Masker Snorkeling ‘Disulap’ Jadi Ventilator untuk Pasien Corona

Masker Snorkeling

Telset.id, Jakarta  – Setelah menyebar berita bahwa perusahaan inovasi asal Italia, Isinnova, berhasil menyelamatkan nyawa dengan katup ventilator cetak 3D untuk rumah sakit lokal, kini muncul inovasi lainnya berupa masker snorkeling  yang ‘disulap’ jadi ventilator untuk pasien Corona.

CEO Cristian Fracassi dan insinyur Alessandro Romaioli menerima tawaran. Banyak perusahaan percetakan 3D ingin bergabung dan membantu.

Beberapa negara bahkan berminat menggunakan teknologi serupa untuk menangani hal serupa. Tapi, sebuah proyek baru hadir dari seorang staf Isinnova di Brescia, wilayah di Italia utara.

{Baca juga: Italia, Inggris dkk Lacak Smartphone untuk Setop Corona}

Renato Favero, seorang dokter pensiunan, menghubungi Fracassi dan Romaioli. Favero menyadari kekurangan masker Tekanan Saluran Udara Positif Kontinu atau CPAP untuk pasien perawatan sub-intensif yang menderita virus corona atau positif Covid-19.

Menurut situs National Heart, CPAP adalah perawatan menggunakan tekanan udara ringan untuk menjaga saluran pernapasan tetap terbuka. Caranya melibatkan penggunaan mesin CPAP yang mencakup masker atau perangkat lain yang pas di hidung.

Seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Senin (30/3/2020), Romaioli mengatakan bahwa Favero mengusulkan ide membuat “topeng ventilator darurat” dengan memodifikasi masker snorkeling yang tersedia untuk umum. Ide tersebut pun ditindaklanjuti.

Tim menghubungi Decathlon, pengecer barang olahraga Prancis, untuk menanyakan tentang masker snorkeling. Isinnova mengatakan bahwa Decathlon segera menyediakan desain dengan bantuan komputer 3D untuk menyediakan masker jenis tersebut.

Dengan begitu, para insinyur dapat dengan mudah modifikasinya. Berbeda dengan ventilator penuh, yang bernapas baik dalam maupun luar untuk pasien, Romaioli menjelaskan bahwa mesin CPAP tersebut mengatur tekanan dan tingkat oksigen ke paru-paru.

{Baca juga: Malaysia Bikin APD untuk Petugas Medis Pakai Printer 3D}

“Dari awal hingga selesai, proyek ini hanya memakan waktu tiga hari. Setelah menganalisis, kami mengukur, mencetak 3D, dan menguji berbagai opsi. Kami harus melakukannya dengan sangat cepat karena menyangkut penyelamatan nyawa orang,” kata Romaioli. [SS/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here