πŸ“‘ Daftar Isi

Peneliti menjatuhkan perangkat Argo float berwarna kuning ke dalam laut

Drone Bawah Laut Ifremer Siap Petakan 98 Persen Samudra Dunia pada 2028

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Ifremer uji dua prototipe Deep-6000 dengan lima penyelaman 6.000 meter pada Januari-Februari 2026
  • Prancis jadi negara ketiga setelah China dan AS yang kembangkan Argo float kedalaman abisal
  • 30 deep-sea float baru akan bergabung pada 2028, memungkinkan eksplorasi 98 persen volume samudra
  • Float mengumpulkan data salinitas, suhu, oksigen, dan tekanan untuk prakiraan iklim
  • Misi berjalan siklus 10 hari dengan masa operasi 3-5 tahun atau sekitar 150 siklus

Telset.id – Armada drone bawah laut otonom atau autonomous underwater drone floats diproyeksikan mampu menjelajahi lebih dari 98 persen volume samudra dunia pada 2028. Target ini muncul setelah Ifremer, badan kelautan negara Prancis, melaporkan keberhasilan dua prototipe Deep-6000 yang menyelesaikan lima penyelaman hingga kedalaman 6.000 meter pada 11 Januari hingga 2 Februari tahun ini.

Keberhasilan tersebut menjadikan Prancis sebagai negara ketiga di dunia, setelah China dan Amerika Serikat, yang mengembangkan Argo floats mampu mencapai kedalaman abisal. Sebelumnya, mayoritas drone Argo hanya turun antara 2.000 hingga 4.000 meter, padahal 10 persen pemanasan laut terjadi di bawah kedalaman tersebut. Kesenjangan data inilah yang coba ditutup oleh teknologi baru ini.

Ifremer menyatakan bahwa pada 2028, 30 deep-sea float tambahan akan bergabung dengan armada internasional Argo yang saat ini berjumlah 4.000 perangkat. Penambahan ini memungkinkan peneliti mengeksplorasi lebih dari 98 persen samudra. Amerika Serikat saat ini mengoperasikan lebih dari 100 deep-sea float, sementara China mengoperasikan lebih dari tiga puluh unit.

Argo Program sendiri merupakan kolaborasi internasional yang diluncurkan pada 1999 dan telah mengerahkan 4.000 data-collection float di seluruh dunia. Program ini menjadi tulang punggung data kelautan global, dengan lebih dari 60 negara berkontribusi di dalamnya. Data suhu dan salinitas yang dihasilkan mencapai lebih dari 100.000 profil per tahun, dan seluruhnya dapat diakses gratis secara online.

Tekanan Ekstrem Jadi Tantangan Utama

Lebih dari 90 persen samudra tergolong deep ocean dengan kedalaman 200 meter atau lebih, dan hanya lima persen dari seluruh samudra yang telah dieksplorasi. Minimnya riset di zona abisal disebabkan oleh keterbatasan teknis. Pada kedalaman tersebut, laut memberikan tekanan sangat besar pada mesin, sekitar satu atmosfer untuk setiap 10 meter kedalaman. Artinya, pada 6.000 meter, tekanan mencapai sekitar 600 kali lebih besar dibandingkan permukaan laut.

Xavier AndrΓ©, head of profiler technology development di Ifremer, menyatakan bahwa tantangan utama adalah merancang sistem yang mampu menahan tekanan laut dalam, mandiri energi agar tetap beroperasi selama tujuh tahun, dan menjaga biaya tetap terkendali. Untuk mengakomodasi tekanan masif tersebut, Ifremer membangun lambung prototipe Deep-6000 menggunakan material komposit selain titanium murni.

A researcher drops a yellow argo float device into the ocean

Dengan bobot 88 pon atau sekitar 40 kilogram, perangkat ini memiliki berat sekitar dua kali lipat Argo float biasa sehingga lebih mampu menahan tekanan ekstrem. Desain yang lebih kokoh ini menjadi kunci keberhasilan misi penyelaman di zona abisal yang sebelumnya sulit dijangkau perangkat konvensional.

Siklus Misi Sepuluh Hari dan Data Iklim

Misi float Argo ini berjalan dalam siklus sepuluh hari. Float dijatuhkan dari kapal, turun ke kedalaman drift dan bertahan selama sembilan hari, lalu turun lebih dalam ke kedalaman profil selama sekitar tiga jam. Setelah itu, float naik kembali ke permukaan untuk mengirim data yang dikumpulkan ke satelit. Proses ini berulang hingga baterainya habis, biasanya sekitar 150 siklus selama tiga hingga lima tahun.

Float tersebut mengumpulkan informasi tentang salinitas air, suhu, oksigen, dan tekanan. Data ini membantu ilmuwan di pusat cuaca dan iklim memahami perilaku laut seiring pemanasan air akibat perubahan iklim. Data Argo dapat digunakan untuk meningkatkan prakiraan fenomena iklim utama seperti monsun, pemanasan laut, kenaikan permukaan laut, dan sirkulasi laut.

Virginie Thierry, physical oceanographer di Ifremer, menyatakan bahwa float Deep-6000 baru akan memungkinkan organisasinya melacak pemanasan laut hingga kedalaman abisal. Menurutnya, peneliti juga akan memperoleh informasi tentang sirkulasi laut dalam yang berkontribusi terhadap penyimpanan sinyal iklim seperti panas dan karbon di laut dalam, sekaligus menyempurnakan model prediksi laut. Ia menyebut Argo sebagai contoh kerja sama internasional yang luar biasa.

Pengembangan teknologi bawah laut ini sejalan dengan berbagai inovasi energi dan infrastruktur yang tengah berkembang, termasuk upaya efisiensi energi yang terlihat pada terobosan panel surya. Sementara itu, pemanfaatan teknologi otonom dan AI di berbagai sektor turut memunculkan diskusi baru, seperti yang tergambar dalam kasus jurnalis fiktif dihapus.

Dengan target cakupan 98 persen volume samudra pada 2028, armada Argo yang diperkuat float Deep-6000 berpotensi mengubah cara ilmuwan memantau iklim global. Data yang dikumpulkan tidak hanya memperkaya pemahaman tentang laut dalam, tetapi juga memperkuat dasar ilmiah bagi prakiraan cuaca dan iklim yang lebih akurat di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.