Logo OnePlus dengan latar belakang gelap

OnePlus Hentikan Operasi di AS dan Eropa, Fokus ke China

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • OnePlus resmi menghentikan peluncuran produk baru di Eropa dan Amerika Utara
  • Keputusan ini bagian dari restrukturisasi korporat di perusahaan induk Oppo
  • Operasi di India, salah satu pasar terbesar, juga akan dihentikan
  • Pengiriman smartphone global diprediksi turun lebih dari 13% di 2026 karena RAMageddon
  • OnePlus akan terus beroperasi di China, Oppo fokus jual Realme di luar negeri
  • Pangsa pasar OnePlus di AS turun di bawah 1% tahun lalu

Telset.id – OnePlus resmi menghentikan peluncuran produk baru di Eropa dan Amerika Utara. Keputusan ini menandai akhir dari ekspansi global agresif merek yang pernah dijuluki “pembunuh flagship” tersebut.

Setelah melalui evaluasi mendalam, OnePlus mengumumkan tidak akan lagi meluncurkan produk baru di dua kawasan utama tersebut. Dalam pernyataan resmi kepada TechCrunch, perusahaan menjamin bahwa hak dan kepentingan pengguna, termasuk dukungan purna jual dan pembaruan perangkat lunak, akan tetap terpenuhi sepenuhnya.

Keputusan ini merupakan bagian dari restrukturisasi korporat di perusahaan induk, Oppo. Bloomberg melaporkan bahwa OnePlus akan menutup operasinya di AS dan Eropa pada pekan ini. Yang lebih mengejutkan, rencana penutupan juga mencakup India, salah satu pasar terbesar OnePlus di luar China.

Langkah ini diambil di tengah tekanan industri yang berat. Harga elektronik konsumen yang terus meningkat dan permintaan pembelian baru yang lesu menjadi faktor utama. Analis dari IDC dan Counterpoint bahkan memprediksi pengiriman smartphone global akan turun lebih dari 13% pada tahun 2026. Penyebabnya disebut “RAMageddon”, yaitu terbatasnya pasokan chip memori yang mengganggu produksi.

OnePlus didirikan oleh Pete Lau dan Carl Pei pada tahun 2013. Merek ini awalnya dikenal karena membuat ponsel Android yang terjangkau untuk para penggemar teknologi. Seiring waktu, jangkauan produknya meluas dan menciptakan permintaan global. Namun, Pei meninggalkan perusahaan pada tahun 2020 untuk mendirikan Nothing.

Saat harga ponsel flagship OnePlus meningkat, perusahaan juga merambah ke ponsel yang lebih terjangkau melalui seri Nord. Strategi ini sempat berhasil memperluas basis pelanggan, namun kini tampaknya tidak cukup untuk mempertahankan operasi global.

Counterpoint melaporkan bahwa Oppo mengalami penurunan pengiriman dua digit secara tahunan pada kuartal kedua tahun 2026. Perusahaan menghadapi “kelemahan di sebagian besar pasar utamanya” karena permintaan yang lesu. Pangsa pengiriman OnePlus ke AS bahkan turun di bawah 1% tahun lalu.

Meskipun mundur dari pasar global, OnePlus akan terus beroperasi di China. Sementara itu, Oppo berencana menjual ponsel Realme di luar negeri, termasuk di kawasan Nordik yang terbukti sukses.

Maurice Klaehne, analis riset senior di Counterpoint, memberikan komentar kepada TechCrunch. “OnePlus membangun namanya sebagai ‘pembunuh flagship’ — spesifikasi kelas atas, harga menengah, dan ekspansi global yang agresif. Era pertumbuhan itu sudah berakhir. Perusahaan kini menggandakan fokusnya di China dan mundur dari seluruh dunia,” ujarnya.

Keputusan ini menjadi pengingat bahwa persaingan di pasar smartphone global semakin ketat. Bahkan merek yang pernah menjadi favorit para penggemar teknologi pun harus mengambil langkah drastis untuk bertahan. iPhone 18 Pro yang baru dirilis pun harus menghadapi dinamika pasar yang berbeda.

Bagi pengguna OnePlus di AS, Eropa, dan India, kabar ini tentu mengecewakan. Namun, perusahaan berjanji akan tetap memberikan dukungan penuh untuk perangkat yang sudah beredar. Pengguna tidak perlu khawatir kehilangan akses ke pembaruan keamanan atau layanan purna jual dalam waktu dekat.

Langkah ini juga menunjukkan bagaimana tekanan rantai pasokan global mempengaruhi strategi perusahaan. Kelangkaan chip memori yang disebut RAMageddon telah memaksa banyak produsen untuk mengevaluasi ulang prioritas mereka. OnePlus memilih untuk berkonsentrasi di pasar domestik China yang lebih stabil.

Ke depannya, OnePlus kemungkinan akan fokus bersaing dengan merek lokal di China. Pasar smartphone di sana sangat kompetitif dengan pemain seperti Xiaomi, Vivo, dan Oppo sendiri. Namun, dengan sumber daya yang lebih terkonsentrasi, OnePlus mungkin bisa memperkuat posisinya di pasar asalnya.

Keputusan ini juga membuka peluang bagi merek lain untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan OnePlus di pasar global. Merek seperti Nothing yang didirikan oleh mantan salah satu pendiri OnePlus, Carl Pei, bisa menjadi alternatif menarik bagi penggemar teknologi yang mencari ponsel inovatif dengan harga kompetitif.

Meskipun demikian, warisan OnePlus sebagai “pembunuh flagship” tidak akan mudah dilupakan. Merek ini telah memberikan banyak ponsel ikonik yang mendefinisikan ulang ekspektasi konsumen terhadap ponsel flagship dengan harga terjangkau.

Keputusan OnePlus untuk mundur dari pasar global merupakan langkah strategis yang realistis. Di tengah tekanan industri yang berat, memfokuskan sumber daya di pasar yang paling menguntungkan adalah pilihan yang bijak. Bagi para penggemar setia OnePlus, inilah akhir dari sebuah era ekspansi global yang penuh ambisi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.