Telset.id â Microsoft kembali mencetak rekor baru dalam jadwal Patch Tuesday edisi September dengan merilis perbaikan untuk 974 kerentanan keamanan di seluruh lini produknya. Jumlah ini jauh melampaui perkiraan awal yang menyebutkan lebih dari 650 perbaikan untuk Windows saja, menjadikannya rilisan keamanan terbesar dalam sejarah perusahaan.
Menurut catatan resmi Microsoft, mayoritas kerentanan yang diperbaikiâsebanyak 723 di antaranyaâberkaitan dengan sistem operasi Windows. Sementara itu, Office menempati posisi kedua dengan 111 kerentanan yang berhasil ditambal. Dari total keseluruhan, 114 kerentanan dikategorikan sebagai âCriticalâ atau kritis, atau lebih dari satu dari sepuluh celah yang diperbaiki.
Baca Juga:
Rekor Beruntun Sepanjang Musim Panas
Rekor September ini menjadi yang ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir, menyusul rekor serupa yang terjadi pada Juni dan Juli lalu. Kondisi ini membuat para insinyur keamanan Microsoft bekerja ekstra keras sepanjang musim panas untuk memverifikasi perbaikan bagi ratusan patch penting, termasuk kerentanan remote code dan privilege escalation.
Dustin Childs, dalam blog post-nya mengenai Patch Tuesday September 2026, mengungkapkan bahwa ini bisa menjadi awal dari ânormal baruâ dalam industri keamanan siber. Childs memaparkan bahwa Microsoft telah menambal 2.760 CVE sepanjang tahun ini hingga saat iniâlebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, perusahaan menambal 1.139 CVE sepanjang tahun 2025, dan hanya 492 CVE satu dekade lalu pada 2016.
Peran Model AI dalam Penemuan Kerentanan
Rentetan rekor Patch Tuesday ini dimulai pada April lalu ketika model Mythos milik Anthropic berhasil menemukan kerentanan keamanan di âhampir semua sistem operasi utama dan browser webâ. Beberapa minggu kemudian, OpenAI merilis model AI berfokus keamanan siber untuk mitra tepercaya.
Sumber yang mengetahui pekerjaan keamanan Microsoft mengungkapkan bahwa kedua model AI tersebut berkontribusi pada rangkaian rekor Patch Tuesday sepanjang periode musim panas. Microsoft biasanya menambal sekitar 100 celah keamanan setiap bulan, namun pada Juni perusahaan mencatat rekor baru sekitar 200 perbaikan.
Rekor tersebut langsung dipecahkan pada Juli dengan minimal 570 perbaikan keamanan, hampir tiga kali lipat dari rekor Juni. Pada Agustus, para insinyur sempat bernapas lega dengan menambal hampir 400 kerentanan keamanan. Kini September mencatat rekor terbaru dengan 974 perbaikan di seluruh ekosistem.
Meskipun jumlah kerentanan yang ditemukan meningkat dari tahun ke tahun, kemungkinan besar Microsoft juga mampu menemukan lebih banyak celah yang sebelumnya lolos dari deteksi berkat alat bantu penemuan berbasis AI. Tren ini tidak hanya terjadi di Microsoft, tetapi juga di perusahaan lain. Childs menyoroti aktivitas tinggi dari Adobe, sementara sejumlah pengembang browser termasuk Google, Mozilla, Brave, dan Microsoft sendiri telah menggandakan siklus rilis menjadi dua minggu agar perbaikan bisa segera sampai ke tangan pengguna.
Dua Zero-Day yang Dieksploitasi Aktif
Dalam catatannya, Microsoft menyebut CVE-2026-85880 dan CVE-2026-81963 sebagai kerentanan yang sangat penting karena keduanya sudah dieksploitasi secara aktif di lapangan. Oleh karena itu, Microsoft mendorong para pelanggan untuk segera menginstal pembaruan guna menutup celah yang dimanfaatkan para peretas tersebut.
Selain memperbaiki bug yang dapat dieksploitasi, Microsoft juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mengatasi masalah yang sudah diketahuiâtermasuk memperbaiki crash Teams dan Outlook pada PC berbasis Arm64âserta meningkatkan komponen AI Copilot+. Perkembangan ini sejalan dengan upaya Microsoft yang tengah menggarap berbagai inisiatif keamanan dan pengembangan, termasuk Project Zenith untuk developer AI.
