šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi sistem senjata laser anti-drone Locust yang dipasang pada kendaraan militer di perbatasan AS

Operasi Laser Anti-Drone Pertama di Perbatasan AS Terungkap

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Militer AS menggunakan senjata laser anti-drone dalam operasi nyata pertama di perbatasan Texas pada 25-26 Agustus
  • Operasi dipimpin Joint Task Force Southern Border (JTF-SB) di bawah US Northern Command
  • Sistem Locust Laser Weapon System beroperasi pada 20 kilowatt dan dapat dipasang di kendaraan militer
  • Program AMP-HEL dimulai September 2025 dengan pengiriman prototipe pertama oleh AeroVironment
  • Versi terbaru Locust dilengkapi radar dan sistem komando-kontrol untuk integrasi platform pertahanan
  • Komandan JTF-SB Curtis Taylor mengaitkan drone dengan jaringan kartel narkoba di Meksiko
  • Operasi terkait kampanye Presiden Donald Trump melawan imigrasi ilegal dan kartel narkoba

Telset.id – Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menggunakan senjata laser anti-drone dalam operasi nyata pertamanya di perbatasan selatan. Operasi yang berlangsung antara malam 25 Agustus dan dini hari 26 Agustus di dekat Rio Grande Valley, Texas, ini dipimpin oleh Joint Task Force Southern Border (JTF-SB) yang berada di bawah US Northern Command.

Otoritas mengonfirmasi bahwa agen menggunakan teknologi yang berasal dari sistem High-Energy Multipurpose Laser (AMP-HEL) milik Angkatan Darat AS. Ini adalah program militer yang berfokus pada implementasi laser energi tinggi untuk kemampuan pertahanan baru. Kejadian ini menandai pertama kalinya teknologi tersebut digunakan dalam operasi penegakan hukum di perbatasan, sebuah langkah signifikan dalam strategi keamanan perbatasan AS.

Penggunaan senjata laser ini menjadi sorotan utama karena menunjukkan eskalasi teknologi dalam pengamanan perbatasan. Ini adalah respons langsung terhadap meningkatnya penggunaan drone oleh jaringan kriminal untuk aktivitas ilegal seperti penyelundupan manusia dan mata-mata. Operasi ini juga menjadi bukti nyata bahwa program pengembangan senjata laser militer AS telah mencapai tahap operasional yang siap digunakan di lapangan.

Program AMP-HEL dan Sistem Senjata Laser Locust

Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa inisiatif ini dimulai pada September 2025, ketika AeroVironment, perusahaan yang berspesialisasi dalam teknologi pertahanan, mengirimkan dua prototipe fungsional pertama senjata berbasis laser ini ke Angkatan Bersenjata AS. Dua sistem baru yang lebih baik dikirimkan saat program diperluas pada Desember tahun yang sama.

Menurut pabrikannya, platform khusus ini disebut Locust Laser Weapon System, dirancang untuk dipasang di kendaraan militer, seperti yang dilakukan Angkatan Darat dengan versi yang mereka terima. Beroperasi pada 20 kilowatt, sistem Locust mengandalkan berkas cahaya yang sangat terkonsentrasi yang, dalam berbagai fase, memungkinkan deteksi, pelacakan, penerangan, perusakan, atau penghancuran target dari jarak jauh.

Locust dan sistem laser energi tinggi (HEL) lainnya biasanya menggunakan sensor, kamera, radar, atau cara lain untuk menemukan objek. Setelah teridentifikasi, sistem memfokuskan berkas cahaya pada target dengan presisi tinggi, bahkan saat target bergerak. Sistem ini kemudian menggunakan muatan energi listrik tambahan untuk meningkatkan kekuatan berkas dan mengubahnya menjadi panas. Hal ini pada akhirnya merusak atau menonaktifkan drone, dengan hasil yang bergantung pada faktor-faktor seperti jarak, waktu paparan, dan karakteristik target.

Selain itu, versi terbaru Locust—seperti yang dikirimkan ke militer pada Desember lalu—mencakup sistem radar serta komando dan kontrol. Fitur-fitur ini memudahkan integrasi senjata ke dalam platform pertahanan bergerak yang lebih kompleks, daripada menggunakannya sebagai perangkat yang berdiri sendiri.

Konteks Operasi dan Keterlibatan Jaringan Kriminal

Lokasi pasti operasi masih belum diketahui. Belum ada juga informasi konkret mengenai asal drone yang dinetralkan atau entitas yang bertanggung jawab atas pengoperasiannya. Namun, Curtis Taylor, komandan JTF-SB, mengisyaratkan bahwa pesawat tersebut bisa jadi terkait dengan sel kriminal yang terlibat dalam perdagangan narkoba dan operasi di wilayah Meksiko.

ā€œJaringan kartel semakin banyak menggunakan sistem pesawat nirawak untuk memfasilitasi penyelundupan manusia secara ilegal dan secara aktif memata-matai personel serta mitra penegak hukum kami. Dengan mengintegrasikan penanggulangan berlapis di samping kemampuan energi terarah yang canggih seperti sistem laser ini, kami telah menunjukkan bahwa kami tidak akan mentolerir pengawasan yang bermusuhan. Kami juga sangat menghargai dukungan mitra Angkatan Darat Meksiko saat kami bekerja sama untuk memerangi ancaman di kawasan perbatasan ini,ā€ demikian pernyataan mayor jenderal tersebut dalam siaran pers.

Pernyataan resmi juga tidak menyebutkan model pasti dari program AMP-HEL yang digunakan dalam operasi tersebut. Namun, pers internasional menghubungkan aksi ini dengan kampanye melawan imigrasi ilegal dan kartel narkoba yang dilancarkan Presiden Donald Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya. Selama kampanye pemilihannya, Trump berjanji untuk memerangi kedua masalah tersebut dengan menerapkan langkah-langkah drastis, terutama di sepanjang perbatasan AS-Meksiko.

Untuk tujuan itu, pemerintahannya telah mengerahkan berbagai macam teknologi, dengan sistem HEL hanyalah sebagian dari perangkat yang terus berkembang. Penggunaan teknologi laser ini dalam operasi nyata menunjukkan komitmen pemerintah untuk memanfaatkan semua alat yang tersedia dalam upaya pengamanan perbatasan, sekaligus mengirimkan sinyal kuat kepada jaringan kriminal tentang kapabilitas baru yang dimiliki otoritas.

Operasi ini juga menyoroti bagaimana teknologi militer canggih kini digunakan dalam konteks penegakan hukum perbatasan. Integrasi sistem radar dan komando-kontrol pada versi terbaru Locust memungkinkan koordinasi yang lebih baik dengan unit-unit lain di lapangan, menciptakan pertahanan berlapis yang lebih efektif terhadap ancaman udara kecil seperti drone. Ke depannya, keberhasilan operasi ini dapat membuka jalan bagi penggunaan teknologi serupa dalam berbagai skenario operasional lainnya.

Penggunaan senjata laser anti-drone dalam operasi perbatasan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan peperangan dan penegakan hukum. Dengan kemampuan untuk menetralkan ancaman dari jarak jauh tanpa kontak fisik, teknologi ini menawarkan cara baru dalam menghadapi tantangan keamanan modern. Namun, detail lebih lanjut mengenai operasi tersebut, termasuk jumlah drone yang dinetralkan dan biaya operasionalnya, masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak militer.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.