Kecoa cyborg buatan NTU Singapore dengan pakaian selam cetak 3D untuk misi penyelamatan bawah air

Ilmuwan Ciptakan Kecoa Cyborg Tahan Air untuk Misi SAR

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tim peneliti NTU Singapore ciptakan kecoa cyborg dengan kamera IR dan pakaian selam 3D
  • Kecoa cyborg mampu bertahan di bawah air hingga 3 jam pada kedalaman 50 cm
  • Kecepatan bergerak hanya berkurang sedikit, dari 8,75 cm/dtk di darat menjadi 7,84 cm/dtk di air
  • Menggunakan reaksi kimia hidrogen peroksida dan mangan dioksida untuk menghasilkan oksigen
  • Target utama: misi pencarian dan penyelamatan di area bencana yang tergenang
  • Potensi pengembangan ke depan termasuk eksplorasi lingkungan ekstrem dan luar angkasa

Telset.id – Tim peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapore berhasil menciptakan kecoa cyborg yang mampu bertahan di dalam air selama berjam-jam. Inovasi ini menjanjikan terobosan signifikan dalam misi pencarian dan penyelamatan (SAR) di area bencana yang tergenang air.

Dipimpin oleh Hirotaka Sato, tim peneliti NTU mengembangkan kecoa cyborg generasi terbaru yang dilengkapi kamera inframerah (IR) dan perlengkapan selam cetak 3D. Makhluk hidup yang telah dimodifikasi dengan teknologi ini mampu bernapas di bawah air hingga tiga jam pada kedalaman 20 inci (50 cm), cukup untuk melewati genangan air dan area banjir ringan.

Kecoa cyborg ini merupakan peningkatan dari versi sebelumnya yang telah didemonstrasikan pada tahun 2024. Saat itu, tim Sato berhasil menunjukkan kawanan kecoa cyborg yang terkendali, namun mereka belum puas karena serangga tersebut tidak bisa diarahkan melewati air. Keterbatasan inilah yang mendorong mereka untuk kembali ke papan gambar dan menciptakan solusi baru.

Hasilnya cukup mengesankan. Kecepatan kecoa cyborg saat bergerak hanya sedikit berkurang saat berada di dalam air. Di darat, kecepatannya mencapai 3,5 inci (8,75 cm) per detik, sementara saat terendam air, kecepatannya menjadi 3,1 inci (7,84 cm) per detik. Kecoa pada dasarnya tidak berenang, tetapi mereka mampu mendayung-mengapung dan navigasi di badan air pada umumnya.

Untuk mencapai kemampuan ini, para ilmuwan NTU mendandani kecoa dengan pakaian selam khusus yang dicetak 3D. Perlengkapan ini dilengkapi tabung yang terhubung dari tangki ke “lubang hidung” kecoa, yang disebut spirakel. Tangki tersebut berisi spons dengan campuran hidrogen peroksida dan mangan dioksida, yang menghasilkan oksigen melalui reaksi kimia yang lambat dan terkontrol.

Pilihan ini diambil untuk menghindari penggunaan tangki oksigen bertekanan yang berat. Kecoa sendiri dipilih sebagai platform ideal untuk jenis penelitian ini karena kakinya mudah dikendalikan dengan impuls listrik, dan karakteristik gerakannya memungkinkan mereka menavigasi hampir semua jenis medan, seringkali lebih baik daripada robot miniatur.

Keunggulan lain dari kecoa adalah daya tahan biologisnya. Baterai biologis mereka secara teoritis dapat bertahan selama berminggu-minggu. Seekor kecoa hanya perlu makan setiap beberapa minggu sekali, sebuah fitur penting mengingat para ilmuwan yang bekerja dengan miniaturisasi seringkali terbentur oleh keterbatasan energi. Kamera IR dan perangkat nirkabel memang menggunakan baterai mini, tetapi serangga itu sendiri dapat mencari makanan sendiri.

Tim Sato menargetkan penggunaan kawanan kecoa bawah laut dalam misi penyelamatan. Namun, mereka juga melihat cakrawala yang lebih jauh, yaitu lingkungan yang lebih keras dan eksplorasi luar angkasa, seperti permukaan Mars. Kemampuan bertahan hidup kecoa memang luar biasa. Mereka dapat bertahan tanpa makanan atau air selama berminggu-minggu, berfungsi dengan baik di lingkungan dengan kadar O2 rendah atau CO2 tinggi, serta tahan terhadap radiasi yang cukup untuk melumpuhkan manusia. Menutup spirakel mereka memungkinkan kecoa menahan napas hingga 40 menit.

Konsep cyborg insect sebenarnya bukan hal baru. DARPA telah memulai program serupa bernama HI-MEMS dua dekade lalu. Namun, pencapaian tim NTU ini menjadi salah satu yang paling maju, terutama dalam hal kemampuan bertahan di air.

Kecoa cyborg NTU ini juga menunjukkan bahwa serangga hidup yang dimodifikasi dengan teknologi bisa menjadi solusi yang lebih efisien dibandingkan robot miniatur murni. Kemampuan navigasi mereka yang unggul di berbagai medan dan ketahanan biologis yang luar biasa menjadikan mereka kandidat kuat untuk misi-misi berbahaya.

Jika Anda tertarik untuk memiliki kecoa kendali jarak jauh sendiri, ada kit “ride-a-roach” yang tersedia di pasaran, lengkap dengan aplikasi ponsel. Kit tersebut memang mahal, tetapi Anda mungkin tidak akan kesulitan mendapatkan hewannya secara gratis.

Dalam konteks yang lebih luas, penelitian ini membuka jalan bagi pengembangan teknologi hybrid antara organisme hidup dan mesin. Aplikasi potensialnya tidak hanya terbatas pada misi SAR, tetapi juga bisa mencakup pemantauan lingkungan, inspeksi infrastruktur, dan bahkan eksplorasi planet lain. Para ilmuwan terus berinovasi untuk mengatasi tantangan energi dan daya tahan yang menjadi hambatan utama dalam robotika miniatur. Temuan menarik lainnya di bidang sains dan teknologi juga bisa Anda simak, seperti penyelidikan FBI atas kematian ilmuwan nuklir atau pengembangan senjata nuklir menggunakan laser.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.