Telset.id – Peneliti dari Meteorological Research Institute Japan Meteorological Agency, Mitsuyuki Hoshiba, mengungkapkan cara kerja sistem peringatan dini gempa bumi (earthquake early warning system/EEWS) yang diterapkan Jepang. Sistem ini mendeteksi gelombang gempa paling awal yang muncul sesaat setelah gempa terjadi, memberikan peringatan beberapa detik sebelum guncangan besar tiba.
Hoshiba menjelaskan bahwa gelombang awal ini bergerak lebih cepat dibanding gelombang utama yang biasanya menimbulkan guncangan kuat dan kerusakan. Karena gelombang komunikasi bergerak lebih cepat daripada gelombang gempa, sistem dapat mengirimkan peringatan beberapa detik sebelum guncangan besar dirasakan masyarakat. Meski waktunya singkat, jeda tersebut sangat penting untuk melakukan tindakan penyelamatan.
“Komunikasi bergerak jauh lebih cepat dibanding gelombang gempa. Karena itu, peringatan bisa dikirim lebih dulu sebelum guncangan kuat tiba,” jelas Hoshiba dikutip dari website BRIN, Kamis (28/5/2026).
Jaringan Sensor dan Infrastruktur Pendukung
Sebagai informasi, Jepang memiliki sekitar 4.400 titik pemantauan gempa yang tersebar di berbagai wilayah. Jaringan sensor ini bekerja selama 24 jam untuk mendeteksi aktivitas gempa secara real time. Data dari sensor kemudian langsung diproses untuk memperkirakan lokasi dan kekuatan guncangan yang akan terjadi.
Hoshiba menuturkan sistem peringatan dini di Jepang sudah digunakan secara luas, tidak hanya untuk masyarakat umum tetapi juga transportasi dan industri. Peringatan gempa dapat muncul melalui televisi, radio, telepon seluler, hingga pengeras suara pemerintah daerah. Sementara, di sektor transportasi dan industri, sistem dapat langsung terhubung dengan mesin otomatis.
Salah satu contoh yang dipaparkan adalah sistem pada kereta cepat Shinkansen. Ketika sensor mendeteksi gempa, sistem akan otomatis memutus aliran listrik dan mengaktifkan rem darurat sebelum guncangan besar mencapai jalur kereta. Semua proses berlangsung otomatis tanpa perlu menunggu operator.
Hoshiba menggarisbawahi sistem ini bukan alat untuk meramalkan kapan gempa akan terjadi. EEWS bekerja setelah gempa terdeteksi, lalu memberikan peringatan secepat mungkin agar dampaknya dapat dikurangi.
“EEWS bukan prediksi gempa, tetapi sistem untuk memberikan peringatan secepat mungkin agar dampak gempa bisa dikurangi,” ucapnya.
Akurasi dan Pengembangan Metode Deteksi
Selain kecepatan, sistem peringatan dini juga harus akurat. Karena itu, Jepang mengembangkan berbagai metode untuk membedakan sinyal gempa dengan getaran lain yang bukan berasal dari aktivitas gempa, sehingga dapat mengurangi risiko peringatan palsu yang bisa memicu kepanikan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, menegaskan sistem peringatan dini gempa yang cepat dan akurat sangat penting untuk membantu mengurangi korban jiwa dan dampak kerusakan saat bencana terjadi.
Teknologi mitigasi bencana seperti EEWS Jepang bisa menjadi referensi bagi negara lain, termasuk Indonesia yang juga rawan gempa. Penerapan sistem serupa membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur sensor dan jaringan komunikasi, namun manfaatnya dalam menyelamatkan jiwa sangat signifikan.
Baca Juga:
Pelajaran dari Jepang menunjukkan bahwa teknologi peringatan dini bukanlah ramalan gempa, melainkan sistem yang bekerja setelah gempa terdeteksi untuk memberikan waktu berharga bagi masyarakat dan infrastruktur. Dengan jaringan sensor yang luas dan pemrosesan data real-time, jeda beberapa detik yang dihasilkan bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.





Komentar
Belum ada komentar.