Telset.id – Netflix mulai mengkhawatirkan turunnya waktu tonton pengguna dan tengah menjajaki berbagai strategi baru untuk meningkatkan engagement, termasuk menghadirkan saluran TV langsung dan bundling layanan streaming lain di dalam aplikasinya.
Pergeseran strategi ini terungkap dalam laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber internal perusahaan. Meskipun Netflix masih mencatatkan profit yang sehat dan tingkat pembatalan langganan terendah di industri, para eksekutif melihat tanda-tanda awal bahwa orang-orang menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menonton konten. Hal ini menjadi krusial karena engagement, bukan sekadar jumlah pelanggan, kini menjadi indikator utama apakah pengguna akan bertahan, menonton iklan, dan terus membayar layanan.
Menurut sumber yang mengetahui diskusi internal, para eksekutif Netflix baru-baru ini memperdebatkan ide untuk menghadirkan saluran langsung yang selalu aktif (live, always-on channels) yang didedikasikan untuk genre atau acara tertentu. Alih-alih meminta pengguna memutuskan apa yang akan ditonton berikutnya, saluran ini akan memutar konten secara terus-menerus dalam format televisi tradisional.
Netflix juga dikabarkan sedang menjajaki penggabungan layanan streaming lain, termasuk NBCUniversal’s Peacock, langsung di dalam aplikasi Netflix. Mirip dengan cara Amazon Prime Video dan Apple TV menjual langganan pihak ketiga, Netflix berpotensi menjadi pasar tempat pengguna mengelola beberapa layanan streaming dari satu antarmuka.
Diskusi ini menandai perubahan signifikan bagi Netflix. Mantan salah satu CEO Reed Hastings sebelumnya dikenal sebagai pendukung kesederhanaan dan menolak mengubah Netflix menjadi platform bergaya kabel. Namun, lanskap streaming telah berubah drastis. Persaingan semakin ketat dari Disney+, HBO Max, dan YouTube. Pada saat yang sama, layanan gratis yang didukung iklan seperti Tubi dan The Roku Channel terus menarik pemirsa dengan saluran linear yang tidak memerlukan banyak keputusan.
Bahkan Netflix perlahan-lahan menjauh dari filosofi awalnya dengan meluncurkan tingkatan yang didukung iklan dan bereksperimen dengan konten berbiaya lebih rendah dan lebih pendek, termasuk video podcast dan klip dari penerbit seperti BuzzFeed dan Condé Nast. Langkah ini menunjukkan bahwa pertempuran streaming kini bukan lagi soal pelanggan, melainkan soal perhatian (attention).
Baca Juga:
Bagi pengguna, perubahan ini bisa mengubah secara fundamental bagaimana Netflix terasa. Platform yang membangun reputasinya pada tontonan sesuai permintaan (on-demand) ini, dengan saluran langsung dan langganan bundel, akan semakin menyerupai hub televisi tradisional. Pergeseran ini juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang pertumbuhan. Pangsa pasar Netflix di televisi AS dilaporkan turun menjadi 7,8% pada April, level terendah sejak Mei 2025, menurut Nielsen. Saham perusahaan juga telah turun lebih dari 40% selama setahun terakhir, mendorong investor untuk mempertanyakan apakah engagement telah mencapai puncaknya di pasar matang seperti Amerika Serikat.
Netflix tidak tinggal diam. Perusahaan baru-baru ini bermitra dengan penyiar Perancis TF1 untuk menghadirkan program langsung – termasuk berita – kepada pelanggan di Perancis, dan kesepakatan serupa dikabarkan sedang dijajaki di tempat lain di Eropa dan Amerika Latin. Para eksekutif juga mengevaluasi peluang olahraga langsung secara selektif, termasuk diskusi yang dilaporkan seputar penawaran hak siar Piala Dunia FIFA 2030 dan 2034.
Strategi ini masuk akal secara bisnis. Program langsung membuat pemirsa menonton secara real-time, membuat iklan menjadi jauh lebih berharga karena tidak dapat dilewati. Netflix menghasilkan sekitar $1,5 miliar dari pendapatan iklan tahun lalu dan secara terbuka mengatakan bahwa mereka memperkirakan angka itu akan berlipat ganda pada tahun 2026.
Apakah ide-ide ini pada akhirnya akan menjadi produk masih harus dilihat. Namun, satu hal menjadi semakin jelas: Netflix tidak lagi percaya bahwa memenangkan perang streaming hanya soal memiliki perpustakaan terbesar. Menjaga agar pemirsa tetap terlibat (engaged) mungkin terbukti lebih penting daripada menambah pelanggan baru. Untuk lebih memahami strategi terbaru Netflix, simak analisis tentang model binge Netflix dan ancaman dari TikTok dan YouTube.





Komentar
Belum ada komentar.