Motherboard Google Pixel yang sudah dilucuti dari casing dan siap dijadikan cluster server

Pixel Bekas Jadi Server untuk Sekolah, Begini Caranya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Peneliti University of San Diego bekerja sama dengan Google untuk menggunakan kembali ponsel Pixel bekas sebagai komputer cluster.
  • Proyek ini bertujuan mengurangi limbah elektronik (e-waste) dan memberikan solusi komputasi murah untuk sekolah.
  • Cluster 20 motherboard Pixel dapat melayani aplikasi pendidikan untuk kelas dengan 75 siswa.
  • Target jangka panjang adalah membuat cluster 2.000 ponsel untuk mendukung 100 kelas.
  • Motherboard Pixel bertanggung jawab atas 50% jejak karbon perangkat.
  • Pixel Fold 2023 memiliki kinerja single-threaded yang mengungguli server ASUS RS720-E11.
  • Proyek ini dijadwalkan diluncurkan pada musim gugur 2026.

Telset.id – Kabar baik datang dari dunia riset teknologi. Sebuah proyek inovatif dari peneliti University of San Diego berhasil mengubah ponsel Google Pixel bekas menjadi komputer cluster untuk membantu sekolah dan siswa. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi limbah elektronik (e-waste), tetapi juga menawarkan solusi komputasi berbiaya rendah bagi institusi pendidikan.

Proyek ini lahir dari kolaborasi antara peneliti dan Google. Tim peneliti menggunakan sejumlah ponsel Pixel yang sudah tidak terpakai untuk diambil manfaat komputasinya. Meskipun perangkat ini sudah berusia, motherboard di dalamnya ternyata masih cukup bertenaga untuk membantu pusat data skala kecil. Hal ini bisa menghemat biaya yang signifikan bagi sekolah-sekolah di masa depan.

Sebuah ponsel Google Pixel dipegang di atas meja

## Mengubah Sampah Elektronik Menjadi Sumber Daya

Proyek untuk menggunakan kembali ponsel Google Pixel ini dilakukan, sebagian, untuk mengurangi jejak karbon yang ditinggalkan oleh perangkat yang dibuang. Banyak ponsel lama masih menyimpan kemampuan komputasi yang signifikan meskipun sudah dibuang. Itulah mengapa proyek ini mengeksplorasi “phone cluster computing,” seperti yang dijelaskan oleh Google Research.

Prosesnya cukup sederhana namun berdampak besar. Setiap ponsel Pixel lama dilucuti dari semua komponennya, kecuali motherboard. Setelah layar, baterai, casing, dan speaker dibuang, motherboard tersebut dimasukkan ke dalam sebuah cluster dan digunakan kembali sebagai “platform komputasi serbaguna.”

Menariknya, motherboard sebuah Pixel bertanggung jawab atas 50 persen dari jejak karbonnya, berdasarkan laporan Google Sustainability. Jika Anda adalah pemilik Google Pixel yang saat ini sedang menantikan bocoran Pixel 11 berwarna pink panas, Anda mungkin merasa tenang karena ponsel lama Anda suatu hari nanti bisa membantu para siswa.

Para peneliti menemukan bahwa sebuah cluster yang terdiri dari 20 motherboard Pixel dapat mendukung aplikasi pendidikan yang bisa melayani satu kelas dengan hingga 75 siswa. Tujuan akhir dari proyek ini jauh lebih ambisius, yaitu menyediakan cluster komputasi dengan 2.000 ponsel yang dapat mendukung seratus kelas dengan ukuran yang sama secara bersamaan. Sistem ini dijadwalkan akan diluncurkan pada musim gugur tahun ini.

Jika berhasil, para peneliti percaya bahwa ini bisa menawarkan akses terjangkau ke sumber daya komputer bagi sekolah-sekolah, yang jauh lebih murah daripada membangun infrastruktur baru.

## Kekuatan Tersembunyi Ponsel Lama

Proyek penggunaan ulang Pixel ini juga mengungkap beberapa informasi menarik tentang kekuatan ponsel yang menua. Meskipun tujuan utama para peneliti adalah membangun platform komputasi awan rendah karbon untuk sekolah, dalam prosesnya mereka menemukan bahwa model Pixel yang tidak terlalu baru ternyata bisa menyaingi server modern.

Contohnya, Google Pixel Fold dari tahun 2023. Melalui tolok ukur SPEC, para peneliti mengklaim bahwa kinerja single-threaded dari Pixel Fold seringkali mengungguli server seperti ASUS RS720-E11. Dalam skala yang lebih luas, Google Research mengklaim bahwa kinerja single-threaded dari banyak smartphone modern setara dengan server multicore modern.

Google Pixel 9 dan Google Pixel 9 Pro ditempatkan berdampingan

## Dampak Buruk Ponsel terhadap Lingkungan

Apa yang dilakukan para peneliti di San Diego ini jelas merupakan pencapaian yang patut dikagumi. Ini juga merupakan langkah penting. Ponsel yang dibuang memiliki dampak signifikan terhadap limbah elektronik global, dan proyek seperti yang dilakukan di California ini dapat membantu mengurangi jejak karbon yang berbahaya.

Ini mungkin bukan masalah yang sering Anda pikirkan, tetapi jika Anda sering mengganti smartphone dan kemudian gagal membuang yang lama secara bertanggung jawab, Anda telah merusak lingkungan. Menurut Google Research, rata-rata pengguna smartphone mengganti perangkat mereka setiap empat tahun.

Siklus upgrade yang cepat ini menyebabkan jutaan ponsel dibuang setiap tahunnya. Ponsel yang dibuang menghasilkan limbah lingkungan ketika bahan berharga mereka (seperti tembaga dan perak) tidak digunakan kembali, sehingga memaksa pasokan untuk menambang yang baru secara boros. Ponsel juga dapat menghasilkan limbah berbahaya. Baterai lithium-ion di Google Pixel rata-rata Anda dapat berbahaya bagi lingkungan jika tidak dibuang dengan benar.

Sekelompok anak muda dalam lingkaran menggunakan ponsel mereka

Jika Anda ingin membantu planet ini, tahan ponsel Anda saat ini selama beberapa tahun lagi jika masih berfungsi dengan baik. Dan ketika saatnya tiba untuk menggantinya, cobalah untuk mendaur ulang ponsel Anda atau lihat apakah Anda bisa menjual/menghadiahkannya kembali ke pabriknya.

Proyek ini membuktikan bahwa inovasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari ponsel lama yang tak terpakai. Dengan memanfaatkan kembali teknologi yang ada, kita bisa menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan dan terjangkau, terutama di sektor pendidikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.