Telset.id ā Sebuah model ilmiah baru menantang asumsi bahwa cara kerja memori manusia dapat disetarakan dengan sistem komputer berbasis kode biner. Para peneliti berargumen bahwa memori biologis melibatkan proses kimia yang tidak memiliki padanan dalam prosesor silikon, sebuah temuan yang berimplikasi langsung pada pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Model yang disebut Tripartite Mechanism of Memory ini diusulkan oleh peneliti Gerard Marx dari MX Biotech Ltd. dan Chaim Gilon dari Hebrew University of Jerusalem. Teori ini didasarkan pada bukti molekuler dan seluler, serta menyatakan bahwa memori sejati dihasilkan oleh tiga komponen biologis, bukan oleh saklar biner seperti pada chip komputer.
Berbeda dengan chip silikon yang menyimpan informasi sebagai status biner, model tripartit mengusulkan bahwa memori muncul melalui interaksi tiga elemen biologis terpisah. Elemen-elemen ini mencakup sel-sel otak, terutama astrosit, yang berinteraksi dengan neuron, bersama dengan lingkungan molekuler di sekitar sel-sel individual tersebut.
Komponen ketiga melibatkan bahan kimia spesifik, seperti ion logam, neurotransmitter, dan gliotransmitter, yang bersirkulasi terus menerus melalui jaringan hidup otak. Para peneliti menyarankan bahwa otak hidup mungkin melakukan lebih dari sekadar mengirimkan sinyal listrik antara neuron individu yang tersebar di seluruh jaringan.

Otak juga dapat menulis dan membaca jenis informasi tertentu secara kimiawi, sebuah proses yang tidak memiliki padanan yang jelas di dalam prosesor silikon. Astrosit, sel otak yang melimpah dan berinteraksi erat dengan neuron, menempati posisi yang sangat penting dalam model ilmiah yang baru diusulkan ini. Marx dan Gilon mengusulkan bahwa kelompok astrosit berpartisipasi dalam memproses informasi kognitif bersama dengan neuron dan lingkungan seluler di sekitarnya.
Bagian inti dari argumen mereka menyatakan bahwa memori biologis tidak pernah sekadar potongan informasi logis yang tersimpan dengan sendirinya. Mereka berpendapat bahwa memori biologis membawa dimensi emosional yang tidak dapat ditiru oleh kode biner apa pun yang tersimpan di bank memori komputer. Model mereka memperlakukan pembawa pesan kimia, termasuk neurotransmitter, sebagai bagian penting dari mekanisme informasi kognitif yang dikodekan sepenuhnya.
Kimia Memori dan Artinya bagi AI
Baik komputer maupun otak biologis dapat menyimpan dan mengambil informasi, meskipun mekanisme yang mendasarinya mungkin berbeda secara fundamental. Di dalam komputer, informasi pada akhirnya membawa aspek fisik yang dikodekan langsung ke dalam perangkat keras silikon dan sirkuit internalnya.
Marx dan Gilon bertanya apakah memori biologis juga membawa aspek fisik, meskipun berakar pada sel hidup dan kimia organik. Perbedaan itu menjadi semakin relevan seiring sistem AI menjadi lebih mampu melakukan tugas-tugas yang terkait erat dengan penalaran logis manusia.
Makalah mereka secara langsung menantang asumsi bahwa kekuatan komputasi dan kompleksitas yang lebih besar saja akan menghasilkan kesadaran seperti biologis di dalam mesin. Para peneliti berpendapat bahwa sistem elektronik murni kekurangan infrastruktur biologis dan proses emosional yang menjadi ciri organisme hidup.
Argumen mereka bukan berarti AI tidak dapat melakukan tugas intelektual yang semakin canggih seiring kekuatan komputasi terus berkembang pesat setiap tahunnya. Sebaliknya, ini mengangkat pertanyaan yang lebih mendasar tentang apakah perilaku cerdas sama dengan proses biologis yang menghasilkan memori, emosi, dan pemikiran.
Pertanyaan ini menjadi semakin krusial di tengah perkembangan AI yang pesat. Berbagai kasus hukum terkait penggunaan data untuk melatih AI, seperti gugatan terhadap Twitch, menunjukkan bahwa industri sedang bergulat dengan batas-batas kemampuan dan etika teknologi ini. Sementara itu, pengawasan regulasi terhadap pengembang AI juga semakin ketat, seperti terlihat dari penyelidikan SEC terhadap perusahaan AI.
Baca Juga:
Model yang diusulkan Marx dan Gilon menawarkan perspektif baru yang menekankan bahwa memori biologis tidak dapat disederhanakan menjadi sekadar rangkaian 0 dan 1. Implikasinya bagi pengembangan AI sangat luas, terutama dalam memahami apakah mesin dapat benar-benar meniru proses kognitif manusia atau hanya meniru hasil akhirnya.
Jika memori manusia memang bergantung pada interaksi kimia yang kompleks dalam lingkungan seluler hidup, maka upaya menciptakan AI yang benar-benar menyerupai kesadaran manusia mungkin memerlukan pendekatan yang sama sekali berbeda dari sekadar meningkatkan daya komputasi.

Penelitian ini membuka diskusi baru tentang hubungan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan biologis. Meskipun AI terus menunjukkan kemampuan luar biasa dalam tugas-tugas logis, pertanyaan mendasar tentang apakah mesin dapat memiliki pengalaman subjektif seperti manusia tetap menjadi misteri yang belum terjawab.
Bagi industri teknologi, temuan ini menjadi pengingat bahwa meskipun kemajuan komputasi terus berlanjut, masih ada aspek-aspek mendasar dari kecerdasan manusia yang belum sepenuhnya dipahami. Hal ini relevan tidak hanya bagi pengembang AI, tetapi juga bagi siapa pun yang berkecimpung dalam dunia teknologi dan ingin memahami batas-batas kemampuan mesin di masa depan.





Komentar
Belum ada komentar.