Telset.id – AtlasBase mengembangkan perangkat penyimpanan DNA yang dapat menampung hingga 50 PB data digital dalam sebuah kapsul kecil, dengan daya simpan lebih dari 1.000 tahun tanpa listrik atau pendinginan. Teknologi ini menempatkan DNA sintetis sebagai medium arsip jangka panjang yang berpotensi mengubah cara organisasi menyimpan data dalam skala sangat besar.
Platform Thalia milik AtlasBase menggabungkan kontrol semikonduktor konvensional dengan proses biokimia untuk mengubah informasi digital menjadi kombinasi empat basa DNA, lalu menuliskan urutan hasilnya pada kepadatan sangat tinggi. Perusahaan menyebut chip terbarunya memuat 5,6 miliar reaction sites, atau meningkat 700 kali dibanding teknologi sintesis DNA sebelumnya, dengan platform silikon yang memproduksi urutan DNA terenkode secara kimia.
Chip tersebut menggunakan lapisan 16nm CMOS di bawah bagian biologis terpisah, sehingga kontrol elektrik dapat mengarahkan reaksi di jutaan titik mungil. Setiap titik berisi komponen yang memungkinkan reaksi kimia, dengan pulsa listrik menentukan basa DNA mana yang ditambahkan pada setiap siklus sintesis.

Untaian DNA sintetis yang dihasilkan kemudian dikeringkan dan disegel di dalam kapsul logam yang dirancang agar bisa dimasukkan ke cartridge penyimpanan. AtlasBase menyatakan satu kapsul awalnya dapat memuat antara 1 TB hingga 50 PB, sementara desain cartridge-nya menampung 100 kapsul. Artinya, potensi kapasitas mencapai 100 TB hingga 5 EB dalam satu jejak penyimpanan seukuran cartridge untuk keperluan arsip.
Perusahaan juga menyebut medium molekulernya tetap dapat digunakan lebih dari 1.000 tahun tanpa listrik, pendinginan, atau pergerakan mekanis secara terus-menerus. Pendekatan ini menempatkan penyimpanan DNA sebagai opsi preservasi jangka panjang, bukan pengganti sistem berkecepatan tinggi.
Komputasi Molekuler Jadi Lapisan Tambahan
AtlasBase turut mengembangkan cara melakukan perhitungan tertentu langsung dengan molekul DNA, alih-alih memindahkan data berulang kali antara penyimpanan dan prosesor. Pendekatan ini memakai reaksi kimia untuk memeriksa banyak kemungkinan kombinasi secara bersamaan, sehingga berpotensi berguna untuk masalah optimasi dengan jumlah hasil yang sangat besar.
Salah satu contohnya adalah penjadwalan penerbangan, di mana berbagai kombinasi pesawat, rute, dan waktu yang tersedia harus memenuhi beberapa batasan sekaligus. AtlasBase menyatakan sistemnya dapat memeriksa ribuan hingga jutaan kandidat kombinasi secara bersamaan, meski untuk mengakses materi yang tersimpan tetap diperlukan persiapan dan sequencing.
Mengambil kembali materi yang sudah disimpan untuk komputasi bisa memakan waktu beberapa menit, sementara waktu pemrosesan akhir bergantung pada kompleksitas aplikasi. Rentang waktu itu membuat teknologi ini secara fundamental berbeda dari prosesor konvensional, di mana kalkulasi dapat berlangsung jauh lebih cepat begitu data relevan mencapai memori.

AtlasBase telah mulai menawarkan program early-access yang mencakup penyimpanan dan komputasi molekuler kepada organisasi serta pengguna teknologi terpilih. Perusahaan menyebut aplikasi potensialnya meliputi arsip, preservasi rekaman, perencanaan transportasi, operasi industri, pekerjaan finansial, studi ilmiah, dan analisis sumber daya.
Namun, teknologi ini masih belum memiliki rekam jejak operasional dan bukti deployment komersial yang diperlukan untuk menetapkan bagaimana posisinya dibanding sistem arsip yang sudah mapan. Ketiadaan riwayat itu menjadi catatan penting di tengah janji kapasitas dan daya tahan yang jauh melampaui media penyimpanan konvensional.
DNA sebagai Platform Data Alamiah
“For 2 billion years, DNA has flourished as nature’s data platform, an incredibly capable structure for processing the information that defines every living thing,” kata Jeff Treuhaft, CEO AtlasBase. “We’re now harnessing that same architecture for computing at a scale that was never before possible.”
Pernyataan itu menegaskan posisi AtlasBase yang melihat DNA bukan sekadar medium penyimpanan, melainkan arsitektur pemrosesan informasi. Kombinasi penyimpanan dan komputasi molekuler inilah yang menjadi pembeda dari pendekatan arsip digital yang ada saat ini.
Pengembangan kapasitas penyimpanan skala besar memang menjadi arah industri dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa inovasi chip dan media penyimpanan terbaru menunjukkan dorongan serupa untuk menekan ruang fisik per kapasitas data, seperti yang terlihat pada teknologi sensor 3D yang juga mengedepankan kepadatan komponen. Di sisi lain, kecepatan akses dan pengisian daya tetap menjadi perhatian, sebagaimana riset teknologi charging baterai yang menargetkan pengisian hanya dalam 30 detik.
Baca Juga:
Isu privasi dan keamanan data pun tak terpisahkan dari pembahasan penyimpanan jangka panjang. Seperti halnya putusan soal privasi data yang menyoroti pentingnya tata kelola informasi, medium DNA menuntut kejelasan soal siapa yang mengontrol data yang tersimpan hingga ratusan tahun.
Dengan kapasitas satu cartridge yang berpotensi mencapai 5 EB dan daya simpan lebih dari 1.000 tahun tanpa listrik, AtlasBase menawarkan proposisi yang sulit ditandingi sistem arsip konvensional dari sisi kepadatan dan ketahanan. Namun tanpa rekam jejak operasional dan bukti deployment komersial, penilaian menyeluruh masih menunggu bagaimana teknologi ini terbukti di lapangan.





Komentar
Belum ada komentar.