telset

Merintis Jalan Menjadi Penguasa Jagat Android

Namanya mudah diingat, Alino Suisa Sugianto atau akrab disapa Alino. Meski usianya terbilang muda, pria berpenampilan rapih ini telah mendapatkan kepercayaan cukup besar untuk menduduki posisi pimpinan di PT Sony Ericsson Indonesia. Sebelumnya, penyandang gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Illinois, AS, ini mengawali kariernya sebagai seorang product specialist di Johnson & Johnson Medical pada 1995. Setelah itu, ia pun sempat bergabung dengan PT BAT Indonesia dengan posisi terakhir sebagai Senior Brand manager.

Alino Suisa Sugianto (President Director PT Sony Ericsson Mobile Communications Indonesia )

Di Sony Ericsson (SE), karier Alino makin bersinar. Hanya dalam tempo tiga tahun sejak bergabung dengan perusahaan itu, ia berhasil meraih kedudukan sebagai Country Manager. Dan kini setelah status Sony Ericsson Indonesia berubah dari hanya sebagai kantor perwakilan, menjadi perusahaan bernama PT Sony Ericsson Mobile Communications Indonesia (PT.SEMCI), Alino pun didapuk menduduki jabatan sebagai President Director.

Setelah perubahan status menjadi PT SEMCI, kini SE terlihat semakin serius menggarap pasar ponsel berbasis Android di Indonesia. Disebutkan, perubahan status tersebut semakin memberikan keleluasaan bagi manajemen dalam menjalankan strategi pemasarannya. Apa dan bagaimana langkah kedepan yang akan dilakukan untuk mewujudkan target menjadi pemain nomor satu di jagat Android? Alino Sugianto, memaparkannya kepada Telset dalam satu sesi wawancara khusus di Kantor Pusat PT SEMCI di bilangan Pondok Indah beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Karir Anda banyak dihabiskan di SE. Apa yang membuat Anda tertarik di industri telekomunikasi?

Saya suka di industri telekomunikasi karena perkembangan teknologi di bidang ini sangat cepat. Sehingga saya merasa harus terus belajar untuk mengikuti perkembangan teknologinya. Karena teknologi yang sekarang sudah berbeda jauh dengan 5-10 tahun yang lalu. Selain itu karena di industri telko membutuhkan kekuatan dari sisi branding dan sales, dan ini sesuai dengan pendidikan dan pengalaman yang saya miliki. Perkembangan teknologi di industri telko yang sangat cepat itulah yang selalu menarik untuk diikuti. Hal tersebut yang membuat saya betah berkecimpung di industri ini, ujar Alino membuka pembicaraannya.

Apa yg melatarbelakangi didirikannya PT SEMCI?

Yang melatarbelakangi didirikannya PT SEMCI adalah, agar mempermudah pergerakan kita, karena selama ini sebagai kantor perwakilan, kita merasa masih kurang kuat. Ini didorong oleh komitmen kita untuk pasar Indonesia yang sangat kuat. Dan dari global pun melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial, tidak hanya dilihat dari sisi pertumbuhan tapi juga pasarnya yang masih sangat besar. Pertumbuhan industri ini di Indonesia masih sangat tinggi. Contohnya Android, yang pada awalnya basisnya sangat kecil di Indonesia, kini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, terang penggemar olahraga golf ini.

Kalau kita lihat dari sisi share-nya Android pada smartphone sekitar 6-7 bulan terakhir sangat cepat, yakni sudah sekitar 15%. Kami perkirakan bisa menembus angka 25% di akhir tahun. Smartphone sendiri dari segi value di Indonesia pada saat ini sudah sekitar 30%, dan pada akhir tahun diperkirakan akan mencapai 50%. Indonesia itu potensinya sangat besar, karena saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan pasar terbesar kedua setelah China di kawasan Asia Pasifik, ungkap Alino menjelaskan data-data yang ia miliki.

Makanya SE pun akhirnya memutuskan untuk juga menggunakan Android pada awal kuartal pertama 2010. Dan saat melihat sambutan yang luar biasa terhadap produk kami, seperti Xperia X8 dan Xperia X10, kami berkesimpulan ponsel berbasis Android akan dapat menopang bisnis SE di Indonesia. Dan karena dinamika industri telekomunikasi sangat cepat, menuntut perubahan strategi pemasaran yang tepat. Makanya, pada bulan Februari 2011 kami kemudian mendirikan perusahaan dengan nama PT Sony Ericsson Mobile Communications Indonesia.

Apa perbedaan yang Anda rasakan setelah sekarang berubah menjadi PT SEMCI?

Dengan perubahan status menjadi perusahaan, ini menunjukkan keseriusan kantor pusat yang melihat pasar di Indonesia yang sangat besar. Alhasil, beberapa produk ponsel global SE justru diluncurkan untuk pertama kali di sini. Dengan status ini pula, kami bisa leluasa memperluas jaringan dan lebih terbuka dengan mitra bisnis. Memang masih ada arahan dari kantor pusat sesuai dengan visi dan misi. Namun, untuk strategi pemasaran, kami yang menentukan. Jadi, semua karyawan bebas mengeksekusi. Kalau dulu saya kadang-kadang kalau ditanya wartawan tidak berani mengeluarkan statement terlalu banyak, sekarang setelah jadi perusahaan sendiri bisa lebih berani ngomong, karena kita sudah establish secara resmi di Indonesia, imbuh pria yang membidani berdirinya PT SEMCI ini.

