Operator Telekomunikasi Lalai Lindungi Pelanggan

Jakarta – Maraknya kasus pencurian pulsa yang banyak menimpa masyarakat akhir-akhir ini lebih banyak disebabkan ketidakseriusan operator telekomunikasi dalam memperhatikan kepentingan pelanggannya, karena cuma asyik mengejar keuntungan saja.

Persaingan yang semakin tajam diantara operator di Indonesia menyebabkan mereka terlalu sibuk memperebutkan pelanggan dan lupa untuk lebih melindungi pelanggannya. Operator dihimbau untuk meninjau ulang skema perjanjian kerjasama dengan para content provider (CP) karena dianggap sudah banyak tak sesuai lagi dengan kondisi saat ini.

Harusnya operator lebih pro-aktif dalam melindungi pelanggannya dengan meninjau ulang bentuk kerjasamanya dengan CP, karena sudah banyak yang tak sesuai dengan perkembangan teknologi sekarang, ujar pengamat telekomunikasi Teguh Prasetya kepada Telsetnews, di Jakarta, Kamis (6/10).

Menurut Teguh, dengan perkembangan teknologi yang semakin maju seperti saat ini, semuanya tidak ada yang tidak mungkin untuk bisa dibobol sistem keamanannya. Jadi kalau dulu hanya short code yang dianggap mungkin bisa menyedot pulsa, bukan tidak mungkin sekarang dari long number pun bisa dibobol, katanya.

Perlindungan kepada pelanggan menjadi sedikit terabaikan karena didalam bentuk kerjasama operator dengan CP yang selama ini dibuat, yang memegang kunci untuk reg dan unreg ada ditangan CP.

Operator harusnya sekarang yang menjadi pintu utama keluar masuknya layanan dari CP. Kunci yang pegang harus operator, bukan CP lagi yang reg dan unreg, tegas Teguh. Karena yang punya pelanggan kan operator, harusnya operatorlah yang melindungi pelanggannya, tambahnya.

Sekarang tinggal bagaimana evort dari para operator untuk mau lebih memperhatikan kepentingan pelanggannya, jangan cuma ingin mengejar keuntungan terus saja. Memang tidak ada salahnya operator mengejar keuntungan dari pelanggan karena mereka harus hidup. Tapi jangan terus melupakan perlindungan pelanggan, imbuhnya.

Makanya, lanjut Teguh, perjanjian soal reg dan unreg harus diubah, karena harusnya sekarang operatorlah yang menjadi barrier bagi konsumen dari kenakalan yang dilakukan oleh sebagian CP nakal.

Operator harus mau mengubah mekanisme perjanjian kerjasamanya dengan CP kalau memang sudah tidak sesuai lagi digunakan di jaman sekarang. Kalau memang sudah tidak layak dan banyak merugikan pelanggan, harusnya diganti saja, tandasnya.

Selain itu, menurut Teguh, operator juga harus tegas dalam menentukan layak tidaknya sebuah konten yang dibuat CP. Kalau dianggap ada mengandung unsur penipuan, sebaiknya ditolak atau direvisi dulu sebelum ditayangkan. Operator harus tegas, kalau dianggap tak layak ya jangan boleh tayang, ketus Teguh.

Selama ini yang terjadi operator itu seperti perusahaan percetakan yang berdalih Isi Diluar Tanggungjawab Percetakan. Cara pandang seperti itu harus diubah, karena operator harusnya juga ikut bertanggungjawab dan jangan menutup mata atas isi konten yang dibuat CP. Operator jangan cuma merasa sebagai gate away buat layanan CP, tapi harusnya mereka ikut menyaring isi kontennya, ujarnya menyarankan.

Ia berharap kepada para operator untuk segera membenahi sistem yang mereka gunakan, karena sebagian sudah tidak sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. Selain itu, sistem filtering harus lebih diperketat dan edukasi kepada pelanggan lebih diperbanyak. [hbs]{jcomments on}

Previous articleBill Gates akan Sangat Rindukan Jobs
Next articleOperator Bisa Langsung Blokir Nomor Penyedot Pulsa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here