📑 Daftar Isi

Ilustrasi trojan perbankan Android RedHat yang dilengkapi asisten AI untuk mencuri data perbankan

RedHat, Trojan Android Ber-AI Asisten Curi Data Perbankan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • RedHat, trojan Android ber-AI asisten temuan Zimperium zLabs, diduga berasal dari Tiongkok
  • AI membaca tata letak layar real-time untuk mencuri kredensial dan OTP perbankan
  • Disebar via toko aplikasi pihak ketiga, media sosial, malvertising, dan SMS spam
  • Butuh izin Accessibility dan mampu membatalkan upaya uninstalasi
  • Target serta jumlah korban RedHat belum diketahui

Telset.id – Peneliti keamanan Zimperium zLabs menemukan RedHat, sebuah trojan perbankan Android yang dilengkapi asisten AI untuk mencuri kredensial perbankan pengguna. Malware ini diduga berasal dari Tiongkok dan menjadi ancaman baru karena mampu beradaptasi dengan perubahan tampilan aplikasi perbankan secara real-time, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki trojan konvensional.

Temuan ini menjadi sorotan karena menunjukkan pergeseran cara kerja malware perbankan. Jika sebelumnya pelaku kejahatan harus menuliskan koordinat persis untuk setiap tombol dan kolom pada aplikasi yang disasar, kini RedHat menggunakan AI untuk memahami tata letak layar dan menentukan langkah berikutnya secara mandiri. Kemampuan itu membuat trojan ini jauh lebih sulit dideteksi dan dihentikan oleh perangkat lunak keamanan.

RedHat disebarkan melalui sejumlah kanal, mulai dari toko aplikasi pihak ketiga, media sosial, malvertising, hingga SMS spam. Agar dapat beroperasi, malware ini membutuhkan izin Accessibility pada perangkat Android korban. Setelah izin tersebut diberikan, RedHat bekerja sebagai trojan perbankan pada umumnya, yaitu dengan membuat lapisan tampilan tak terlihat setiap kali korban membuka aplikasi bank.

Asisten AI Jadi Mata dan Tangan Trojan

Yang membedakan RedHat dari trojan perbankan Android lain adalah komponen berbasis AI yang tertanam di dalamnya. Model AI tersebut berperan sebagai semacam “mata dan tangan” jarak jauh untuk mengendalikan ponsel korban. RedHat mengambil gambar dari apa yang tampil di layar, mengirimkannya ke asisten AI, lalu AI memberi instruksi kepada malware tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Pendekatan ini mengatasi kelemahan utama trojan perbankan tradisional. Biasanya, pelaku harus mengodekan koordinat persis dari tata letak aplikasi agar malware bisa bekerja, misalnya lokasi kolom kata sandi atau tombol login. Ketika aplikasi perbankan diperbarui dan tata letaknya berubah, malware tersebut langsung tidak berfungsi. Dengan AI, masalah itu tidak lagi menjadi hambatan karena sistem dapat menyesuaikan diri dengan tampilan layar yang ada.

“RatHat menggunakan AI untuk menavigasi dan mengendalikan antarmuka perangkat secara cerdas dan real-time, membuat operasinya lebih adaptif dan lebih sulit dideteksi oleh perangkat lunak keamanan dibandingkan otomatisasi terprogram tradisional,” jelas Zimperium. Asisten AI ini juga tampak bekerja secara independen dari operator malware, sehingga alat tersebut dapat berjalan tanpa kehadiran operator secara real-time.

Trojan

Dari sisi fungsi, RedHat tetap merupakan trojan perbankan yang khas. Setiap kali korban membuka aplikasi perbankan, malware ini menampilkan overlay tak terlihat yang menangkap kredensial login dan kata sandi sekali pakai (OTP). Dengan data tersebut, penyerang memperoleh kendali langsung atas akun perbankan korban.

Selain kemampuan AI, RedHat juga memiliki mekanisme persistensi yang cukup maju. Malware ini mampu memasang ulang komponen yang telah dihapus, serta mencegat proses uninstalasi untuk membatalkannya sambil menampilkan pesan kesalahan palsu kepada korban. Upaya menghapus aplikasi dari perangkat pun bisa gagal tanpa korban menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Distribusi Luas dan Target yang Belum Diketahui

Zimperium zLabs meyakini RedHat berasal dari Tiongkok. Malware ini saat ini beredar melalui toko aplikasi pihak ketiga, media sosial, malvertising, dan SMS spam. Pola distribusi semacam ini menempatkan pengguna Android yang terbiasa memasang aplikasi dari luar Google Play sebagai kelompok yang paling berisiko.

Meski demikian, belum ada keterangan resmi mengenai siapa target utama RedHat maupun berapa banyak orang yang sudah menjadi korban. Zimperium belum mengungkap jumlah perangkat yang terinfeksi atau wilayah mana yang paling terdampak. Informasi tersebut masih menjadi tanda tanya hingga kini.

malware

Kemampuan RedHat mencerminkan tren yang lebih luas dalam dunia keamanan siber, di mana AI mulai dimanfaatkan untuk memperkuat serangan. Pendekatan yang mengandalkan pemahaman tata letak layar secara real-time membuat deteksi berbasis pola tradisional menjadi kurang efektif. Perangkat lunak keamanan yang mengandalkan skrip otomatisasi lama menghadapi tantangan baru ketika malware dapat beradaptasi dengan sendirinya.

Zimperium menegaskan bahwa operasi RedHat lebih sulit dideteksi dibandingkan otomatisasi terprogram konvensional. Pernyataan itu menegaskan bahwa kombinasi AI dan mekanisme persistensi yang agresif menjadikan RedHat sebagai ancaman yang perlu diwaspadai pengguna Android, terutama mereka yang sering memasang aplikasi dari sumber tidak resmi.

Untuk saat ini, informasi mengenai RedHat masih terbatas pada temuan Zimperium zLabs. Belum ada pengumuman mengenai langkah mitigasi resmi dari pihak berwenang maupun Google sebagai pengembang Android. Pengguna disarankan berhati-hati terhadap aplikasi yang meminta izin Accessibility, karena izin inilah yang menjadi kunci beroperasinya trojan ini.

[INFO]

  • RedHat ditemukan oleh Zimperium zLabs dan diduga berasal dari Tiongkok.
  • Trojan ini dilengkapi asisten AI yang membaca tata letak layar secara real-time.
  • Disebarkan via toko aplikasi pihak ketiga, media sosial, malvertising, dan SMS spam.
  • Membutuhkan izin Accessibility untuk mencuri kredensial dan OTP perbankan.
  • Memiliki persistensi yang mampu membatalkan uninstalasi dengan pesan error palsu.
  • Target dan jumlah korban RedHat belum diketahui.
Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.