SE kelihatan fokus pada produk seri Xperia. Sudah berapa banyak sih seri Xperia yang dikeluarkan?

Sepanjang tahun 2011 ini saja, SE telah mengumumkan 8 smartphone Xperia-nya, yakni  Xperia Arc, Xperia Play, Xperia Mini Pro, Xperia Mini, Xperia Ray, Xperia Active, Xperia Neo V dan Xperia Arc S. Kedelapan produk tersebut hadir dengan berbagai kelebihan teknologi, seperti misalnya, Bravia Engine dan Exmor R dari sisi kamera dan layar di Xperia Arc, Sony Playstation di Xperia Play. Lalu Xperia Ray yang sebentar lagi akan masuk ke Indonesia, lebih menonjolkan sisi desainnya yang sangat tipis dibanding smartphone yang ada saat ini. Selain itu ada Xperia Active, smartphone tahan banting, yang rencananya akan diluncurkan akhir bulan ini.

Melihat banyaknya produk seri Xperia yang diluncurkan, apakah ini menunjukan telah terjadi re-positioning pada produk SE?

Re-positioning tetap dibutuhkan karena industri telekomunikasi bergerak begitu cepat, yang mengakibatkan evolusinya juga berjalan sangat cepat. Hampir setiap tahun dilakukan suatu terobosan baru, sehingga otomatis akan ada penambahan segmen produk baru. Tapi yang jelas re-position bisa di create dengan menambah fitur baru yang memasuki segmen baru. Tahun depan akan lebih banyak lagi produk smartphone yang akan dikeluarkan, namun untuk saat ini kami belum bisa mengatakan apa saja yang akan diluncurkan, katanya coba menyakinkan.

Dan dari sisi penjualan sudah cukup bagus, contohnya Xperia Play di Indonesia responnya cukup bagus. Mungkin nanti kalau harganya bisa lebih diturunkan, agar dapat masuk ke segmen pasar yang lebih rendah, kami yakin marketnya akan lebih menarik, jelas pria yang pernah selama tiga tahun menjadi dosen pengajar mata kuliah Periklanan & Pemasaran Internasional di The London School of Public Relation (LSPR) & The London institute of Communication (LIC), Jakarta.

Dengan banyaknya seri Xperia, apakah ini berarti ke depannya SE akan lebih fokus pada smartphone?

Secara tidak langsung iya. Karena memang industrinya mengarah ke sana, sedangkan untuk produk-produk non Android kalau kita lihat pelan-pelan sudah mulai ditinggalkan. SE sendiri telah menyatakan tidak menjual ponsel dengan harga di bawah Rp1 juta. Hal tersebut dikarenakan SE mempunyai Cost Structure yang berbeda. Tahun ini saja, sudah sekitar 60% produk SE menggunakan Android. Dan tahun depan kami yakin jumlahnya akan semakin meningkat, bahkan mungkin nantinya produk non smartphone di SE sudah tidak ada lagi, ungkapnya.

Karena saat ini jika dilihat secara value, kontribusi smartphone di Indonesia sudah 50%. Jadi kalau ada yang bilang Indonesia yang laku hanya ponsel low-end, saya kurang setuju. Sementara kalau dilihat secara kuantiti sudah sekitar 30%. Dan saya perkirakan tahun depan kenaikannya bisa dua kali lipat. Jadi untuk value bisa mencapai 90%, sedangkan kuantitinya bisa sekitar 50%. Dan pasar juga masih hidup, karena operator juga masih menunjukan growth. Sementara pertumbuhan di daerah juga luar biasa, terutama di Kalimantan. Sementara Jakarta sudah cukup mature, tapi bukan berarti tidak ada pertumbuhan. Selama masih banyak orang yang masuk ke Twitter ataupun Facebook, dll, maka mereka pasti membutuhkan smartphone, tegasnya.

Beberapa waktu lalu Google telah mengakuisisi Motorola. Apakah tidak ada kekhawatiran kalau nantinya Google lebih mengutamakan Motorola?

Mungkin yang akan merasa khawatir pemain-pemain yang lebih besar ya, hahahaa..tapi kalau SE sendiri sih sampai saat ini tidak merasa khawatir. Karena Android sendiri secara konseptual menerapkan open platform, ujar Alino yakin. Tapi memang tidak tertutup kemungkinan kalau misalnya nanti Android dibatasi, bisa saja kami pindah ke Windows atau menggunakan OS yang lain. Namun sementara ini sih tidak, karena komitmen kami masih di Android. Dan Google sendiri sudah berulangkali menyatakan tetap mengadopsi open platform.

Kedepannya bagaimana Anda melihat peta kekuataan di industri telko? Dan SE sendiri sekarang di pasar Android Indonesia berada diposisi berapa sih?

