Telset.id – Peretas berhasil membawa kabur Bitcoin senilai lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp1,7 triliun dari ribuan dompet “dingin” (cold wallet) yang seharusnya aman. Serangan ini menimpa pelanggan perusahaan asal Kanada, Coinkite, yang mengklaim menyediakan keamanan berlapis dengan kunci perangkat keras fisik.
Insiden ini menjadi sorotan karena para korban memiliki kunci fisik yang seharusnya memberikan proteksi hampir tidak bisa ditembus. Salah satu korban, Johnathan Goodman, menceritakan pengalamannya kepada Bloomberg bahwa ketiga dompetnya terkuras habis hanya dalam hitungan menit pada 29 Juli lalu.
“Saat halaman dimuat, saya langsung tahu saya dalam masalah karena saya melihat garis merah untuk penarikan. Antara pukul 21.36 dan 21.43 pada 29 Juli, ketiga dompet saya terkuras habis,” ujar Goodman.
Perusahaan analisis kripto Galaxy Research memperkirakan sekitar US$110 juta atau setara Rp1,87 triliun Bitcoin telah dikuras dari sekitar 5.000 dompet pekan lalu. Angka tersebut kemudian bertambah menjadi sedikitnya 7.300 dompet pada hari Senin.
Kejadian ini menyoroti celah keamanan yang terus menghantui industri mata uang kripto yang sebagian besar belum diatur secara ketat. Dalam kasus Coinkite, celah ini terbilang sangat fatal karena menyerang fondasi keamanan yang diandalkan pengguna untuk melindungi aset digital mereka.
Coinkite telah memperingatkan pelanggannya pada 30 Juli bahwa peretas mengeksploitasi bug perangkat lunak yang memungkinkan mereka merekonstruksi “seed phrases” atau frasa pemulihan dompet. Frasa ini merupakan rangkaian kata acak yang berfungsi sebagai kunci utama untuk mengakses dompet “dingin” atau offline.

Dalam email yang dikirim ke Bloomberg, Coinkite berjanji sedang berupaya mendapatkan gambaran lengkap mengenai situasi yang memalukan ini. Perusahaan mengaku sedang membantu pelanggan yang terdampak, namun menolak memperkirakan skala kerugian yang dialami.
“Kami tidak dalam posisi untuk mengonfirmasi secara independen total kerugian atau memvalidasi angka spesifik yang dilaporkan pihak ketiga. Kami tidak akan berspekulasi soal angka yang tidak bisa kami verifikasi secara langsung,” kata Coinkite kepada Bloomberg.
Perusahaan juga telah memulai “audit keamanan ekosistem secara menyeluruh” yang mengungkap “banyak bug kritis di sistem perangkat lunak utama di seluruh ekosistem menggunakan model AI frontier”. Temuan ini menunjukkan bahwa masalah keamanan tidak hanya terbatas pada satu titik, melainkan tersebar di berbagai lapisan sistem.
Coinkite kini berada dalam mode pengendalian kerusakan penuh saat menyelidiki kesalahan besar ini. Dalam pembaruan tentang retensi data pelanggan yang dipublikasikan di situsnya, perusahaan menyatakan telah menangguhkan sementara proses penghapusan data otomatis.
“Karena kewajiban hukum yang timbul dari insiden keamanan ini, termasuk pelestarian catatan yang mungkin relevan dengan proses hukum yang sedang berlangsung dan yang akan datang, kami telah menangguhkan sementara proses penghapusan data otomatis kami,” tulis perusahaan.
“Ini berarti catatan pelanggan yang sebelumnya akan dihapus sesuai jadwal standar kami akan disimpan hingga pemberitahuan lebih lanjut,” lanjut pernyataan tersebut.
Kerentanan Seed Phrase dan Dampaknya bagi Pengguna Kripto
Serangan terhadap Coinkite membuka mata banyak pihak tentang kerentanan seed phrase yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir keamanan aset kripto. Padahal, jika seed phrase berhasil direkonstruksi oleh pihak lain, maka seluruh aset dalam dompet bisa dikuasai sepenuhnya oleh peretas tanpa perlu akses fisik ke perangkat keras.
Insiden ini juga menjadi pengingat bahwa keamanan siber tidak pernah bisa dianggap final. Setiap lapisan proteksi memiliki potensi celah yang bisa dieksploitasi, seperti yang dijelaskan dalam artikel tentang keamanan perimeter yang gagal melindungi sistem dari serangan.
Kasus ini sejalan dengan temuan bahwa security debt yang dibiarkan menumpuk bisa menjadi bom waktu bagi perusahaan. Coinkite tampaknya mengalami masalah serupa, di mana bug yang tidak terdeteksi akhirnya dieksploitasi secara masif.
Baca Juga:
Peristiwa peretasan ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi keamanan modern terus berkembang, vektor serangan juga semakin canggih. Para peretas kini memanfaatkan celah perangkat lunak untuk menembus sistem yang dirancang dengan standar keamanan tinggi sekalipun.
Bagi pengguna kripto, insiden ini menjadi pelajaran berharga bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya aman. Meskipun dompet dingin dirancang untuk menyimpan aset secara offline dan terhindar dari serangan online, bug perangkat lunak pada layanan yang mengelolanya tetap bisa menjadi pintu masuk bagi peretas.
Coinkite sendiri belum memberikan kepastian kapan investigasi akan selesai atau bagaimana mekanisme kompensasi bagi para korban. Perusahaan hanya menyatakan akan melakukan “post-mortem” pada waktu yang belum ditentukan dan terus membantu pelanggan yang terdampak.
Sementara itu, para korban seperti Goodman harus menerima kenyataan pahit bahwa aset mereka hilang dalam sekejap. Industri kripto yang selama ini dipuji karena desentralisasi dan keamanannya kini kembali diuji kepercayaannya di tengah meningkatnya serangan siber yang menargetkan pengguna individu.
Kasus Coinkite menjadi salah satu contoh terbaru bagaimana industri kripto yang sebagian besar tidak diatur masih rentan terhadap eksploitasi. Kegagalan keamanan seperti ini berpotensi mengurangi kepercayaan publik terhadap mata uang digital sebagai instrumen penyimpanan nilai yang andal.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.