabil” dan situasi ini bukan merupakan evakuasi darurat yang panik.
Namun, pernyataan tersebut justru membuka lapisan kompleksitas baru mengenai keterbatasan medis di luar angkasa. Polk menjelaskan bahwa meskipun ISS dilengkapi dengan robot NASA dan perangkat keras medis yang “kuat”, fasilitas tersebut belum memadai untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh guna menentukan diagnosis pasti. Tanpa diagnosis yang akurat, NASA berada dalam posisi buta: mereka tidak tahu apakah lingkungan mikrogravitasi di ISS akan memperburuk kondisi astronaut tersebut atau tidak.
Inilah alasan mengapa agensi memilih jalan kehati-hatian. Membawa pulang kru lebih awal memungkinkan astronaut tersebut mendapatkan perawatan medis lengkap di Bumi, sesuatu yang mustahil dilakukan di laboratorium yang mengorbit 400 km di atas permukaan laut. Keputusan ini juga menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi manusia dalam eksplorasi jangka panjang, bahkan ketika teknologi seperti ide Elon Musk tentang kolonisasi Mars terus didengungkan.
Baca Juga:
Dampak Operasional di Stasiun Luar Angkasa
Kepulangan dini Crew-11 bukan tanpa konsekuensi logistik. Tim ini telah berada di stasiun luar angkasa sejak peluncuran mereka pada 1 Agustus tahun lalu. Dengan kepergian mereka yang dipercepat, populasi di ISS akan menyusut drastis. Setelah Crew-11 melepaskan diri dari dok, hanya akan ada tiga orang yang tersisa di laboratorium orbit tersebut: dua kosmonaut dan satu astronaut. Ketiga orang ini akan memikul beban kerja yang sangat berat, bertanggung jawab atas seluruh eksperimen ilmiah dan pemeliharaan stasiun hingga bantuan tiba.
Situasi ini menciptakan celah operasional yang harus segera ditambal oleh NASA. Kru pengganti, yakni Crew-12, yang awalnya dijadwalkan meluncur pada pertengahan Februari, kini sedang dipertimbangkan untuk diberangkatkan lebih awal. Pergeseran jadwal peluncuran roket bukanlah perkara mudah; ini melibatkan koordinasi rumit antara kesiapan kendaraan, pelatihan kru, dan jendela peluncuran orbital. Namun, membiarkan ISS dengan kru minimal dalam waktu lama juga bukan opsi yang ideal.
Menariknya, tahun 2026 memang menjadi tahun yang penuh dinamika, tidak hanya di sektor antariksa tetapi juga di industri hiburan dan teknologi. Sementara NASA bergelut dengan jadwal misi, di Bumi, penggemar budaya pop juga menghadapi penundaan, seperti film terbaru yang dinanti banyak orang. Kesabaran tampaknya menjadi kunci utama di tahun ini, baik bagi mereka yang menunggu konten hiburan maupun bagi para ilmuwan yang memantau keselamatan rekan mereka di angkasa.
Preseden Baru Protokol Kesehatan NASA
Insiden ini kemungkinan besar akan memicu evaluasi ulang terhadap protokol kesehatan pra-penerbangan dan kemampuan diagnostik in-situ di masa depan. Meskipun NASA tidak merinci gejala atau jenis penyakit yang dialami, fakta bahwa mereka rela memangkas durasi misi selama satu bulan menunjukkan bahwa ambang batas risiko medis mereka sangat ketat. Ini bukan tentang kemampuan bertahan hidup semata, melainkan tentang memastikan kualitas kesehatan jangka panjang para penjelajah antariksa.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa meskipun kita telah mengirim manusia ke luar angkasa selama lebih dari setengah abad, tubuh manusia tetaplah entitas biologis yang rentan terhadap lingkungan ekstrem. Di masa depan, seiring dengan rencana misi ke Bulan dan Mars yang durasinya jauh lebih lama, kemampuan untuk melakukan diagnosis medis kompleks secara mandiri di pesawat antariksa akan menjadi syarat mutlak, bukan lagi sekadar opsi tambahan.
Saat ini, fokus utama tertuju pada tanggal 14 dan 15 Januari. Dunia akan menyaksikan kembalinya Crew-11, berharap pendaratan berjalan mulus dan astronaut yang sakit segera mendapatkan penanganan terbaik. Bagi NASA, ini adalah bukti bahwa dalam eksplorasi antariksa, keselamatan nyawa manusia tetap menjadi prioritas tertinggi di atas pencapaian misi itu sendiri.

