📑 Daftar Isi

Ilustrasi satelit data center orbit mengelilingi Bumi dengan latar belakang luar angkasa

Data Center Orbit: Solusi AI atau Tantangan Latensi Baru?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Permintaan komputasi AI mendorong perusahaan untuk menjajaki data center orbit sebagai solusi keterbatasan lahan, listrik, dan pendingin.
  • CEO DE-CIX Ivo Ivanov menekankan bahwa kendala energi dan lahan di darat menjadi pendorong utama inovasi ini.
  • Data center orbit menawarkan akses energi surya hampir tak terbatas dan lingkungan lebih dingin, mengurangi kebutuhan pendingin.
  • Tantangan terbesar adalah latensi 20-40 ms yang bisa menghambat aplikasi AI sensitif waktu.
  • Prediktabilitas jaringan menjadi isu kunci karena variabel seperti tutupan awan dan turbulensi atmosfer.
  • Data center orbit diprediksi akan melengkapi, bukan menggantikan, infrastruktur terestrial yang sudah ada.
  • Industri perlu kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem jaringan yang mulus antara Bumi dan orbit.

Telset.id – Permintaan komputasi yang melonjak akibat AI mulai mendorong perusahaan teknologi untuk mencari lokasi baru yang tidak terduga: orbit Bumi. Konsep data center orbit muncul sebagai respons terhadap keterbatasan lahan, listrik, dan pendingin di darat yang semakin menekan industri.

Meski terdengar seperti fiksi ilmiah, sejumlah perusahaan rintisan dan raksasa teknologi mulai serius mengkaji kelayakan infrastruktur komputasi di luar angkasa. Namun, langkah ini membawa tantangan besar, terutama pada aspek latensi atau waktu tunda pengiriman data.

“Selama beberapa tahun terakhir, kami melihat peningkatan luar biasa dalam permintaan kapasitas komputasi. Klaster pelatihan AI semakin besar, kebutuhan daya meningkat, dan di banyak wilayah, ketersediaan energi, lahan, dan pendingin telah menjadi kendala nyata,” ujar CEO DE-CIX Ivo Ivanov dalam wawancara dengan TechRadar.

Ivanov menambahkan bahwa kendala-kendala inilah yang mendorong inovasi. Secara teori, ruang angkasa menawarkan akses ke energi surya yang hampir tidak terbatas dan ruang untuk berkembang tanpa batasan fisik yang ada di Bumi.

Keuntungan lain dari data center orbit meliputi lingkungan yang lebih dingin sehingga mengurangi kebutuhan sistem pendingin yang boros energi. Beberapa perusahaan, termasuk Google melalui Project Suncatcher, sudah menjajaki cara memanen energi dari matahari secara langsung.

Namun, jika komputasi dikirim ke orbit, salah satu masalah terbesar yang dihadapi adalah kebalikan dari apa yang selama ini diperjuangkan industri: latensi. Dalam ekonomi instan saat ini, data center tidak berguna jika tidak bisa bertukar informasi dengan cepat dan andal.

Jaringan terestrial sangat bergantung pada kabel serat optik dan koneksi fisik. Sementara itu, data center orbit perlu mengandalkan transmisi nirkabel yang harus menempuh jarak ratusan kilometer. Meskipun orbit rendah Bumi (Low-Earth Orbit) hanya berjarak beberapa milidetik, latensi 20-40 ms untuk mencapai stratosfer akan menjadi tantangan signifikan bagi beberapa kasus penggunaan inferensi AI.

Tantangan Jaringan yang Kompleks

Dari perspektif jaringan, memindahkan data center ke orbit menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dari sekadar kecepatan. Ivanov menekankan bahwa prediktabilitas menjadi isu yang lebih menarik daripada bandwidth atau kecepatan semata.

“Sistem AI membutuhkan data yang tiba dengan cepat, tetapi mereka juga membutuhkan data yang tiba secara konsisten. Komunikasi optik dan laser memiliki potensi besar, tetapi juga memperkenalkan variabel baru seperti tutupan awan, turbulensi atmosfer, pergantian satelit, dan perubahan posisi orbit,” jelasnya.

Semua faktor ini dapat memengaruhi bagaimana data bergerak antara Bumi dan luar angkasa. Oleh karena itu, tantangan sesungguhnya bukan sekadar menghubungkan data center orbit ke darat, tetapi menciptakan lapisan interkoneksi yang membuat infrastruktur orbit, terestrial, cloud, dan edge berperilaku seolah-olah mereka bagian dari ekosistem yang sama.

Ivanov menegaskan bahwa data center orbit tidak akan menggantikan infrastruktur yang ada di darat. Sejarah infrastruktur digital menunjukkan bahwa teknologi baru cenderung menambah lapisan, bukan menggantikan yang lama. Cloud computing tidak menghilangkan data center perusahaan, edge computing tidak menghilangkan cloud terpusat, dan konektivitas satelit tidak menggantikan jaringan terestrial.

“Saya pikir komputasi orbit akan mengikuti jalur serupa. Beberapa beban kerja AI mungkin akan diuntungkan jika diproses lebih dekat dengan sumber energi berlimpah di orbit, sementara yang lain akan tetap berada di data center edge terestrial karena memerlukan inferensi latensi sangat rendah, kepatuhan regulasi, atau kedekatan dengan pengguna,” papar Ivanov.

Masa Depan Infrastruktur Digital

Untuk mempersiapkan jaringan bagi komputasi orbit, industri perlu menyadari bahwa ini bukan sekadar tantangan komputasi, melainkan tantangan jaringan. Kolaborasi antara operator jaringan, penyedia cloud, perusahaan infrastruktur, dan organisasi antariksa menjadi kunci.

Proyek seperti OFELIAS dari European Space Agency (ESA), di mana DE-CIX bekerja sama dengan German Aerospace Center, sedang menjajaki bagaimana jalur feeder optik antara satelit dan darat dapat menjadi lebih stabil, efisien, dan dapat diprediksi.

Melihat sepuluh tahun ke depan, Ivanov membayangkan sebuah ekosistem yang sepenuhnya terinterkoneksi yang mencakup infrastruktur terestrial, edge, cloud, satelit, dan orbit. Dalam skenario ini, pengguna tidak perlu lagi memikirkan di mana beban kerja berjalan.

“Beban kerja akan berpindah ke mana pun mereka bisa diproses paling efisien, dan data akan mengalir melintasi lingkungan terestrial, satelit, dan orbit senatural mungkin seperti data bergerak melintasi benua saat ini,” pungkas Ivanov.

Konsep data center orbit masih berada pada tahap awal eksplorasi serius. Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terutama di bidang jaringan, ide ini telah menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat akan mendukung generasi berikutnya dari beban kerja AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.