Telset.id – Dua geng ransomware terbesar, Qilin dan The Gentlemen, sedang bersaing ketat untuk mendominasi lanskap kejahatan siber global. Sayangnya, persaingan ini membuat bisnis kecil dan menengah di Amerika Serikat (AS) menjadi korban paling utama.
Data terbaru dari tim keamanan NordStellar mengungkapkan bahwa total serangan ransomware mencapai 2.581 insiden sepanjang kuartal kedua tahun 2026. Dari jumlah tersebut, Qilin menjadi aktor paling aktif dengan 299 serangan, disusul The Gentlemen dengan 284 serangan. Posisi ketiga ditempati DragonForce yang hanya mencatatkan 147 serangan.
Meskipun selisihnya tipis, The Gentlemen justru mencatatkan peningkatan aktivitas paling signifikan. Kelompok ini mengalami kenaikan serangan sebesar 39% antara April hingga Juni 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, aktivitas Qilin justru sedikit menurun.

Menurut para ahli, rivalitas sengit antara Qilin dan The Gentlemen menjadi pendorong utama lonjakan serangan ini. Di dunia kriminal siber, serangan terhadap perusahaan besar dianggap sebagai piala yang meningkatkan reputasi sebuah geng ransomware.
“Lonjakan serangan terhadap perusahaan besar ini tidak biasa dan mungkin merupakan fluktuasi sementara. Pergeseran ini kemungkinan besar berasal dari persaingan antar aktor ancaman dominan — serangan sukses terhadap sebuah korporasi besar adalah lencana kehormatan yang meningkatkan reputasi sebuah grup di dunia bawah tanah kriminal siber,” jelas Vakaris Noreika, pakar keamanan siber NordStellar.
Korban SMB dan Perusahaan Besar di AS
NordStellar melaporkan bahwa bisnis kecil dan menengah (SMB) di AS menjadi pihak yang paling menderita. Perusahaan dengan maksimal 200 karyawan dan pendapatan di bawah $25 juta mengalami 769 serangan pada Q2 2026. Kanada menempati posisi kedua dengan 97 serangan, disusul Jerman (83), dan Inggris (74).
“Aktor ransomware secara historis menargetkan SMB karena organisasi-organisasi ini sering kali tidak memiliki pertahanan yang komprehensif, yang dapat meningkatkan kemungkinan serangan berhasil,” tambah Noreika.
Yang lebih mengkhawatirkan, serangan terhadap perusahaan besar AS dengan pendapatan di atas $1 miliar melonjak hingga 74%. Jumlahnya naik dari 23 insiden di Q1 menjadi 40 insiden di Q2 2026.

Laporan ini menegaskan bahwa ancaman ransomware terus berkembang dan semakin terorganisir. Para pelaku tidak hanya menargetkan perusahaan dengan pertahanan lemah, tetapi juga mulai berani menyerang korporasi raksasa untuk meningkatkan pamor mereka.
Baca Juga:
Kondisi ini menjadi pengingat bagi semua organisasi, terutama di Indonesia, untuk meningkatkan kewaspadaan. Serangan ransomware tidak lagi hanya mengincar perusahaan besar, tetapi juga bisnis kecil yang seringkali memiliki sumber daya keamanan siber terbatas.
Selain itu, hukuman berat bagi negosiator ransomware BlackCat menunjukkan bahwa aparat penegak hukum semakin serius memberantas kejahatan siber. Namun, persaingan antar geng tampaknya masih akan terus mendorong peningkatan aktivitas mereka dalam waktu dekat.
Data yang dikumpulkan NordStellar berasal dari analisis lebih dari 200 blog aktor ancaman. Ini menunjukkan bahwa dunia ransomware kini semakin transparan di kalangan internal mereka, meskipun tetap menjadi ancaman besar bagi publik.
Dengan tren yang ada, para pelaku bisnis disarankan untuk segera memperkuat sistem keamanan siber mereka. Investasi pada perlindungan data dan pelatihan karyawan menjadi langkah krusial untuk menghindari menjadi korban persaingan geng ransomware yang semakin brutal ini.





Komentar
Belum ada komentar.