Kedepan saya melihat di industri telko akan terjadi banyak konsolidasi, karena pemain-pemain besar seperti Nokia, SE, Samsung harus terus melakukan terobosan untuk bisa beradaptasi. Menurut saya, peta kekuatan ke depan, khususnya pada pasar smartphone dunia tetap ada di tiga pemain besar yakni Android, iPhone, dan Windows. Sementara RIM bisa kita masukan kalau bicara untuk pasar Indonesia. Kenapa saya melihat tiga pemain tadi? Sebab iPhone pasarnya sudah sangat kuat, Android pertumbuhannya luar biasa, Windows dengan teknologi dan pasar yang dimilikinya akan sangat berpotensi dengan menggandeng Nokia.

Untuk pasar ponsel Android di Indonesia, kita sekarang ada di posisi kedua setelah Samsung. Kita pada awal tahun ini sempat menjadi nomor satu, tapi akhirnya tersusul Samsung yang sekarang pada posisi nomor satu. Karena memang jumlah produk Samsung lebih banyak, sementara produk SE lebih terbatas karena tidak semua segmen dimasuki. Tapi sesuai dengan target global, kami akan merebut posisi tersebut karena SE harus menjadi pemain nomor satu dunia di Android, ucap pria kelahiran Daruba, Maluku Utara, 25 September 1970 itu dengan semangat.

Banyak vendor smartphone sekarang terjun memproduksi tablet Android. SE apakah juga ada rencana akan membuat tablet?

Sampai sekarang belum kelihatan rencana kearah sana karena memang untuk saat ini belum ada komitmen ke tablet. Tapi tidak tahu kalau tahun depan SE juga akan membuat tablet. Kita lihat saja, karena memang trendnya sekarang banyak vendor ponsel yang juga membuat tablet. Karena sekarang memang kalau dilihat perkembangannya, saat ini sudah kabur antara tablet dengan smartphone layar besar. Sekarang saja sudah ada ponsel yang layarnya 4,3 inci, sementara tablet terkecil berukuran 5 inci. Ini kan perbedaannya sudah sangat tipis, kelihatan sudah hampir sama ukurannya, ujar penggemar traveling itu.

Sekarang sudah ada beberapa vendor yang mengeluarkan ponsel LTE. SE sendiri kedepannya bagaimana, apakah juga akan memasukan ponsel LTE ke Indonesia?

Soal LTE masih belum banyak info yang saya terima. Tapi yang jelas Ericsson sendiri adalah pioneer teknologi LTE. Kita sih kalau memang di Indonesia sudah siap dijalankan, produk kami juga sudah siap. Tapi sampai sekarang Indonesia belum ada tanda-tanda siap menggelar LTE. Karena kalau dari informasi terakhir yang saya baca, penerapan bandwidth-nya saja masih belum jelas. Pemerintah sekarang masih mesti ngatur bandwidth dulu, masih harus geser sana geser sini baru bisa jalan¦hahaaa, ucap Alino sambil tertawa lepas.

Jadi intinya, sekarang posisi SE tinggal menunggu saja lisensinya keluar, karena sampai sekarang pun lisensinya belum keluar. Dan kami perkirakan paling cepat dua tahun lagi baru mungkin LTE bisa siap jalan di sini. Karena kalau mau jujur, teknologi sebelumnya seperti 3G dan HSDPA pun masih belum terlalu kuat di Indonesia, karena kondisi jaringannya kita lihat aja nih..masih naik turun tidak stabil, ujarnya sambil menunjukan ponselnya yang kehilangan sinyal

Dengan penetrasi di Android yang begitu besar, dan saat ini berada pada posisi nomor dua di Android. Target SE secara global apa?

Target global kita adalah menjadi nomor satu dunia di Android tahun 2015. Hal ini sesuai dengan yang pernah diungkapkan sendiri oleh CEO SE, Bert Nordberg, yang mengatakan target global market SE di tahun 2015 akan menjadi pemain nomor satu dunia di Android. Dan memang bukan cuma sekedar ucapan saja, tapi berbagai upaya untuk mencapai target tersebut sudah dilakukan SE. Seperti misalnya komitmen di Android cukup besar, lalu R&D kita juga sudah dipindahkan mendekat ke Silicon Valley sehingga lebih dekat ke kantor Google. Tapi bukan hanya itu, kita juga akan memanfaatkan kelebihan kita yang memiliki brand yang kuat.

Sony Ericsson sendiri sebenarnya pernah menjadi merek ponsel Android nomor satu di Indonesia berdasarkan riset Growth for Knowledge. Riset tersebut dilakukan di 28 kota besar di Indonesia selama periode Oktober-Desember 2010 dan Januari 2011. Pencapaian ini tentu saja tidak lepas dari karyawan kami yang solid dalam menjalankan pelbagai aktivitas pemasaran dan branding. Pokoknya, kami ingin menjadi nomor satu di Android dengan memberikan produk yang bisa menghibur sekaligus bisa berkomunikasi atau the most entertaining smartphones, pungkas Alino menutup perbincangannya. [Hardianto Bayu. S]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0