Regulatornya Lemah dan Operatornya Tidak Jujur

Jakarta – Merebaknya kasus pencurian pulsa beberapa waktu terakhir ini dianggap akibat lemahnya pengawasan pihak BRTI selaku regulator, dan tidak jujurnya operator dalam menjalankan kerjasama bisnisnya dengan pihak content provider (CP).

Lemahnya pengawasan dari BRTI disoroti Ketua Harian Panja Pencurian Pulsa, Tantowi Yahya, yang menyebutkan kelalaian yang dilakukan BRTI selaku regulator adalah tidak mengawasi secara cermat praktek bisnis yang dijalankan CP dan para operator.

“BRTI selaku regulator sudah lalai dalam melaksanakan tugas utamanya, yakni melakukan pengawasan, membuat aturan, dan mengendalikan industri telekomunikasi seluler di Indonesia,” sebut Tantowi Yahya dalam rapat dengan Panja Pencurian Pulsa Komisi I DPR RI, di Jakarta, Senin (5/12).

Ia sangat menyayangkan akan lemahnya pengawasan dari pihak BRTI, sehingga banyak CP yang tidak terdaftar di BRTI bisa menjalankan bisnisnya secara ilegal. Tantowi mensinyalir telah terjadi praktek kongkalikong antara oknum regulator bersama oknum operator dan oknum CP nakal.

Saya tidak habis pikir kenapa banyak CP tanpa izin bisa berkeliaran tanpa diketahui oleh pihak regulator dan operator. Harusnya jika tidak mengantongi izin, CP dan operator tidak bisa melakukan perjanjian kerjasama (PKS), tegasnya.

Sementara itu, Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) mendorong segera dilakukan audit secara profesional pada BRTI, operator, dan CP, agar bisa diketahui siapa yang telah melakukan praktek tidak terpuji tersebut.

Sebaiknya segera dilakukan audit pada ketiga pihak terkait, agar semuanya menjadi jelas siapa yang telah melakukan perbuatan curang, mencuri pulsa pelanggan, saran Ketua Umum Mastel, Setyanto P Santosa  dalam acara yang sama.

Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala menambahkan, terjadinya praktek sedot pulsa oleh CP nakal akibat lemahnya pengawasan BRTI dan juga permainan oknum operator.

Praktek sedot pulsa ini tidak akan terjadi kalau tidak melibatkan oknum-oknum di dalam operator itu sendiri. Mereka ini memberikan keistimewaan kepada CP tertentu untuk menjalankan prektek sedot pulsa,” sebut Kamilov.

Lebih jauh ia mengungkapkan, akibat lemahnya pengawasan dari BRTI telah menyebabkan semakin banyaknya CP yang dibiayai pihak asing bekerjasama dengan operator melakukan praktek penipuan. Contohnya ada salah satu operator terbesar di Indonesia yang menggunakan produk asal Israel menawarkan pop screen di layanan mereka,” ungkapnya.[hbs]{jcomments on}

Previous articleBRTI Bantah Miliki Data 60 CP Nakal
Next articleTelkomsel Raih Penghargaan USO Award 2011

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here