Manik-manik Kaca Bisa Hentikan Pencairan Es Kutub Utara?

Telset.id, Jakarta – Es di Kutub Utara mencair dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seorang insinyur pun berpikir bisa menyelamatkannya dengan menggunakan jutaan manik-manik kaca.

Organisasi nirlaba Ice911 mengusulkan untuk “menyelimuti” Kutub Utara dengan manik-manik kaca sehingga akan membentuk lapisan pelindung dan memantulkan kembali cahaya panas matahari.

{Baca juga: Malam Ini Saturnus Bisa Terlihat dengan Mata Telanjang}

Menurut New York Post, seperti dikutip Telset.id, Kamis (31/10/2019), hasil analisa para ahli menguak fakta bahwa Kutub Utara telah kehilangan 75 persen volume es selama empat dekade terakhir.

Peristiwa tersebut berkontribusi kepada naiknya permukaan laut. Sayang, upaya untuk mencegah banyak pantulan kembali sinar matahari ke ruang angkasa gagal karena lapisan es banyak mencair.

Namun, Leslie Field, pendiri Ice911, berpendapat bahwa gagasan tentang manik-manik kacara dapat membantu mengatasinya. “Kami perlu memperlambat jam perubahan iklim,” ujarnya kepada media.

Manik-manik kaca berukuran sangat  kecil yang diusulkan Field tampak seperti butiran pasir. Mereka terbuat dari senyawa yang disebut silika, yang dikatakan tidak berbahaya bagi manusia dan hewan.

Bahannya dideskripsikan seperti salju dan bisa mengambang. Manik-manik silika telah dirancang oleh para insiyur untuk melekat di lapisan es dan air dan tidak akan menarik polutan berbasis minyak.

Ice911 berpikir bahwa manik-manik kaca dapat mengembalikan reflektifitas es dan membantu menurunkan suhu hingga 1,5 derajat jika dipakai untuk menutupi sebagian besar Kutub Utara.

{Baca juga: Duh! Peneliti Temukan Sampah Plastik di Kutub Utara}

Ngomong-ngomong soal Kutub Utara, sebelumnya pencemaran lingkungan akibat sampah plastik juga diketahui menjadi semakin mengkhawatirkan.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa para peneliti telah menemukan mikroplastik di kawasan ini, atau tepatnya di Samudra Arktik.

Dilansir Telset.id dari Engadget, peneliti menemukan konsentrasi plastik dalam es yang mengapung di Selat Fram yang menghubungkan antara Samudra Arktik dan Samudra di seluruh dunia.

Laporan tersebut diterbitkan di Science Advances. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Melanie Bergmann dari Alfred Wegener Institute for Polar and Marine Research. [SN/IF]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here