Tekanan pada Bisnis untuk Menutup Patch Gap
Meskipun Microsoft menerbitkan perbaikan dalam jumlah yang tidak biasa, volume besar ini juga menekan bisnis yang mengandalkan perangkat lunak Microsoft untuk segera menerapkan patch. Admin IT biasanya harus menguji patch dari Microsoft untuk memastikan perbaikan tidak mengganggu aplikasi bisnis yang kritis.
Proses pengujian ini dapat menciptakan apa yang disebut âpatch gapâ, yaitu jarak waktu antara kerentanan diungkapkan dan orang menerapkan perbaikannya. Di era AI dengan kerentanan keamanan yang ditemukan dan diungkapkan dengan cepat, ada tekanan besar bagi bisnis untuk menutup patch gap tersebut.
Anthropic menemukan awal tahun ini bahwa Mythos bahkan dapat membuat exploit yang berfungsi untuk kerentanan perangkat lunak yang baru diungkapkan dalam hitungan jam, bukan minggu. Hal ini menempatkan bisnis pada risiko terkena exploit jika tidak segera melakukan patch. Risiko ini semakin besar jika Microsoft menemukan kerentanan remote code yang mudah dieksploitasi oleh peretas.
Patch gap memang selalu menjadi risiko dalam keamanan siber, namun dengan volume kerentanan yang ditemukan di era AI, Microsoft dan perusahaan lain diprediksi akan kembali memperingatkan perusahaan untuk menerapkan patch segera setelah dirilis. Ketika ratusan kerentanan kini ditemukan setiap bulan, waktu menjadi faktor yang sangat krusial.
Seiring Microsoft semakin banyak menggunakan model AI yang berfokus keamanan untuk menemukan kerentanan perangkat lunak, jumlah celah yang perlu ditambal terus meningkat. Rekor September ini mungkin akan segera dipecahkan lagi, terutama jika ada kemajuan model AI lainnya dalam waktu dekat.
Seperti perusahaan perangkat lunak lainnya, Microsoft juga berlomba menemukan kerentanan sebelum aktor jahat memanfaatkan kelemahan yang belum ditemukan di Windows, Azure, dan perangkat lunak lainnya dengan bantuan kemajuan AI. Tren peningkatan volume patch ini juga terjadi di ekosistem lain, sebagaimana terlihat pada patch keamanan macOS yang dirilis Apple untuk menutup celah Screen Sharing.
Namun, perlu dicatat bahwa efektivitas patch yang dihasilkan dengan bantuan AI masih menjadi perdebatan. Sebuah riset patch keamanan buatan AI menunjukkan tingkat keberhasilan yang rendah, hanya 26 persen. Ini menjadi pengingat bahwa meskipun AI mempercepat penemuan kerentanan, kualitas perbaikan tetap membutuhkan validasi dari para ahli keamanan manusia.
Di sisi lain, Microsoft juga tengah menghadapi berbagai tantangan hukum terkait penggunaan konten AI, seperti gugatan dua media AS terhadap penggunaan konten mereka. Perusahaan juga menghadapi gugatan warga atas kebisingan data center, menunjukkan bahwa ekspansi infrastruktur AI perusahaan tidak lepas dari berbagai tantangan operasional.
Dengan tren peningkatan volume kerentanan yang ditemukan setiap bulan, para pengamat industri memperkirakan pola ini akan berlanjut. Perusahaan yang mengandalkan ekosistem Microsoft perlu menyiapkan strategi patch management yang lebih responsif, sementara Microsoft sendiri dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dan kecepatan verifikasi perbaikannya.
Bagi pengguna individu, langkah paling bijak adalah segera mengaktifkan pembaruan otomatis Windows dan Office agar perbaikan keamanan kritis dapat terpasang tanpa penundaan. Sementara bagi admin IT di perusahaan, investasi pada tools otomatisasi patch management menjadi semakin penting di tengah volume kerentanan yang terus meningkat setiap bulannya.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan AI dalam menemukan kerentanan akan terus berkembang, dan Microsoft diprediksi akan semakin mengandalkan teknologi ini untuk menjaga keamanan ekosistemnya. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah rekor Patch Tuesday akan dipecahkan lagi, melainkan seberapa cepat hal itu akan terjadi.





Komentar
Belum ada komentar.