📑 Daftar Isi

Peneliti keamanan mempresentasikan temuan kerentanan siber di konferensi Def Con Las Vegas

Riset Ungkap 250 Ribu Situs Publik Polandia Rawan Diretas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Peneliti Polandia Robert Kruczek dan Kamil Szczurowski menemukan 10.000 entitas publik dan 250.000 situs web rentan diretas
  • Sektor terdampak meliputi bandara, rumah sakit, kantor pemerintahan, dan 245 pengadilan
  • Kerentanan kritis ditemukan pada Pad CMS yang memungkinkan akses tanpa kata sandi ke 300 situs publik
  • Vendor tidak menambal perangkat lunak karena sudah end of life dan tidak lagi didukung
  • Minimnya bug bounty dan saluran pelaporan memperparah risiko keamanan siber
  • Temuan dipresentasikan di konferensi Def Con Las Vegas, Jumat lalu
  • Penelitian dilakukan saat Polandia menghadapi gelombang dugaan peretasan Rusia pada sektor energi dan air
  • Para peneliti melaporkan temuan ke pemerintah melalui kanal resmi dan menilai hasilnya membuat Polandia "sedikit lebih aman"

Telset.id – Ribuan lembaga publik dan situs web di Polandia terancam serangan siber akibat kerentanan keamanan yang meluas. Dua peneliti keamanan Polandia, Robert Kruczek dan Kamil Szczurowski, mengungkap temuan ini dalam konferensi keamanan siber Def Con di Las Vegas pada Jumat lalu.

Penelitian yang didorong rasa patriotisme untuk membuat internet Polandia lebih aman ini menemukan lebih dari 10.000 entitas publik yang terdampak. Total terdapat 250.000 situs web dengan celah keamanan, mencakup bandara, rumah sakit, dan kantor pemerintahan.

Kerentanan ini menurut para peneliti berasal dari perangkat lunak bermasalah yang diproduksi vendor. Minimnya program bug bounty dan saluran pelaporan celah keamanan memperparah situasi. Beberapa bug bahkan sangat mudah dieksploitasi namun tidak ditanggapi serius oleh vendor, yang menganggap laporan tersebut sebagai gangguan belaka.

Temuan ini hadir di tengah upaya Polandia memperkuat pertahanan sibernya. Negara tersebut baru saja menghadapi gelombang dugaan peretasan Rusia yang menyasar penyedia energi dan air. Sebagian serangan tersebut memanfaatkan kelemahan keamanan yang ada.

Temuan Kritis pada Pad CMS

Kruczek dan Szczurowski menemukan beberapa bug pada Pad CMS, sistem manajemen konten yang banyak digunakan pemilik situs untuk mengatur dan menampilkan konten. Kerentanan kritis pada Pad CMS memungkinkan mereka mengakses lebih dari 300 situs publik tanpa memerlukan kata sandi.

Pengembang perangkat lunak tidak menambal perangkat lunak tersebut karena sudah memasuki status “end of life” dan tidak lagi didukung. Kondisi ini membuat situs-situs yang masih menggunakannya tetap rentan terhadap serangan.

Temuan lain memungkinkan akses ke situs sekitar dua pertiga lembaga peradilan Polandia, mencakup sekitar 245 pengadilan. Kedua peneliti melaporkan temuan mereka kepada pemerintah melalui berbagai kanal resmi.

Implikasi bagi Keamanan Siber Global

Temuan ini menyoroti pentingnya pengelolaan kerentanan perangkat lunak secara berkelanjutan. Riset ini juga menegaskan bahwa security debt yang tidak dikelola dapat menimbulkan risiko serius bagi organisasi. Hal ini sejalan dengan berbagai upaya industri untuk memperkuat keamanan, termasuk akuisisi perusahaan keamanan demi meningkatkan kapabilitas proteksi.

Para peneliti mengungkapkan bahwa upaya mereka pada akhirnya sepadan dengan segala kesulitan yang dihadapi. Sebagai hasil dari penelitian ini, mereka menilai masyarakat Polandia menjadi “sedikit lebih aman”.

Kasus ini juga menunjukkan bagaimana insiden keamanan dapat berdampak luas pada kepercayaan publik. Sementara itu, perkembangan teknologi keamanan terus berlanjut dengan berbagai inovasi seperti deteksi penipuan AI dan solusi keamanan enterprise dari berbagai vendor.

Riset Kruczek dan Szczurowski menjadi pengingat bahwa keamanan siber sektor publik membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan. Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan vendor perangkat lunak menjadi kunci untuk menutup celah yang ada dan mencegah potensi serangan di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.