Ilustrasi awan molekuler G+0.693−0.027 di dekat lubang hitam supermasif Bima Sakti tempat ilmuwan menemukan molekul gula erythrulose

Ilmuwan Temukan Molekul Gula di Awan Kosmik Dekat Lubang Hitam Bima Sakti

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Tim astronom internasional menemukan molekul gula erythrulose di awan molekuler G+0.693−0.027, berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi.
  • Penemuan dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy dan dipimpin oleh Izaskun Jiménez Serra.
  • Data dikumpulkan dari dua teleskop radio di Spanyol: Observatorium Yebes dan Institut Astronomi Radio di Sierra Nevada.
  • Awan G+0.693−0.027 terletak di dekat lubang hitam supermasif dan merupakan kawasan terkaya molekul di Bima Sakti.
  • Penemuan ini merupakan deteksi pertama monosakarida sejati di medium antarbintang.
  • Gagasan gula dari luar angkasa diperkuat oleh penemuan ribosa di asteroid Bennu pada Desember 2025.
  • Erythrulose adalah gula dari keluarga ketosa yang di Bumi ditemukan di raspberry dan lotion penyamak kulit.
  • Molekul ini tidak esensial bagi kehidupan tetapi bisa diubah menjadi blok bangunan yang mungkin diperlukan.
  • Penemuan membuka kemungkinan bahwa bahan kimia dasar kehidupan bisa terbentuk di luar angkasa dan sampai ke Bumi melalui meteorit.

Telset.id – Tim astronom internasional berhasil mendeteksi molekul gula jenis erythrulose di dalam awan molekuler raksasa yang terletak hanya 26.000 tahun cahaya dari Bumi. Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pekan ini ini membuka babak baru dalam upaya mengungkap bagaimana bahan-bahan kimia dasar kehidupan bisa muncul di planet kita.

Penelitian yang dipimpin oleh Izaskun Jiménez Serra ini menganalisis data dari dua teleskop radio di Spanyol. Para ilmuwan mengidentifikasi sidik jari molekul erythrulose melalui frekuensi gelombang mikro yang dihasilkan saat molekul tersebut berputar di ruang angkasa. Molekul gula sendiri merupakan komponen esensial bagi kehidupan karena berfungsi sebagai bahan bakar sel dan menjadi bagian penting dari RNA dan DNA.

Meski demikian, para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti bagaimana molekul-molekul ini bisa terakumulasi dalam jumlah besar di Bumi purba. Salah satu hipotesis yang kuat adalah bahwa sebagian molekul tersebut tidak berasal dari planet kita, melainkan tiba melalui meteorit. Penemuan terbaru ini memberikan bukti kuat bahwa gula memang bisa terbentuk di luar angkasa.

Objek penelitian difokuskan pada awan molekuler yang diberi nama G+0.693−0.027. Lokasi ini tidak dipilih secara kebetulan. G+0.693−0.027 merupakan salah satu kawasan terkaya molekul di seluruh galaksi Bima Sakti. Awan ini terletak di dekat lubang hitam supermasif di pusat galaksi, dan tabrakan dengan awan lain tampaknya telah mengubah kawasan ini menjadi pabrik kimia sungguhan.

Sebelumnya, para peneliti sudah mendeteksi keberadaan alkohol, aldehida, urea, etanolamina, dan hidroksilamina di kawasan yang sama. Kini, gula resmi bergabung dalam daftar molekul organik kompleks yang telah teridentifikasi di sana. Penemuan ini menjadi semakin menarik karena menunjukkan bahwa proses kimia purba yang menghasilkan bahan-bahan kehidupan ternyata juga terjadi di lingkungan ekstrem antarbintang.

Baca Juga:

Gagasan bahwa gula mungkin berasal dari luar angkasa mendapat dorongan signifikan pada Desember 2025. Saat itu, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa asteroid Bennu mengandung ribosa dan monosakarida lainnya. Ribosa merupakan gula fundamental dalam RNA, molekul yang berperan krusial dalam sistem kehidupan. Penemuan di asteroid Bennu membuktikan bahwa tata surya kita sendiri menyimpan bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk kehidupan.

Studi baru ini mengungkap jenis gula antariksa lain, kali ini berasal dari keluarga ketosa. Di Bumi, erythrulose ditemukan secara alami dalam buah raspberry dan juga digunakan dalam lotion penyamak kulit. Molekul ini memiliki empat atom karbon, dan keberadaannya di lokasi yang berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi bisa membantu mengurai misteri asal-usul kehidupan di planet kita.

