Ilustrasi penurunan saham SpaceX dengan latar belakang Elon Musk dan panah menurun

Saham SpaceX Anjlok Usai Uji Terbang Starship Gagal Total

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Saham SpaceX anjlok ke rekor terendah $108,66 setelah uji terbang Starship ke-13
  • Harga saham turun lebih dari 20% dari harga IPO $135 dan setengah dari rekor tertinggi $225
  • Uji coba menunjukkan hasil beragam: tahap atas berhasil, booster gagal mendarat dan meledak
  • Hanya 10 dari 13 mesin booster menyala saat proses pendaratan kembali ke Bumi
  • Ini adalah uji terbang pertama sejak IPO, menunjukkan tekanan investor terhadap SpaceX
  • SpaceX belum pernah profit dan rugi $5 miliar tahun lalu
  • Analis menyebut setiap keputusan SpaceX kini akan diawasi ketat oleh pasar
  • Kegagalan booster menghalangi reusabilitas yang merupakan kunci ekonomi Starship

Telset.id – Uji terbang Starship ke-13 yang digelar akhir pekan lalu berakhir pahit bagi SpaceX. Meskipun sebagian media menyebutnya sebagai keberhasilan parsial, kenyataan di pasar modal justru berkata lain. Saham SpaceX anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah setelah aksi korporasi itu, menunjukkan bahwa kegagalan booster mendarat dengan selamat menjadi sinyal bahaya bagi investor.

Pada sesi perdagangan Senin lalu, harga saham SpaceX sempat menyentuh level $108,66, rekor terendah baru sejak perusahaan tersebut melantai di bursa. Angka tersebut lebih dari 20 persen di bawah harga perdana IPO di $135, dan kurang dari setengah dari rekor tertinggi sepanjang masa yang mencapai lebih dari $225 per saham.

Penurunan ini terjadi hanya beberapa hari setelah saham SpaceX ditutup di level $115 pada akhir pekan, yang juga merupakan level terendah sepanjang masa saat itu. Kejatuhan ini mengindikasikan bahwa pasar mulai kehilangan kesabaran terhadap perkembangan program Starship yang tidak kunjung linear.

Uji terbang pada Jumat pekan lalu memang menunjukkan hasil yang beragam. Tahap atas Starship berhasil mencapai luar angkasa suborbital dan bahkan mendistribusikan muatan satelit Starlink untuk pertama kalinya. Satelit-satelit tersebut sempat beroperasi secara singkat sebelum akhirnya terbakar sesuai rencana saat memasuki atmosfer bumi. Ini menjadi pencapaian baru karena uji coba sebelumnya hanya menggunakan satelit palsu.

Namun, masalah besar justru terjadi pada bagian booster. Meskipun kinerjanya sempurna saat meluncur ke atas, hanya sepuluh dari tiga belas mesin yang berhasil menyala saat proses pendaratan kembali ke Bumi. Akibatnya, booster gagal memperlambat laju dan bukannya mendarat dengan lembut di laut, melainkan menghantam permukaan Teluk Meksiko dan meledak saat tumbukan.

Ilustrasi grafis foto yang menampilkan Elon Musk dengan latar belakang panah yang menurun tajam, menggambarkan kejatuhan saham SpaceX.

Kegagalan booster ini menjadi sorotan utama karena menyangkut aspek paling krusial dari desain Starship, yaitu kemampuan untuk digunakan kembali. Tanpa booster yang dapat diandalkan untuk mendarat dan digunakan lagi, Starship tidak akan pernah menjadi kendaraan antariksa yang ekonomis untuk mengangkut muatan besar ke orbit.

## Konsekuensi Menjadi Perusahaan Publik

Ini adalah kali pertama SpaceX menghadapi tekanan pasar saham setelah uji terbang yang bermasalah. Sebelumnya, ketika masih menjadi perusahaan privat, SpaceX hanya perlu menghadapi liputan media yang kritis. Namun kini, setiap keputusan dan hasil uji coba akan langsung tercermin dalam pergerakan harga saham.

