šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi objek trans-Neptunus ED138 sebagai kandidat planet katai di antara bintang Bima Sakti

Kandidat Planet Baru ED138 Ditemukan Tersembunyi di Galaksi Bima Sakti

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Objek ED138 jadi kandidat planet katai baru, berdiameter 600-1.500 km dan berjarak 46 satuan astronomi dari Matahari
  • Tersembunyi di piringan Bima Sakti, teridentifikasi lewat data Observatorium Rubin pada 2026
  • Matthew Holman menemukannya 13 Oktober, dengan arsip pengamatan sejak 2016 merekonstruksi lintasan lebih dari satu dekade
  • Status planet katai belum pasti, perlu pengukuran ukuran presisi untuk memastikan bentuk hampir bulat
  • Jika lolos, ED138 bergabung dengan Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris

Telset.id – Sebuah objek antariksa yang dijuluki ED138 muncul sebagai kandidat planet katai baru setelah terdeteksi tersembunyi di antara lautan bintang Galaksi Bima Sakti. Objek ini diperkirakan berdiameter antara 600 hingga 1.500 kilometer dan berada sekitar 46 satuan astronomi dari Matahari, lebih jauh dibanding Pluto yang mengorbit pada jarak rata-rata 40 satuan astronomi. Berdasarkan lokasinya, ED138 tergolong dalam populasi objek trans-Neptunus dan menurut para penemunya berpotensi menjadi salah satu objek paling terang serta terbesar di kelasnya.

Penemuan ini menjadi penting karena ED138 selama ini luput dari pengamatan akibat posisinya di langit malam yang berseberangan dengan piringan Bima Sakti. Kawasan tersebut tampak sebagai pita tebal berisi jutaan bintang yang kecerahannya terkonsentrasi, sehingga menyulitkan pembedaan objek-objek redup. Namun, limpahan data dari Observatorium Rubin memungkinkan tim astronom mengidentifikasi objek tersebut di tengah lautan cahaya itu.

Jejak Pengamatan Sejak 2016

Matthew Holman, peneliti di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics sekaligus anggota tim operasional observatorium, mengidentifikasi objek ini pada 13 Oktober saat menganalisis data yang dikumpulkan Rubin pada 2026. Pencarian lebih menyeluruh kemudian mengantar tim menemukan observasi tambahan dalam catatan arsip yang berasal dari 2016. Berkat kumpulan citra tersebut, tim mampu merekonstruksi lintasan objek selama lebih dari satu dekade.

Meski tampak memiliki karakteristik yang sesuai, para astronom belum mengonfirmasi apakah ED138 benar-benar planet katai. Untuk saat ini, mereka baru memastikan ED138 sebagai objek trans-Neptunus dan masih perlu menentukan ukurannya secara lebih presisi guna memastikan apakah gravitasinya cukup untuk membentuknya hampir bulat. Perbedaan antara planet dan planet katai sendiri largely ditentukan oleh lingkungannya. Keduanya mengorbit Matahari dan memiliki gravitasi yang cukup untuk mengambil bentuk hampir bulat, tetapi planet telah membersihkan orbitnya dari benda lain berukuran sebanding, sementara planet katai hidup berdampingan dengan objek lain di wilayah yang dilaluinya. Inilah alasan utama Pluto berhenti dianggap planet pada 2006 dan direklasifikasi sebagai planet katai.

Jika memenuhi persyaratan, ED138 akan bergabung dengan kelompok lima planet katai yang diakui International Astronomical Union, yakni Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris. ED138 juga bukan satu-satunya benda langit yang menunggu kemungkinan klasifikasi sebagai planet katai. Para astronom telah mengidentifikasi puluhan objek di tata surya bagian luar yang berdasarkan ukuran dan karakteristik lain berpotensi memenuhi kriteria. Di antara kandidat paling dikenal adalah Gonggong, Quaoar, Sedna, dan Orcus. Para pakar mengakui daftar tersebut bisa saja lebih panjang.

Tantangan Mengonfirmasi Planet Katai

Mengonfirmasi status planet katai bukan perkara mudah. Jarak yang sangat jauh menyulitkan pengukuran langsung ukuran dan massa objek, terutama untuk menentukan apakah gravitasinya sendiri telah membentuknya hampir bulat. Untuk memperoleh citra resolusi tinggi Pluto, misalnya, wahana New Horizons harus dikirim ke sekitarnya, sebuah perjalanan yang memakan waktu hampir sembilan setengah tahun sejak diluncurkan pada 2006 hingga terbang melintas pada 2015. Tiga tahun kemudian, wahana itu mencapai objek Arrokoth, sebuah planetesimal kecil yang bahkan lebih jauh.

Tata surya sering digambarkan sebagai sebuah bintang yang dikelilingi delapan planet, tetapi kenyataannya ia merupakan struktur yang jauh lebih luas dan padat penghuni. Selain planet dan bulan, ia memuat planet katai, asteroid, komet, dan sejumlah besar benda kecil yang membentang jauh melampaui Neptunus. Sabuk Kuiper membentang hingga sekitar 50 satuan astronomi, sementara piringan tersebar mencapai hampir 1.000 satuan astronomi. Jauh lebih luar lagi terletak Awan Oort, wilayah yang belum pernah kita amati secara langsung dan berpotensi membentang hingga sekitar 100.000 satuan astronomi dari Matahari.

Kemampuan Observatorium Rubin dalam mengolah data dalam jumlah masif menjadi kunci terungkapnya ED138. Pendekatan berbasis data besar ini sejalan dengan bagaimana lembaga riset dan teknologi terus menguji pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk menyaring informasi kompleks, sebagaimana terlihat dalam Uji AI Mode Google Search yang mengeksplorasi cara sistem cerdas membantu pengguna memilah informasi. Di sisi lain, eksplorasi antariksa juga menghadirkan persoalan regulasi, seperti terlihat pada Cermin Antariksa Reflect Orbital yang mendapat persetujuan FCC.

Bagi publik yang mengikuti perkembangan astronomi, temuan ED138 menunjukkan bahwa tata surya masih menyimpan objek yang belum teridentifikasi. Namun statusnya sebagai planet katai tetap menunggu pengukuran ukuran yang lebih presisi. Sampai saat itu, ED138 tercatat sebagai objek trans-Neptunus yang berhasil diungkap dari balik cahaya Bima Sakti, dan daftar kandidat planet katai pun masih terbuka untuk bertambah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.