Data untuk penelitian ini dikumpulkan menggunakan dua teleskop radio yang berlokasi di Spanyol. Satu teleskop berada di Observatorium Yebes, timur laut Madrid, sementara yang lainnya berada di Institut Astronomi Radio dalam Rentang Milimeter, yang terletak di dekat resor ski di Pegunungan Sierra Nevada. Kombinasi kedua teleskop ini memungkinkan para astronom memperoleh data spektroskopi yang sangat akurat.

“Keberadaan berbagai molekul organik prebiotik di meteorit dan asteroid sudah diketahui dengan baik, termasuk beberapa monosakarida, tetapi asal-usulnya masih belum jelas,” kata Jesús R. Flores, profesor di Universitas Vigo yang tidak terlibat dalam penelitian ini, kepada Science Media Center Spanyol.

“Satu kemungkinan yang jelas adalah bahwa molekul-molekul tersebut terbentuk, pada awalnya, di medium antarbintang. Namun, hingga saat ini, belum ada sakarida sejati yang terdeteksi di sana. Erythrulose, sebuah ketomonosakarida berkarbon empat, adalah yang pertama,” tambah Flores.

Penemuan ini merupakan kemajuan besar dalam pemahaman tentang molekul-molekul di luar angkasa. Namun, para peneliti menekankan bahwa keberadaan gula tidak serta-merta menjadi bukti adanya kehidupan ekstraterestrial, juga tidak menjelaskan secara langsung asal-usul kehidupan di Bumi atau RNA. Yang ditunjukkan oleh semakin banyak studi adalah bahwa blok bangunan kimia yang terkait dengan kimia prebiotik ternyata juga bisa ditemukan di luar angkasa.

Studi baru ini mendemonstrasikan, untuk pertama kalinya, bahwa monosakarida antarbintang dapat disintesis. Gula khusus ini memang tidak esensial bagi kehidupan, tetapi bisa diubah menjadi blok bangunan yang mungkin diperlukan. Hal ini membuka kemungkinan bahwa rantai reaksi kimia di ruang angkasa bisa menghasilkan molekul yang lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.

Penemuan ini juga memperkuat bukti bahwa lingkungan ekstrem di dekat lubang hitam supermasif ternyata bisa menjadi tempat yang subur bagi pembentukan molekul organik kompleks. Awan G+0.693−0.027 yang terus bertabrakan dengan awan lain menciptakan kondisi ideal bagi reaksi kimia untuk menghasilkan molekul-molekul yang semakin rumit.

Para astronom sebelumnya sudah mendeteksi lusinan molekul organik kompleks di kawasan ini, dan penambahan gula ke dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa medium antarbintang jauh lebih kaya secara kimia daripada yang pernah dibayangkan. Hal ini memiliki implikasi besar bagi pemahaman kita tentang bagaimana planet-planet seperti Bumi bisa mendapatkan bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk kehidupan.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature Astronomy ini menjadi tonggak penting dalam astrobiologi. Dengan mendeteksi erythrulose di awan molekuler, para ilmuwan kini memiliki bukti langsung bahwa gula bisa terbentuk di lingkungan antarbintang. Temuan ini melengkapi penemuan sebelumnya di asteroid Bennu yang menunjukkan bahwa gula juga ada di tata surya kita.

Ke depannya, para peneliti berencana untuk mencari molekul gula yang lebih kompleks di kawasan yang sama. Jika monosakarida seperti erythrulose bisa terbentuk di sana, bukan tidak mungkin molekul gula yang lebih besar dan lebih relevan bagi kehidupan juga ada. Setiap penemuan baru akan semakin memperjelas gambaran tentang bagaimana blok bangunan kehidupan bisa tersebar di seluruh galaksi.

Sementara itu, misteri asal-usul kehidupan di Bumi masih terus diinvestigasi. Penemuan ini memberikan satu petunjuk penting: bahwa beberapa bahan yang diperlukan mungkin memang sudah ada di luar angkasa jauh sebelum planet kita terbentuk. Meteorit dan komet kemudian membawa molekul-molekul ini ke Bumi, menyediakan bahan baku yang akhirnya memicu munculnya kehidupan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.