Operator Kantongi Rp 3-4 Triliun dari Bisnis SMS Premium

Jakarta – Layanan SMS Premium menyumbang sekitar tujuh persen dari total pendapatan operator telekomunikasi, atau sekitar 3-4 triliun rupiah per tahunnya.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), Sarwoto Atmosutarno, dari total pendapatan seluruh operator yang berkisar antara Rp 90-100 triliun sumbangan dari layanan SMS premium sekitar 7 persen atau Rp 3-4 triliun.

Jadi tidak benar kalau ada yang menyebutkan operator memperoleh keuntungan hingga Rp 100 triliun dari bisnis SMS Premiun. Karena kita cuma™ mendapat sekitar 3-4 triliun rupiah. Itupun masih harus dibagi 40:60 persen dengan content provider (CP), jelas Sarwoto kepada wartawan di Jakarta, Senin, (17/10) kemarin.

Keterangan tersebut disampaikannya untuk menyanggah tudingan yang menyebutkan operator seluler menikmati pendapatan hingga Rp 100 triliun dari bisnis layanan SMS premium. “Pendapat itu tidak benar, karena kami kan perusahaan terbuka, jadi bisa dilihat laporannya,” terangnya.

Ia pun menyebutkan, pendapatan CP dari bisnis ini tidak banyak. Karena CP harus berebut™ dari hasil pembagian dengan operator yang jumlahnya antara Rp 3-4 triliun dengan sekitar 400 perusahaan CP lainnya.

Sarwoto mengakui, walaupun pendapatan yang dihasilkan tidak sebesar layana SMS atau suara, namun anehnya layanan CP itu justru mengalami pertumbuhan yang tinggi melebihi layanan SMS dan suara. Bahkan pertumbuhan layanan ini mencapai 50 persen per tahun.

Bagi operator, pendapatan dari bisnis CP ini tidak terlalu besar, tapi dari sisi pertumbuhan cukup tinggi dibanding layanan SMS dan suara (voice), ungkapnya.

Oleh sebabitu, tambah Sarwoto, operator sebagai mitra CP akan berusaha membina perusahaan-perusahaan CP tersebut. Karena biar bagaimanapun, tidak semua perusahaan CP itu nakal, dan mereka merupakan bagian dari industri kreatif yang saat ini harus dibina.

“Tidak semua CP nakal, maka kami akan terus membina mereka sebagai kelompok kreatif yang wajib diarahkan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan ketidakwajaran, sehingga berdampak seperti banyak kasus yang terjadi akgir-akhir ini, pungkas Sarwoto.[hbs]{jcomments on}

Previous articleATSI: Kasus Sedot Pulsa Cuma Masalah Kecil
Next articleDianggap Bermasalah, Google Voice Dihapus dari iOS 5

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here