Ilustrasi komputer partikel cair dengan 400 partikel mikroskopis yang mengorbit dalam setetes cairan untuk komputasi reservoir

400 Partikel Cair Jadi Komputer, Akurasi Kalah 10x dari Memristor

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Fisikawan dari Universitas Konstanz dan Stuttgart ciptakan komputer dari 400 partikel mikroskopis dalam setetes cairan
  • Sistem mampu memprediksi deret Mackey-Glass dan mendeteksi anomali dengan skor F1 0,90
  • Akurasi sistem 10 kali lebih rendah dibandingkan komputer berbasis memristor (NRMSE 0,1 vs 0,01)
  • Setiap osilator berupa bola silika 3μm dengan lapisan karbon 80nm yang dipanaskan laser 532nm
  • Sistem tetap akurat meski input hanya 20% dari osilator atau partikel mengalami kegagalan
  • Tidak ada data efisiensi energi meski menjadi motivasi utama penelitian
  • Peneliti akui pengaturan laser mungkin tidak praktis, usulkan aktuasi elektroda sebagai alternatif

Telset.id – Fisikawan dari Universitas Konstanz dan Stuttgart berhasil menciptakan komputer unik yang menggunakan 400 partikel mikroskopis yang mengorbit dalam setetes cairan untuk melakukan peramalan sinyal kacau dan deteksi anomali. Meski inovatif, sistem ini memiliki kelemahan signifikan: akurasinya sekitar 10 kali lebih rendah dibandingkan komputer berbasis memristor.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Communications AI & Computing ini menggunakan susunan partikel koloid untuk memprediksi deret Mackey-Glass yang kacau. Yang lebih menarik, sistem ini mampu mendeteksi anomali yang tidak mengubah rata-rata, varians, maupun autokorelasi jangka pendek dari sinyal, dengan skor F1 mencapai 0,90 untuk tugas yang lebih sulit tersebut.

Namun, para peneliti secara jujur mengakui bahwa pencapaian ini masih jauh dari implementasi fisik lainnya. “Array koloid mencapai normalized root-mean-squared error sekitar 0,1 pada prediksi satu langkah Mackey-Glass. Perangkat memristor kini mencapai 0,01 atau lebih baik pada tolok ukur yang sama,” tulis para penulis dalam makalah tersebut. Mereka menambahkan bahwa hasil memristor bergantung pada time-multiplexing dan merupakan hasil dari hampir satu dekade penelitian terfokus.

Setiap osilator dalam sistem ini berupa bola silika berjari-jari 3μm, yang salah satu sisinya dilapisi karbon setebal 80nm. Partikel-partikel ini tersuspensi dalam campuran air dan lutidin yang dijaga pada suhu 28°C. Sebuah laser 532nm memanaskan lapisan karbon dan mendorong partikel menuju titik target yang ditentukan. Namun, karena ada jeda antara pencitraan partikel dan reposisi berkas laser, partikel tersebut melampaui target dan akhirnya menetap dalam orbit kecil.

Physicists build a computer from 400 particles orbiting in liquid with 10 times the error of memristor rivals.

Medan aliran dalam cairan menghubungkan orbit-orbit tetangga, dan data masuk ke sistem sebagai perpindahan dari titik-titik target. Jarak kisi (lattice spacing) menentukan kekuatan kopling, karena gaya hidrodinamik melemah seiring jarak. Ambang redaman (damping threshold) mengatur seberapa jauh setiap partikel berayun. Kedua parameter ini dapat disesuaikan saat eksperimen berjalan, dan kesalahan peramalan bervariasi lebih dari tiga kali lipat di seluruh ruang parameter tersebut.

Akurasi sistem juga tetap terjaga ketika input hanya mencapai 20% dari osilator, dan ketika partikel individu berhenti merespons laser atau menggumpal bersama. Ini menunjukkan ketahanan sistem terhadap kegagalan komponen individual.

Clemens Bechinger, profesor soft condensed matter di Universitas Konstanz, mengatakan dalam pengumuman universitas bahwa dinamika sistem tidak perlu dipahami sepenuhnya, hanya perlu merespons secara andal. “Fisikanya dapat langsung dimanfaatkan untuk komputasi,” ujarnya.

Salah satu keunggulan yang diklaim oleh para peneliti adalah bahwa platform ini menghindari time-multiplexing, yang membedakannya dari hampir semua reservoir fisik yang ada, termasuk fotonik, memristif, dan spintronik. Sebuah pracetak arXiv dari Januari lalu menyoroti perbedaan ini sebagai keunggulan utama.

Meskipun demikian, menjalankan reservoir ini membutuhkan peralatan yang cukup kompleks: laser 532nm, deflektor akusto-optik dua sumbu yang memindai pada 100 kHz, mikroskop waktu-nyata dengan pelacakan partikel, sel kuarsa yang dikontrol suhu, dan komputer konvensional untuk 1.000 kernel Gaussian dan regresi ridge yang menghasilkan keluaran.

Yang menarik, tidak ada statistik energi yang muncul di mana pun dalam makalah tersebut, meskipun efisiensi energi disebut sebagai motivasi utama. Para penulis bahkan mengakui bahwa pengaturan berbasis laser mungkin tidak dapat diterapkan secara praktis. Sebagai gantinya, mereka menunjuk pada skema aktuasi yang lebih sederhana, seperti koloid yang digerakkan oleh elektroda.

Perbandingan dengan teknologi lain menunjukkan celah kinerja yang signifikan. Saat array koloid mencapai normalized root-mean-squared error sekitar 0,1, perangkat memristor modern mencapai 0,01 atau lebih baik. Ini berarti reservoir koloid sekitar 10 kali kurang akurat dibandingkan pesaing memristornya.

Sebagai konteks, tim peneliti lain baru-baru ini berhasil menyinkronkan 105.000 nano-osilator hanya dalam 45 nanodetik pada platform yang diproyeksikan berjalan pada puluhan gigahertz. Ini menunjukkan bahwa meskipun pendekatan koloid menawarkan keunikan dalam hal fisikanya, pendekatan tersebut masih tertinggal dalam hal kinerja komputasi.

Para peneliti tetap optimis bahwa pendekatan mereka memiliki potensi, terutama karena kemampuannya untuk beroperasi tanpa time-multiplexing. Namun, mereka realistis tentang keterbatasan saat ini. “Reservoir kami tidak mengungguli implementasi fisik yang sudah mapan,” tulis mereka.

Kesimpulannya, komputer partikel cair ini adalah bukti konsep yang menarik untuk komputasi reservoir fisik. Ia menunjukkan bahwa sistem yang relatif sederhana dan mudah disetel dapat melakukan tugas komputasi yang kompleks. Namun, kesenjangan kinerja yang signifikan dibandingkan dengan teknologi yang lebih matang seperti memristor menunjukkan bahwa masih ada jalan panjang sebelum teknologi ini dapat bersaing secara praktis. Meskipun demikian, penelitian ini membuka pintu untuk eksplorasi lebih lanjut tentang bagaimana fenomena fisik dapat dimanfaatkan langsung untuk komputasi, yang berpotensi mengarah pada arsitektur komputasi yang sama sekali baru di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.