📑 Daftar Isi

Ilustrasi papan sirkuit dengan chip memori DRAM dan grafik kenaikan harga, merepresentasikan berita kenaikan harga DRAM Samsung.

Samsung Naikkan Harga DRAM 30% di Kuartal II 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Samsung Electronics dikabarkan kembali menaikkan harga kontrak DRAM untuk kuartal kedua tahun 2026. Setelah di kuartal pertama harga rata-rata melonjak dua kali lipat, kali ini raksasa memori asal Korea Selatan itu menaikkan harga sekitar 30% dalam negosiasi dengan pelanggan besar.

Menurut laporan media Korea ETNews, kontrak pasokan dengan kenaikan harga tersebut telah ditandatangani dengan pelanggan utama pada akhir Maret lalu. Kenaikan sekitar 30% ini merupakan rata-rata untuk berbagai jenis DRAM, termasuk High-Bandwidth Memory (HBM) yang banyak digunakan untuk AI, serta DRAM umum untuk server, PC, dan perangkat mobile.

Lonjakan harga ini terjadi di tengah kelangkaan memori yang dipicu ekspansi besar-besaran pusat data AI. Seorang profesional industri yang diwawancarai ETNews menyatakan, “Saat ini, dengan dukungan permintaan AI, tidak terlihat tanda-tanda perbaikan atau penurunan harga memori.” Permintaan tinggi untuk HBM di server AI juga menyebabkan pabrik mengurangi alokasi produksi untuk DRAM konsumen, yang kemudian berdampak pada pasar ritel.

Dampak pada Pasar dan Respons Pesaing

Meski demikian, ada tanda-tanda stabilitas harga untuk memori DDR5 di pasar. Laporan dari firma riset TrendForce menunjukkan, harga beberapa modul memori di pasar AS dan Eropa mulai lebih terjangkau. Di platform Amazon, misalnya, model populer seperti Corsair Vengeance Series terlihat lebih murah. Sementara di pasar China, harga memori dilaporkan turun hingga 30% dibanding awal 2026, bahkan membuat para penimbun stok mulai panik.

Penurunan harga di pasar China ini sebagian didorong oleh meredanya permintaan karena banyak konsumen menunda perakitan PC baru. Namun, analis memandang penurunan ini hanya fluktuasi jangka pendek. Kontrak terbaru Samsung dengan kliennya mencerminkan keyakinan perusahaan bahwa demam AI akan berlanjut. Sumber lain yang dikutip ETNews menegaskan, “Permintaan untuk DRAM performa tinggi dan HBM tidak berubah,” dan menambahkan bahwa “permintaan kontrak jangka panjang serta persaingan memperebutkan pasokan DRAM juga semakin ketat.”

Implikasinya, harga memori DDR5 untuk laptop dan konsol game kecil kemungkinan akan turun. Pengguna smartphone juga akan menghadapi lebih sedikit pilihan upgrade yang menarik karena biaya komponen yang meningkat. Kenaikan harga komponen memori ini juga berdampak pada perangkat lain, seperti yang terjadi pada beberapa handheld Ayaneo yang produksinya dihentikan.

Samsung bukan satu-satunya produsen yang mengambil keuntungan dari krisis memori yang dipicu AI. Laporan yang sama mengonfirmasi bahwa pesaing seperti Micron dan SK Hynix juga berencana menaikkan harga kontrak mereka pada kuartal kedua tahun 2026. Situasi ini memperkuat narasi bahwa kenaikan harga komponen penyimpanan dan memori menjadi tren baru di era AI, sebagaimana pernah disinggung oleh Seagate mengenai “normal baru”.

Gelombang permintaan AI yang masif telah mengubah lanskap industri semikonduktor. Insiden seperti blokir pemerintah AS terhadap aplikasi tertentu bahkan mempengaruhi persaingan di pasar AI konsumen, menunjukkan betapa dinamisnya sektor ini. Di sisi lain, konsumen akhir mungkin perlu mempertimbangkan kembali waktu upgrade perangkat mereka, termasuk smartphone flagship seperti Galaxy S26, mengingat tekanan harga komponen inti seperti DRAM.

Kenaikan harga beruntun ini menandai periode ketatnya pasokan memori yang diproyeksikan masih akan berlanjut. Keputusan Samsung dan produsen memori utama lainnya mencerminkan strategi untuk memprioritaskan profitabilitas dan mengalokasikan kapasitas produksi yang terbatas ke segmen yang paling menguntungkan, yaitu memori untuk aplikasi AI dan enterprise, di tengah permintaan global yang tetap kuat.