“Salah satu keuntungan menjadi perusahaan privat adalah tidak ada pasar yang ikut menilai dan mengevaluasi keputusan bisnis,” ujar David Meier, analis investasi senior di Motley Fool, kepada The Washington Post. “Menjadi perusahaan publik berarti semuanya akan dievaluasi dan informasi akan ditransmisikan melalui harga pasar.”

Meier menambahkan bahwa setiap peluncuran SpaceX, setiap keputusan Starlink, dan setiap keputusan xAI akan menjadi bahan pengawasan ketat oleh pasar. Situasi ini sangat berbeda dengan era ketika SpaceX bisa melakukan eksperimen tanpa tekanan dari pemegang saham.

## Realitas Bisnis Antariksa yang Mahal

Spaceflight, setidaknya untuk saat ini, bukanlah lahan yang cocok untuk kapitalisme cepat yang dianut oleh Elon Musk. SpaceX belum pernah mencatatkan profit, dan justru mengalami kerugian sebesar $5 miliar pada tahun lalu saja. Angka ini menunjukkan betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengembangkan teknologi roket yang revolusioner.

Perkembangan roket adalah proses yang rumit dan penuh tantangan. Tidak ada jaminan bahwa kemajuan akan berjalan linear, atau bahkan akan ada kemajuan sama sekali. Investor pada dasarnya diminta untuk terus mengucurkan dana ke dalam eksperimen ilmiah yang sangat panjang dan mahal.

Sementara itu, Musk terus membuat janji-janji yang sangat ambisius. Ia menyatakan bahwa SpaceX pada akhirnya akan menggunakan Starship untuk menempatkan pusat data di luar angkasa sedemikian rupa hingga menciptakan “matahari yang sadar,” serta mendirikan koloni di Bulan dan Mars. Setiap kegagalan akan dibandingkan dengan tolok ukur yang sangat tinggi tersebut, yang merupakan bagian dari strategi Musk selama ini.

## Analisis Dampak Kegagalan Booster

Meskipun tahap atas Starship berhasil melakukan pendaratan di Samudra Hindia tanpa meledak, kegagalan booster sulit untuk diabaikan. Clayton Swope, wakil direktur Aerospace Security Project, mengatakan kepada WaPo bahwa masa depan perusahaan bergantung pada kemampuan untuk membuat Starship berfungsi.

“Apa yang mereka coba lakukan adalah beralih ke kereta barang dan mendapatkan skala ekonomi dari sesuatu yang sebesar itu,” ujar Swope.

Pencapaian positif dalam uji coba kali ini memang tidak bisa dipungkiri. Ini adalah uji terbang pertama dengan V3 Starship, dan tahap atasnya berhasil melewati uji coba lebih baik dibandingkan uji terbang V3 pertama pada bulan Mei lalu, di mana tahap atas kehilangan beberapa mesin dalam perjalanan ke luar angkasa.

Namun, fakta bahwa saham terus berkinerja buruk meskipun sebagian besar liputan media tentang uji coba terakhir bernada positif menjadi sinyal yang mengkhawatirkan. Pasar tampaknya lebih fokus pada kegagalan booster yang menghalangi tercapainya reusabilitas penuh, yang merupakan kunci dari model bisnis Starship.

Kejatuhan saham ini terjadi setelah SpaceX menjalani IPO yang sangat dinantikan pada awal musim panas. Banyak pihak yang memperkirakan bahwa uji terbang yang sukses akan membantu mendongkrak harga saham. Namun kenyataannya, hasil uji coba yang ambigu justru memperburuk posisi saham yang sudah terpuruk.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca tentang Roket Falcon 9 yang menjadi andalan SpaceX, atau simak Strategi SpaceX dalam menghadapi raksasa telekomunikasi.

Dengan harga saham yang kini berada di level terendah, SpaceX menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap uji terbang Starship ke depan akan menjadi momen kritis yang tidak hanya menentukan kemajuan teknis, tetapi juga kepercayaan investor terhadap masa depan perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.