📑 Daftar Isi

Protestors march at the Utah State Capital Building in opposition to a data center

Masyarakat AS Makin Menolak Data Center, Ini Cara Melawannya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tujuh dari 10 warga Amerika menentang pembangunan data center di dekat rumah mereka
  • Pengeluaran konstruksi data center mencapai $50 miliar, melampaui belanja transportasi publik
  • NAACP menggugat xAI (SpaceXAI) atas pengoperasian 27 turbin gas metana ilegal di Memphis
  • Kebisingan data center mencapai 65 desibel, melebihi batas rekomendasi EPA sebesar 55 desibel
  • Strategi efektif: advokasi peraturan tata guna lahan, special-use permit, dan pemantauan kepatuhan
  • 75 proyek senilai $130 miliar terganggu oleh oposisi lokal pada Q1 2026
  • NDA menjadi tantangan utama transparansi pembangunan data center
  • Pemerintah federal AS diprediksi menjadi hambatan besar bagi gerakan perlawanan

Telset.id – Gelombang penolakan terhadap pembangunan data center di Amerika Serikat semakin menguat. Data terbaru menunjukkan, tujuh dari sepuluh warga Amerika kini menentang pembangunan fasilitas tersebut di dekat rumah mereka, mendorong komunitas lokal dan politisi untuk bersatu melawan ekspansi raksasa teknologi seperti Oracle dan Google.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Pengeluaran untuk konstruksi data center pada April lalu telah menembus angka $50 miliar, menandai pertama kalinya belanja infrastruktur cloud melampaui pembangunan transportasi publik baru di AS. Perubahan prioritas yang drastis ini memicu kekhawatiran luas tentang dampak lingkungan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Dampak Nyata yang Dirasakan Warga

Kekhawatiran masyarakat bukan sekadar isu abstrak. Sebuah jajak pendapat dari Heatmap Pro menemukan bahwa mayoritas warga Amerika menilai data center berdampak negatif pada lingkungan, biaya energi rumah tangga, dan kualitas hidup. Abre’ Conner, direktur NAACP’s Center for Environmental and Climate Justice, menyoroti masalah kualitas udara sebagai concern utama.

“Biasanya semua fasilitas itu memiliki generator diesel cadangan,” jelas Conner. “Banyak dari mereka menggunakan sumber energi apa pun yang tersedia agar bisa online secepat mungkin, dan seringkali itu bukan sumber energi bersih dan terbarukan.”

An aerial view of an under construction data center in Virginia.

Pada April lalu, NAACP bersama Earthjustice dan Southern Environmental Law Center (SELC) menggugat xAI, yang kini dikenal sebagai SpaceXAI setelah merger dengan SpaceX. Mereka menuding perusahaan tersebut mengoperasikan 27 turbin gas metana secara ilegal untuk menggerakkan pusat data Colossus 2 di South Memphis. Turbin-turbin itu berpotensi memancarkan lebih dari 1.700 ton nitrogen oksida (NOx) pembentuk kabut asap setiap tahunnya.

Selain polusi udara, kebisingan juga menjadi masalah serius. Jason Haley, warga yang tinggal dalam radius satu mil dari fasilitas Colossus 2, mengukur suara berkisar di pertengahan 50 desibel yang menembus hingga ke dalam rumahnya. Ia menggambarkan suara itu “seperti bentuk penyiksaan”. Di Manassas, Virginia, warga merekam dengungan konstan yang mencapai 65 desibel, jauh di atas batas rekomendasi EPA sebesar 55 desibel untuk area luar ruangan.

Strategi Perlawanan yang Efektif

Meski menakutkan, perlawanan bukanlah hal yang mustahil. Amanda Garcia, senior attorney dan pemimpin proyek data center di SELC, menekankan pentingnya memulai advokasi sejak dini. “Salah satu hal pertama yang kami sarankan, bahkan sebelum ada proposal, adalah memastikan peraturan tata guna lahan lokal mewajibkan pemberitahuan dan masukan dari komunitas di awal,” ujarnya.

A town hall meeting where protestors display 'No Data Center' signs.

Komunitas seperti Birmingham, Alabama, berhasil mendorong persyaratan izin khusus (special-use permitting) yang memaksa perusahaan mendapatkan otorisasi khusus untuk membangun data center. Garcia merekomendasikan pendekatan “both-and”: memiliki guardrail spesifik dan juga mewajibkan izin khusus, terutama untuk data center besar.

“Kami menyarankan orang-orang untuk datang sebagai front yang bersatu, memastikan perusahaan tidak bisa memecah belah satu bagian komunitas melawan bagian lainnya,” tambah Conner. “Kami juga menyarankan, jika terasa semuanya bergerak terlalu cepat, dorong untuk jeda agar orang bisa membuat keputusan yang tepat.”

Data Center Watch mencatat bahwa pada kuartal pertama 2026, ada 75 proyek senilai sekitar $130 miliar yang terganggu atau diblokir oleh oposisi lokal. “Kuartal tersebut mencerminkan pergeseran struktural, bukan lonjakan siklikal: komunitas telah menginternalisasi playbook oposisi,” tulis organisasi tersebut.

Melawan Kerahasiaan Korporat

Salah satu tantangan terbesar adalah melawan penggunaan perjanjian non-disclosure (NDA) yang melindungi proyek dari pengawasan publik. Garcia menyarankan komunitas untuk menekan pejabat terpilih agar tidak menandatangani NDA atau mengadvokasi kebijakan lokal yang mencegah penggunaannya.

“Kami sering mendengar dari komunitas bahwa informasi tentang potensi dampak fasilitas tidak dibagikan di awal,” kata Garcia. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan seringkali datang melalui litigasi atau ancaman litigasi untuk mendapatkan akses informasi.

Masa depan perlawanan data center menghadapi tantangan besar dari pemerintah federal. Dalam AI Action Plan, pemerintahan Trump menyatakan AS harus “membangun dan memelihara infrastruktur AI yang luas dan energi untuk menggerakkannya.” Di Memphis, intervensi pemerintah federal dalam gugatan NAACP terhadap xAI atas dasar keamanan nasional menjadi preseden yang mengkhawatirkan.

Meski demikian, Aya Ibrahim dari AI Now Institute tetap optimis. “Rasanya mustahil sampai akhirnya tidak mustahil, dan kita tidak punya pilihan selain mencari jalan keluarnya,” pungkasnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.