Algoritma AI Karya Peneliti Bisa Bantu Obati Epilepsi

Telset.id, Jakarta – Algoritma AI atau kecerdasan buatan karya peneliti bisa membantu obati epilepsi. Algoritma itu bisa mengidentifikasi anomali otak kecil.

Algoritma AI tersebut dikembangkan oleh tim peneliti multinasional yang dipimpin oleh UCL. Mereka mengembangkan program AI untuk identifikasi penyebab epilepsi.

Algoritma yang digunakan dalam proyek Deteksi Lesi Epilepsi Multisenter (MELD) melaporkan lokasi kelainan kasus displasia kortikal fokal resisten obat atau disebut FCD. FCD adalah penyebab utama epilepsi. Algoritma dikembangkan memakai sampel sebanyak lebih dari 1.000 pemindaian MRI pasien dari 22 negara pusat-pusat epilepsi.

BACA JUGA: 

Dikutip Telset dari Gadgets360 pada Jumat (12/8/2022), daerah otak disebut FCD berkembang secara tidak benar dan sering memicu epilepsi yang resistan terhadap obat.

Pembedahan biasanya digunakan untuk mengobatinya. Namun, temuan lesi di MRI adalah masalah konstan bagi dokter karena pemindaian FCD bisa tampak normal.

Para ilmuwan menggunakan sekitar 300 ribu tempat di seluruh otak untuk mengukur sifat kortikal pemindaian MRI, seperti seberapa tebal atau lipat permukaan korteks.

Sistem itu kemudian dilatih di kasus-kasus yang oleh ahli radiologi berpengalaman diklasifikasikan memiliki FCD atau otak yang sehat berdasarkan pola dan atributnya.

Secara umum, algoritma berhasil mengidentifikasi FCD di 67 persen kasus dalam kohort. Ahli radiologi sebelumnya tidak dapat mengungkap kelainan di 178 pasien.

Mathilde Ripart, rekan penulis dari UCL Great Ormond Street Institute of Child Health, fokus kepada pengembangan sistem AI yang bisa ditafsirkan dan membantu dokter.

“Algoritma memudahkan identifikasi lesi tersembunyi di anak-anak dan orang dewasa epilepsi,” kata Konrad Wagstyl, penulis senior UCL Queen Square Institute of Neurology.

BACA JUGA:

FCD adalah penyebab paling sering bagi anak-anak yang telah menjalani operasi untuk mengobati epilepsi dan merupakan penyebab paling sering ketiga bagi orang dewasa.

Bukan hanya itu, FCD adalah alasan paling sering untuk terserang epilepsi di orang yang memiliki anomali otak yang tidak dapat dilihat melalui sistem pemindaian MRI.

“Sistem kami efektif karena secara otomatis belajar mendeteksi lesi dari ribuan pemindaian MRI pasien,” terang Hannah Spitzer, penulis pertama dari Helmholtz Munich. [SN/IF]

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0