Telset.id – Analis pasar Counterpoint Research memproyeksikan segmen smartphone “flagship terjangkau” dengan harga US$700 hingga US$999 (sekitar Rp 10,2 juta – Rp 14,6 juta) akan menjadi medan pertempuran utama bagi para vendor pada tahun 2026. Proyeksi ini muncul di tengah lonjakan biaya komponen, terutama memori, yang mendorong kenaikan harga perangkat secara signifikan.
Counterpoint menyatakan, segmen yang juga dikenal sebagai “accessible flagship” ini telah menjadi kategori dengan pertumbuhan penjualan tercepat secara global pada 2025, dengan peningkatan 25% dibandingkan tahun 2024. Di pasar seperti Eropa Barat, segmen ini bahkan menjadi kategori yang paling populer. Kombinasi antara fitur-fitur premium dan harga yang relatif lebih terjangkau dinilai sebagai pilihan yang seimbang bagi konsumen.
Namun, tantangan besar menanti para pemain di segmen ini di tahun 2026. Pertanyaan mendesak yang harus dijawab adalah bagaimana meyakinkan konsumen untuk tetap membeli smartphone baru di tengah siklus pergantian perangkat yang semakin panjang. Vendor harus membuktikan bahwa mereka masih mampu menawarkan nilai terbaik dengan pengalaman premium yang konsisten, memberikan nilai maksimal bagi setiap rupiah yang dikeluarkan konsumen.
Tekanan Biaya Komponen yang Meningkat
Laporan Counterpoint mengungkap tekanan biaya yang signifikan dari sisi komponen. Harga penyimpanan (storage) telah naik 40-50% pada kuartal keempat 2025 (2025 Q4). Kenaikan ini diproyeksikan berlanjut dengan tambahan 40-50% pada kuartal pertama 2026 (2026 Q1), dan masih memiliki ruang untuk naik lagi sekitar 20% pada kuartal kedua 2026 (2026 Q2).
Dampaknya sangat terasa pada smartphone dengan harga sekitar US$800. Saat ini, biaya komponen memori telah menyumbang sekitar 40% dari total biaya material perangkat. Angka ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan proporsinya setahun yang lalu. Akumulasi kenaikan ini menyebabkan biaya material untuk smartphone high-end pada akhir kuartal kedua 2026 diperkirakan akan lebih mahal lebih dari US$150 dibandingkan biaya di kuartal pertama 2025.
Kenaikan biaya material tersebut berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual akhir lebih dari US$200 (sekitar Rp 2,9 juta). Situasi ini selaras dengan tren kenaikan harga komponen yang juga mempengaruhi pasar perangkat lain, seperti yang terjadi pada beberapa produk handheld gaming.
Baca Juga:
Strategi Vendor di Tengah Persaingan Ketat
Dengan tekanan harga dan ekspektasi konsumen yang tinggi, persaingan di segmen US$700-999 akan semakin sengit. Vendor tidak hanya bersaing dalam hal spesifikasi hardware, tetapi juga dalam menawarkan nilai tambah melalui software, layanan purna jual, dan ekosistem perangkat. Konsumen yang semakin cerdas akan membandingkan secara detail antara fitur, performa, dan daya tahan perangkat sebelum memutuskan pembelian.
Lanskap persaingan ini juga terlihat di segmen harga lain. Di pasar entry-level dan mid-range, informasi mengenai harga varian baru selalu menjadi perhatian untuk mengukur nilai yang ditawarkan. Sementara di segmen ultra-premium seperti smartphone lipat, persaingan merek seperti Motorola dan Samsung menunjukkan dinamika pasar yang terus berubah.
Implikasi dari laporan Counterpoint ini jelas: tahun 2026 akan menjadi tahun penuh tantangan sekaligus peluang bagi vendor smartphone. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menekan biaya produksi, tetapi lebih pada inovasi dalam menciptakan nilai dan pengalaman pengguna yang unggul di kisaran harga yang semakin sensitif. Vendor yang mampu menjawab “urgent question” tentang nilai beli terbaik bagi konsumen yang enggan berganti ponsel akan memiliki peluang memenangkan pertempuran di segmen flagship terjangkau.




