Ilmuwan Temukan Spesies Baru Ubur-ubur via Pantauan Virtual

Telset.id, Jakarta – Ekspedisi bawah air yang serba virtual oleh National Oceanic and Atmospheric Administration telah menemukan spesies baru ctenophore atau lebih dikenal dengan nama ubur-ubur sisir.

“Benar-benar unik. Kami dapat mendeskripsikan spesies baru berdasarkan video definisi tinggi,” kata ilmuwan NOAA, Allen Collins, dalam siaran pers, seperti dikutip Telset dari New York Post, Rabu (2/12/2020).

Menggunakan kendaraan yang dioperasikan jarak jauh atau ROV bernama Deep Discoverer, Collins dan rekan peneliti melihat makhluk seperti gumpalan dan merekam video definisi tinggi untuk konfirmasi.

Spesies baru ubur-ubur sisir yang mereka temukan diklaim belum pernah terlihat sebelumnya. Video tersebut adalah satu-satunya bukti bahwa spesies bernama Duobrachium sparksae itu benar-benar ada di belahan perairan.

{Baca juga: 6 Spesies Langka Ini Nongol di Google Doodle Hari Bumi}

Spesies Baru Ubur-ubur Sisir

“Sebelumnya, kami tidak memiliki kemampuan pengumpulan sampel di ROV,” kata Collins seraya menambahkan bahwa ROV tidak memiliki mikroskop yang sama dengan yang dimiliki para ilmuwan di laboratorium.

Collins dan rekan-rekannya menerbitkan penelitian tentang spesies baru ubur-ubur sisir tersebut pada bulan ini di jurnal Plankton and Benthos Research. Sebenarnya, mereka kali pertama melihat makhluk laut dalam pada 2015.

Mereka melihatnya saat menyelam 4.000 meter di lepas pantai Puerto Rico, Brasil.  Menurut siaran pers para ilmuwan, terlepas dari namanya, ubur-ubur sisir dan ubur-ubur biasa tidak memiliki hubungan dekat.

Ilmuwan Ciptakan Spesies Ubur-ubur Bionik

Ubur-ubur bionik

Pada Februari lalu, sekelompok ilmuwan dari Stanford University telah menciptakan spesies ubur-ubur bionik. Mereka menanamkan mikroelektronika ke dalam invertebrata laut tersebut untuk memantau dan jelajahi lautan dunia.

Prostetik kecil berukuran 2 cm memungkinkan ubur-ubur bionik ini berenang tiga kali lebih cepat dan lebih efisien tanpa menyebabkan tekanan pada hewan yang tidak memiliki otak, sistem saraf pusat, atau reseptor rasa sakit tersebut.

{Baca juga: Demi Jelajahi Lautan Dunia, Ilmuwan Ciptakan Ubur-ubur Bionik}

Sebelum melepas ubur-ubur bionik ke lautan, peneliti terlebih dahulu menguji cara bagaimana mengendalikan perginya ubur-ubur, sekaligus mengembangkan sensor kecil yang dapat dipakai untuk melakukan pengukuran kondisi lautan dalam jangka panjang.

“Sensor digunakan untuk mengukur suhu, salinitas, keasaman, tingkat oksigen, nutrisi, dan komunitas mikroba di laut. Kami juga berencana memasang kamera mini di ubur-ubur,” kata Nicole Xu, salah satu penulis penelitian dari Stanford University. (SN/MF)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -